Nikah/Keluarga

Merawat Sanad Keilmuan melalui Silaturahmi Guru di Hari Raya

Senin, 23 Maret 2026 | 19:00 WIB

Merawat Sanad Keilmuan melalui Silaturahmi Guru di Hari Raya

Ilustrasi santri silaturahmi ke kiai. Gambar hasil generatif dari Nano Banana AI.

Di tengah hiruk-pikuk menyambung silaturahmi keluarga di hari raya, sering kali ada sosok penting yang terlupakan, yaitu para guru ngaji, ustadz, kiai, atau guru sekolah kita. Padahal, mereka adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang menanamkan fondasi moral dan keilmuan dalam kehidupan kita.


Idul Fitri sejatinya mengandung momentum krusial untuk memperkuat hubungan sosial, termasuk para pendidik. Sering kali kita menganggap bahwa mengunjungi guru hanya sebatas formalitas tahunan, padahal aktivitas ini adalah wujud nyata dari pengamalan anjuran Rasulullah saw mengenai keutamaan menyambung tali silaturahmi:


مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ


Artinya: “Barangsiapa yang menginginkan rezekinya ditambah dan umurnya diperpanjang, hendaklah ia menjaga silaturahmi.” (HR Bukhari dan Muslim).


Guru dalam Tradisi Islam: Lebih dari Pengajar 

Posisi guru dalam tradisi keilmuan Islam sangatlah mulia. Mereka tidak hanya bertugas sebagai pentransfer ilmu pengetahuan, melainkan juga sebagai pembentuk akhlak dan karakter muridnya. Oleh karena itu, Islam memandang para guru dan ulama sebagai penerus tongkat estafet perjuangan para nabi. Rasulullah SAW bersabda:


وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ، وَإِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا، وَلَا دِرْهَمًا وَرَّثُوا الْعِلْمَ، فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ


Artinya: “Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi, dan para nabi tidak mewariskan dinar atau dirham; mereka mewariskan ilmu. Barangsiapa yang mengambilnya, ia akan memperoleh bagian yang melimpah.” (HR Abu Dawud).


Atas dasar keilmuan dan statusnya sebagai pewaris para nabi, guru selalu ditempatkan pada maqam yang tertinggi. Imam Abu Hamid al-Ghazali menilai derajat guru bahkan melebihi orang tua biologisnya. Sebab, gurulah yang mengantarkan seseorang untuk memahami pengetahuan akhirat:


حَقُّ الْمُعَلِّمِ أَعْظَمُ مِنْ حَقِّ الْوَالِدَيْنِ؛ فَإِنَّ الْوَالِدَ سَبَبُ الْوُجُودِ الْحَاضِرِ وَالْحَيَاةِ الْفَانِيَةِ، وَالْمُعَلِّمَ سَبَبُ الْحَيَاةِ الْبَاقِيَةِ


Artinya, “Hak seorang guru lebih besar daripada hak kedua orang tua; karena sesungguhnya orang tua adalah sebab adanya keberadaan anak di dunia saat ini dan kehidupan yang fana, sedangkan guru adalah sebab bagi kehidupan akhirat yang kekal.” (Ihya 'Ulumiddin, [Beirut: Dar Al-Ma’rifah, tt], juz I, halaman 55)


Untuk itu, menghormati guru merupakan kunci utama untuk meraih keberkahan dan kemanfaatan ilmu. Hal ini secara tegas dinyatakan oleh Syekh Burhanuddin al-Zarnuji:


اعْلَمُ أَنَّ طَالِبَ الْعِلْمِ لَا يَنَالُ الْعِلْمَ وَلَا يَنْتَفِعُ بِهِ إِلَّا بِتَعْظِيمِ الْعِلْمِ وَأَهْلِهِ، وَتَعْظِيمِ الْأُسْتَاذِ وَتَوْقِيرِهِ


Artinya, "Ketahuilah bahwa seorang penuntut ilmu tidak akan memperoleh ilmu dan tidak akan dapat mengambil manfaat darinya (keberkahan), kecuali dengan mengagungkan ilmu dan ahli ilmu, serta mengagungkan dan menghormati gurunya." (Ta'lim al-Muta'allim, [Khartoum: Dar Sudaniyyah, 2004], halaman 25).


Demikianlah, ilmu yang berkah adalah ilmu yang tidak hanya mengendap di kepala, melainkan tercermin dalam perilaku dan kemanfaatannya bagi alam semesta.


