Kultum Ramadhan: Memaksimalkan Doa 10 Malam Terakhir
NU Online · Ahad, 15 Maret 2026 | 03:00 WIB
Syifaul Qulub Amin
Kolomnis
10 malam terakhir bulan Ramadhan adalah momen sangat istimewa bagi setiap umat Muslim di seluruh dunia. 10 malam terakhir, selain disebut-sebut menjadi waktu turunnya al-Qur'an dari Lauhul Mahfuz ke langit dunia pada malam Lailatul Qadar, juga memiliki nilai lebih dibandingkan dengan malam-malam sebelumnya.
Karena itu, bagi segenap umat Islam sangat tepat memaksimalkan doa dan istighfar pada malam tersebut, berdoa semoga ibadah puasa dan amal-amal kebaikan lainnya diterima di sisi Allah SWT dan semua hajat dikabulkan dalam bentuk terbaiknya, serta memperbanyak beristighfar kepada-Nya atas segala kesalahan dan kemaksiatan yang telah kita perbuat, baik yang sengaja maupun yang tidak.
Berdoa pada 10 malam terakhir dari bulan Ramadhan tidak hanya bisa kita lakukan setelah melakukan shalat fardhu, shalat tarawih, saat i'tikaf, tapi bisa juga kita wujudkan dalam bentuk kehatian-hatian dalam berucap atau saat berkomunikasi dengan teman tongkrongan, kerabat, tetangga, atau orang lain.
Apalagi keadaan kita sedang melaksanakan ibadah puasa dan berada di bulan suci Ramadhan, kehatian-hatian berucap atau berkomunikasi itu harus lebih kita tingkatkan. Sebab, setiap kalimat yang keluar dari lisan kita merupakan bagian dari doa. Imam Ibnu Hajar al-Haitami mengatakan:
إِنَّ مَبْدَأَ إِرَادَةِ الدُّعَاءِ الْقَلْبُ، ثُمَّ تَفِيضُ تِلْكَ الْإِرَادَةُ عَلَى اللِّسَانِ فَيَنْطِقُ بِهِ
Artinya: “Sungguh sumber keinginan berdoa adalah hati, kemudian keinginan itu meluap ke lisan dan lisan pun mengucapkannya.” (Al-Fathul Mubin bi Syarhil Arbain, [Arab Saudi: Darul Minhaj, 2008], halaman 290).
Penjelasan Imam Ibnu Hajar al-Haitami mengisyaratkan antara hati sebagai sumber doa dan pengharapan, serta lisan sebagai alat penegasnya yang merupakan satu kesatuan.
Memaksimalkan doa setelah shalat dan waktu yang dianjurkan lainnya, atau di masjid saat i'tikaf dan tempat istijabah penting untuk ditingkatkan pada 10 terakhir dari bulan Ramadhan. Akan tetapi, berdoa dengan wujud menjaga perkataan kotor, menjaga pembicaraan yang dapat menyakiti hati orang, dan ucapan negatif lainnya tidak kalah penting untuk ditingkatkan.
Perintah Berdoa dan Kenapa Manusia Perlu Berdoa?
Perintah untuk berdoa termaktub dalam beberapa ayat al-Qur'an. Di antaranya dalam Surat Ghafir ayat 60. Allah swt berfirman:
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْٓ اَسْتَجِبْ لَكُمْۗ اِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِيْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيْنَ
Artinya: "Tuhanmu berfirman, 'Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu (apa yang kamu harapkan). Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri tidak mau beribadah kepada-Ku akan masuk (neraka) Jahanam dalam keadaan hina dina.”
Lalu kenapa perlu berdoa? Jawab sederhana. Bayangkan jika kita diperintah untuk meminta sesuatu oleh atasan kita di tempat kerja, misalnya, tapi kita tidak menanggapi, dan malah mengabaikannya. Tindakan seperti ini jelas menandakan ketidaksopanan dan kesombongan diri. Padahal hanya diperintah meminta sesuatu darinya, bukan diperintah untuk melakukan sesuatu.
Begitu juga saat Allah swt memerintah kepada hamba-Nya untuk berdoa, lalu tidak berdoa. Maka tindakan tersebut menandakan kepongahan yang nyata.
Syekh Nawawi Banten saat menafsirkan ayat ini, mendefinisikan doa dengan sebuah pengakuan penghambaan dan ketundukan dari setiap manusia. Maka, jika ada manusia yang enggan untuk berdoa ia dikategorikan sombong karena tidak mau menampakkan kehambaan, sebagaimana penjelasan berikut ini:
فَالدُّعَاءُ اِعْتِرَافٌ بِالْعُبُودِيَّةِ وَالذِّلَّةِ، فَكَأَنَّهُ قِيلَ: إِنَّ تَارِكَ الدُّعَاءِ إِنَّمَا تَرَكَهُ لِأَجْلِ أَنْ يَسْتَكْبِرَ عَنْ إِظْهَارِ الْعُبُودِيَّةِ
Artinya: “Doa merupakan pengakuan penghambaan dan ketundukan. Maka, seolah-olah dikatakan, orang yang enggan berdoa sejatinya ia meninggalkan doa karena kesombongan dirinya karena enggan menampakkan kehambaannya.” (Marahul Labid, [Beirut: Darul Kutub Ilmiyyah], jilid II, halaman 362).
