Hampir 10 Tahun Cuci Darah, KH Asyhari Abta Tetap Berdakwah hingga Akhir Hayat
Rabu, 30 September 2026 | 09:00 WIB
Jakarta, NU Online
Hampir satu dekade menjalani cuci darah tidak membuat KH Asyhari Abdullah Tamrin atau KH Asyhari Abta berhenti mengabdikan diri untuk umat. Di tengah kondisi kesehatan yang tidak mudah, ulama kharismatik asal Yogyakarta itu tetap mengajar, mengasuh pesantren, menghadiri kegiatan Nahdlatul Ulama (NU), dan berdakwah hingga akhir hayat.
KH Asyhari Abta meninggal dunia pada usia 74 tahun, Kamis (24/9/2026) pukul 04.01 WIB di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr. Sardjito, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Pengasuh Pondok Pesantren Krapyak, Yogyakarta, KH Hilmy Muhammad (Gus Hilmy), yang juga salah satu murid Kiai Asyhari, mengenal sosok tersebut sejak masih kecil. Menurutnya, Kiai Asyhari telah menjadi bagian dari lingkungan Krapyak sejak dahulu dan dikenal sebagai guru yang disegani.
“Saya menemui beliau sejak saya masih kecil, saya masih kecil atau SD, beliau itu sudah guru yang disepuhkan,” ujarnya saat dihubungi NU Online, Senin (28/9/2026).
Gus Hilmy mengenang, kiprah dakwah Kiai Asyhari bahkan sudah terlihat sejak muda. Saat para santri mengikuti kegiatan musyawarah pada malam hari, Kiai Asyhari justru kerap berada di luar pesantren untuk mengisi pengajian.
“Dari muda. Saya ingat kalau urusan sekolah itu pagi hari. Kalau urusan malam hari itu beliau dakwah ke desa-desa, kalau malam hari kan kegiatannya musyawarah itu ada guru yang mengawasi kita, dan saya lihat Pak Kiai Asy'ari itu enggak bimbing kita di musyawarah. Karena malam, beliau selalu pergi-pergi untuk ngisi pengajian, dakwah,” tuturnya.
Sebagai dai, KH Asyhari berkeliling ke berbagai pelosok desa. Ia menginisiasi dan mengampu banyak majelis ketika memimpin Korps Dakwah Mahasiswa (Kodama) di Kabupaten Bantul. Ia juga memiliki pengajian rutin di Muntilan, Magelang, serta bertahun-tahun menjadi badal almarhum KH Mufid Mas’ud ketika berhalangan dan mendampingi almarhum KH Atabik Ali dalam pengajian Jumat Legi di Krapyak.
Ceramahnya dikenal ringan dan renyah, tetapi tetap sarat dengan ajaran akhlak dan Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Gus Hilmy menyebut Kiai Asyhari banyak mengutip pengajaran Pendiri Yayasan Ali Maksum Pondok Pesantren Krapyak sekaligus Rais ‘Aam PBNU periode 1981-1984, KH Ali Maksum, sosok yang sangat diidolakannya.
“Beliau itu mengidolakan, KH Ali Maksum atau Mbah Ali, karena beliau didikan langsung Kiai Ali dan ketika ceramah itu sering menyebut Mbah Ali. Materi-materi ceramah yang disampaikan juga dari materi-materi yang diajarkan oleh Mbah Ali, ceramahnya itu mesti tidak berat, sesuatu yang ringan-ringan, karena kebanyakan orang awam. sehingga yang harus disampaikan sesuatu yang ringan, sesuatu yang mudah dipahami,” ujarnya.
Di Krapyak, Kiai Asyhari juga mengajar sejumlah ilmu, termasuk Ilmu Nahwu, Ushul Fiqh, dan berbagai kitab akhlak. Ia bertahun-tahun menjadi Wakil Kepala Madrasah Aliyah Krapyak sebelum kemudian dipercaya menjadi kepala madrasah. Setelah itu, Gus Hilmy diminta mendampinginya sebagai wakil kepala madrasah.
Kondisi kesehatan Kiai Asyhari mulai mengharuskannya menjalani cuci darah sejak 2016. Namun, menurut Gus Hilmy, keadaan tersebut tidak membuat aktivitas dakwahnya surut.
“Kondisi kesehatan beliau mulai cuci darah 2016. Jadi kurang lebih 10 tahun beliau cuci darah dan beliau sangat-sangat kuat. Meskipun cuci darah sedemikian rupa tapi beliau masih aktif. Beliau hari-hari itu enak dan nyaman, tidak merasa beban, Makan dan minum juga biasa,” ungkapnya.
Setelah tidak lagi menjadi Kepala Madrasah Aliyah Krapyak, Kiai Asyhari lebih banyak tinggal di Sleman dan membesarkan pesantren rintisan yang diberi nama Pesantren Tegalsari, sesuai nama dusun tempat tinggalnya di Desa Wedomartani, Ngemplak, Sleman.
Di pesantren tersebut, ia mengasuh mahasiswa sekaligus membuka pengajian bagi para kasepuhan dan tokoh masyarakat, khususnya di Sleman. Bahkan setelah menetap di Sleman dan bertahun-tahun menjalani cuci darah, ia tetap memiliki jam mengajar di Madrasah Aliyah Krapyak.
Dalam organisasi NU, Kiai Asyhari pernah menjadi Rais Syuriah PCNU Bantul periode 1996-2000 dan 2001-2005. Ia kemudian dipercaya menjadi Rais Syuriah PWNU DIY periode 2006-2011 dan 2012-2016. Pada periode 2022-2027, ia menjabat sebagai Mustasyar PWNU DIY.
Semangat tersebut tetap terlihat menjelang akhir hayatnya. Dalam kondisi kesehatan yang sudah menurun, Kiai Asyhari masih menghadiri Muktamar Ke-35 NU di Jombang, Jawa Timur. Ia juga masih mengisi pengajian rutin terakhir pada Sabtu yang diikuti para kiai dan tokoh NU Sleman dan sekitarnya.
“Di saat pagi beliau masih mengaji, dan siang itu pula beliau sudah harus masuk ICU RSUP Sardjito,” kata Gus Hilmy.
Gus Hilmy menyampaikan bahwa keteguhan memperjuangkan dakwah Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan NU menjadi teladan yang perlu diteruskan.
“Satu hal penting yang menjadi pelajaran dan iktibar bahwa dalam perjuangan kita jangan mudah mengeluh dan putus asa. Satu dua kesulitan jangan dianggap sebagai rintangan, tapi justru dihadapi sebagai tantangan untuk mewujudkannya,” pungkasnya.