Ramadhan

Kultum Ramadhan: Hikmah Zakat Fitrah dalam Islam

Sabtu, 14 Maret 2026 | 03:00 WIB

Kultum Ramadhan: Hikmah Zakat Fitrah dalam Islam

Kultum Ramadhan tentang hikmah Zakat Fitrah (NUO)

Salah satu kewajiban umat Islam ialah membayar zakat. Secara definisi, zakat merupakan nama bagi kadar harta tertentu yang wajib dialokasikan pada golongan tertentu dengan syarat-syarat tertentu. Dalam praktiknya, secara keumuman zakat terbagi menjadi dua yaitu zakat maal dan zakat fitrah. Dalam kesempatan kali ini, penulis akan membahas terkait zakat fitrah dan hikmahnya dalam Islam.
 

Secara definisi, zakat fitrah merupakan kadar ukuran bahan makanan pokok tertentu yang wajib dikeluarkan seseorang yang memenuhi syarat tertentu. Syarat tersebut ialah Islam, tenggelamnya matahari di akhir bulan Ramadhan atau menemukan dua sisi bulan Ramadhan dan Syawal, terdapat lebihan makanan pokok untuk dirinya dan orang yang wajib dinafkahi pada hari raya dan malamnya, serta yang terakhir ialah merdeka.
 

Dalil kewajiban zakat fitrah ialah hadits yang bersumber dari Ibnu Umar yang mengatakan bahwa Rasulullah saw mewajibkan kepada umat Islam mengeluarkan zakat fitrah berupa satu sha’ kurma atau kacang sya'ir (jewawut).
 

Al-Khatib As-Syirbini menjelaskan:
 

وَالْأَصْل فِي وُجُوبهَا قبل الْإِجْمَاع خبر ابْن عمر رَضِي الله عَنْهُمَا فرض رَسُول الله صلى الله عَلَيْهِ وَسلم زَكَاة الْفطر من رَمَضَان على النَّاس صَاعا من تمر أَو صَاعا من شعير على كل حر أَو عبد ذكر أَو أُنْثَى من الْمُسلمين
 

Artinya: “Dalil kewajiban zakat fitrah sebelum konsensus ialah khabar yang bersumber dari Ibnu Umar ra yang menjelaskan bahwa Rasulullah Saw mewajibkan zakat fitrah dari Ramadhan kepada umat Islam yang merdeka, hamba sahaya laki-laki atau perempuan berupa satu sha’ kurma atau kacang syair (jewawut)”. (Al-Iqna', [Beirut, Darul fikr, tt], juz I, halaman 226).
 

Hikmah Zakat Fitrah

Dalam Islam, Allah tidak mensyariatkan suatu ibadah kecuali pasti memiliki banyak hikmah di dalamnya. Termasuk zakat fitrah. Lantas apakah hikmah dibalik zakat fitrah?
 

Menurut Syekh Muhammad bin Ahmad as-Syatiri hikmah syariat zakat, termasuk zakat fitrah, ialah untuk menumbuhkan sifat solidaritas sesama umat Islam. Syekh as-Syatiri menjelaskan:
 

أما حكمة الزكاة فمعروفة وظاهرة. وتبدو في هذا العصر أكثر. فمن شأنها التعاطف والتراحم. ولو أخرجت الزكاة ووزعت على وجهها الصحيح الشرعي, لما بقي على وجه الأرض فقير أبدا. لأن ربنا جعل في أموال الأغنياء ما يكفي الفقراء.
 

Artinya: “Hikmah zakat telah banyak diketahui dan jelas. Dan (hikmah) itu lebih jelas lagi tampak di masa sekarang. Di antaranya ialah saling simpati dan welas asih kepada sesama. Apabila zakat dikeluarkan (oleh umat Islam) dan dibagi sesuai dengan aturan syariat yang berlaku, maka tidak akan ada orang fakir di dunia ini selamanya. Karena Tuhan kita menjadikan harta-harta orang kaya dapat mencukupi kebutuhan orang-orang fakir”. (Syarhu Yaqutin Nafis, [Darul Hawi: 1997), juz I, halaman 390).
 