Adab Murid terhadap Guru dalam Tradisi Ulama

Para ulama salafus saleh telah memberikan keteladanan luar biasa mengenai adab terhadap seorang guru. Sayyidina Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah, pernah melontarkan sebuah ungkapan masyhur yang menggambarkan betapa tingginya rasa hormat seorang murid:


أنا عبد لمن علمني حرفًا واحدًا


Artinya, “Aku adalah hamba bagi orang yang mengajariku satu huruf.” (Ta'lim al-Muta'allim, [Khartoum: Dar Sudaniyyah, 2004], halaman 25).


Dalam konteks tradisi pesantren di Nusantara, ungkapan Sayyidina Ali ini dipraktikkan secara nyata melalui budaya sowan atau berkunjung kepada kiai. Sowan merupakan rutinitas moral dan upaya batin seorang santri untuk meminta doa, memohon rida, serta menjaga tali silaturahmi agar senantiasa tersambung meski masa pendidikan formal di pesantren telah usai.


Hadratussyekh KH Hasyim Asy'ari menjelaskan bahwa kesuksesan seorang murid sangat dipengaruhi oleh bagaimana ia memuliakan gurunya. Beliau menuturkan:


أنْ يَنْظُرَ إِلَيْهِ بِعَيْنِ الْإِجْلَالِ وَالتَّعْظِيمِ، وَيَعْتَقِدَ فِيهِ دَرَجَةَ الْكَمَالِ؛ فَإِنَّ ذَلِكَ أَقْرَبُ إِلَى نَفْعِهِ. سَمِعْتُ السَّلَفَ يَقُولُونَ: مَنْ لَا يَعْتَقِدُ جَلَالَةَ أُسْتَاذِهِ لَا يُفْلِحُ


Artinya, “Hendaknya ia (murid) memandang gurunya dengan pandangan penuh rasa hormat dan pengagungan, serta meyakini bahwa gurunya memiliki derajat kesempurnaan dalam ilmunya; karena sesungguhnya hal itu lebih dekat pada kemanfaatan baginya. Aku mendengar para ulama salaf berkata: Barangsiapa yang tidak meyakini keagungan gurunya, maka ia tidak akan beruntung.” (Adab al-'Alim wa al-Muta'allim, [Jombang: Maktabah at-Turats al-Islamiy, tt], halaman 30).


Penjelasan tersebut menegaskan bahwa penghormatan tidak hanya berlaku saat santri masih mukim di pesantren, tetapi juga merupakan sebuah ikatan yang harus dirawat sepanjang hayat.


Merawat Sanad Melalui Momentum Lebaran

Menjadikan Hari Raya Idul Fitri sebagai momentum silaturahmi kepada guru membawa banyak nilai spiritual dan sosial, di antaranya:

 

Pertama, mengingat jasa guru. Kunjungan ini adalah bentuk pengingat bahwa kita tidak akan mencapai titik kesuksesan saat ini tanpa bimbingan, didikan, dan kesabaran mereka sejak kita masih kecil.


Kedua, menghidupkan adab murid. Mengunjungi guru adalah manifestasi paling konkret dari adab. Menjaga tata krama kepada pendidik merupakan prasyarat mutlak turunnya keberkahan atas ilmu yang telah dipelajari.


Ketiga, mengambil doa dan keberkahan. Dalam tradisi keilmuan pesantren, doa seorang guru atau kiai diyakini mustajab dan membawa barokah untuk bekal mengarungi kehidupan yang penuh tantangan.


Sayangnya, tantangan saat ini adalah terjadinya pergeseran nilai di era modern. Sering kali, hubungan antara murid dan guru direduksi menjadi sebatas ikatan transaksional dan pragmatis. Ketika masa sekolah atau kuliah selesai, maka selesai pula hubungan tersebut.

 

Padahal, dalam tradisi keilmuan Islam, hubungan guru dan murid adalah hubungan sanad keilmuan yang bersifat spiritual dan abadi. Di sinilah letak urgensi menjaga tradisi silaturahmi, agar kita terhindar dari krisis adab yang kerap melanda masyarakat modern.


Silaturahmi kepada guru dan kiai saat Lebaran lebih dari tradisi sosial tahunan. Ia adalah wujud rasa syukur kepada para pewaris ilmu nabi, bentuk nyata adab penuntut ilmu, sekaligus jalan tol untuk merawat keberkahan ilmu itu sendiri. Dengan senantiasa menyambung silaturahmi kepada guru, pada hakikatnya kita sedang menjaga mata rantai sanad keilmuan Islam agar tidak terputus hingga ke generasi mendatang. Wallahu a'lam.

 

Agung Nugroho Reformis Santono, Mahasiswa Pendidikan Kader Ulama Masjid Istiqlal Jakarta.