Berdoa merupakan penegasan dari kelemahan, ketundukan, kebutuhan, serta kehambaan kepada Allah. Hal itu tidak hanya bisa diwujudkan dalam bentuk pengharapan dikabulkan hajat-hajat kita di masjid atau tempat istijabah, tapi juga bisa dalam bentuk kehatian-hatian dalam menjaga lisan kita.
Mengapa Harus Memperbanyak Istighfar?
Salah satu perintah beristighfar termaktub dalam Surat Al-Baqarah ayat 199. Allah swt berfirman:
وَاسْتَغْفِرُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
Artinya: "Dan mohonlah ampunan kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
Mengapa harus memperbanyak istighfar? Selain ada perintah untuk beristighfar dan istighfar berfungsi sebagai penebus dosa yang kita lakukan di masa lampau, ia juga bisa menjadi jalan keluar atau solusi dari setiap kesulitan yang sedang menimpa kita. Inilah alasan mengapa kita perlu memperbanyak istighfar.
Misalnya kita sedang tertimpa kegundahan karena konflik rumah tangga, maka di samping berusaha memperbaikinya dengan ikhtiar lahir dengan duduk bareng dan berkomunikasi baik-baik, ikhtiar-ikhtiar batin juga bisa kita lakukan. Salah satunya memperbanyak istighfar ini. Sebab, istighfar juga berfungsi menghilangkan kegundahan hati.
Karena itu, beristighfar bagi setiap hamba-Nya adalah sebuah keniscayaan dan memperbanyak Istighfar sangat dianjurkan.
Seorang yang melanggengkan istighfar akan mendapatkan sebuah solusi dari setiap kesulitan yang menimpanya, kegundahan yang menghampirinya, serta akan diberikan rezeki yang ia tidak duga, termasuk berfungsi sebagai obat pereda panasnya konflik rumah tangga.
Rasulullah saw bersabda:
مَنْ لَزِمَ الِاسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا، وَمِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا، وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
Artinya: “Siapa saja yang melanggengkan beristighfar, niscaya Allah menjadikan baginya dari setiap kegundahan sebuah kesenangan, dari setiap kesulitan sebuah solusi, dan Allah akan memberinya rezeki dari jalan yang ia tidak duga.” (HR Abu Dawud).
Hadits menjelaskan bahwa istighfar juga bisa menjadi solusi dari masalah kesulitan ekonomi yang sedang kita alami.
Memperbanyak Istighfar adalah salah satu ikhtiar batin yang bisa kita lakukan di samping ikhtiar lahir dari setiap kesulitan yang sedang menimpa, seperti contoh di atas dan kesulitan lainnya.
Mengamalkan atau melanggengkan istighfar di kehidupan sehari-hari merupakan hal gampang yang kita lakukan. Kapan dan di mana pun, istighfar bisa kita lakukan.
Di sela-sela menunggu angkutan umum, misalnya, bisa kita lakukan atau bahkan saat berdiri di bus karena kursi penuh pun masih memungkinkan untuk beristighfar. Saat bergumul dengan gawai yang kita pakai saat scroll media sosial juga masih bisa beristighfar. Jadi, tidak ada alasan untuk tidak melanggengkan istighfar. Apalagi pada waktu yang sangat spesial, yaitu 10 hari terakhir dari bulan Ramadhan.
Mari kita memaksimalkan dan memanfaatkan 10 hari terakhir bulan Ramadhan dengan berdoa dan melanggengkan istighfar. Dengan harapan semoga hajat-hajat yang termuat dalam doa yang kita panjatkan dikabulkan oleh Allah, serta kesulitan yang sedang menimpa segera diberi solusi dari kemurahan-Nya. Wallahu a'lam.
Ustadz Syifaul Qulub Amin, Alumnus PP Nurul Cholil Bangkalan dan Pengajar di PP Putri Al-Masyhuriyah Kebonan Bangkalan.
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: Hikmah Zakat Fitrah, Menyucikan Jiwa dan Menyempurnakan Ibadah
2
Kapan Lebaran 2026? Berikut Data Hilal 1 Syawal 1447 H oleh LF PBNU
3
Khutbah Jumat: Urgensi I’tikaf di Masjid 10 Malam Terakhir Ramadhan
4
Khutbah Jumat: Puasa, Al-Qur’an, dan 5 Ciri Orang Bertakwa
5
KPK Resmi Tahan Gus Yaqut atas Tuduhan Korupsi Kuota Haji
6
Aktivis KontraS Andrie Yunus Disiram Air Keras Usai Hadiri Siniar
Terkini
Lihat Semua