Dalam riwayat Imam Bukhari kata "tetangga" berbunyi "saudara" (akh). Hadits ini menunjukkan betapa pentingnya memperhatikan hak tetangga atau saudara sesama. Hal itu dibuktikan dengan pilihan redaksi hadits yang digunakan Rasulullah "lâ yu’minu" (tidak beriman) lalu diikuti syarat untuk memenuhi kesempurnaan iman tersebut dengan berbuat kasih sayang kepada sesama semaksimal mungkin. Hadits ini juga menampilkan pesan secara tegas bahwa hal-hal yang bersifat teologis (keyakinan/iman) seseorang tak bisa dilepaskan begitu saja dengan perilaku keseharian.