Dari penjelasan dapat dipahami, zakat merupakan ibadah yang pada intinya ialah media untuk merekatkan hubungan sosial sesama umat Islam. Zakat dapat menjadi media salur alokasi rasa welas asih juga dapat menjadi solusi kemiskinan dan kekurangan sandang, pangan, papan jika memang dikeluarkan oleh yang wajib mengeluarkan dan dialokasikan dengan baik kepada yang berhak.
 

Syekh as-Syathiri membuat permisalan:
 

فلو نظرنا إلى زكاة الفطر فقط, يقولون: إن عدد المسلمين اليوم ألف مليون تقريبا, وزكاة الفطر صاع على كل مسلم, وقدرنا قيمتها_ على سبيل المثال_ ريالين. وهي تجب على من عنده قوت يوم العيد وليلتها. فلنسقط نصف العدد مثلا, سيبقى ألف مليون ريال سنويا, حاصل زكاة الفطر فقط.
 

Artinya: “Jika kita melihat pada zakat fitrah saja, ulama berkata: 'Jumlah umat Islam hari ini kira-kira ialah satu miliar, sedangkan zakat fitrah itu satu sha’ per individu mMuslim. Kita ambil kira-kira harganya sebagai contoh dua rial, yang wajib dikeluarkan bagi orang yang memiliki makanan pokok pada hari dan malam raya. Kita gugurkan seumpama separuh jumlahnya, maka akan tersisa 1 miliar rial hanya hasil dari zakat fitrah saja.” (As-Syatiri, I/391).
 

Syekh as-Syatiri dengan jelas menuturkan bahwa salah satu manfaat yang didapat dari pemberlakuan zakat ialah terjadinya sifat saling asih sesama manusia. Orang yang mampu membantu yang kurang mampu, yang kaya membantu yang miskin. Hal tersebutlah yang akan menumbuhkan rasa solidaritas antar sesama manusia dan akhirnya ialah ketentraman hidup tiap-tiap individu.
 

Sementara menurut Syekh As-Syirbini, merujuk penjelasan Imam Al-Qaffal, secara spesifik di antara hikmah zakat fitrah ialah membantu golongan yang kurang mampu untuk berbahagia menikmati hari raya dan malam hari raya dan tiga hari setelahnya tanpa memikirkan kekurangan makanan pokok.
 

Al-Khatib As-Syirbini berkata:
 

فَائِدَة ذكر الْقفال الشَّاشِي فِي محَاسِن الشَّرِيعَة معنى لطيفا فِي إِيجَاب الصَّاع وَهُوَ أَن النَّاس تمْتَنع غَالِبا من الْكسْب فِي الْعِيد وَثَلَاثَة أَيَّام بعده وَلَا يجد الْفَقِير من يَسْتَعْمِلهُ فِيهَا لِأَنَّهَا أَيَّام سرُور وراحة عقب الصَّوْم وَالَّذِي يتَحَصَّل من الصَّاع عِنْد جعله خبْزًا ثَمَانِيَة أَرْطَال من الْخبز فَإِن الصَّاع خَمْسَة أَرْطَال وَثلث كَمَا مر ويضاف إِلَيْهِ من المَاء نَحْو الثُّلُث فَيَأْتِي مِنْهُ ذَلِك وَهُوَ كِفَايَة الْفَقِير فِي أَرْبَعَة أَيَّام لكل يَوْم رطلان
 

Artinya: “(Faidah) Al-Qaffal As-Syasi menuturkan kebaikan syariat dalam mewajibkan zakat fitrah berupa satu sha’ makanan yaitu bahwa mayoritas masyarakat secara keumuman enggan bekerja pada hari raya dan tiga hari setelahnya. Orang fakir tidak akan menemukan orang yang mempekerjakannya pada hari-hari tersebut. Sebab hari-hari tersebut merupakan hari bahagia dan tenang setelah berpuasa.
 

Apa yang dihasilkan oleh satu sha’ makanan pokok ketika dijadikan roti ialah delapan rithl roti. Jika ditambahkan sepertiga air maka akan mencukupi kebutuhan seorang fakir selama empat hari kedepan dengan memakan 2 rithl roti setiap hari”. (As-Syirbini, I/229).
 

Banyak hikmah pemberlakuan zakat fitrah dalam Islam. Di antaranya ialah sebagai penumbuh solidaritas sesama umat Islam dan juga untuk memenuhi kebutuhan sesama umat Islam yang kurang mampu terutama pada hari-hari bahagia seperti hari raya. Wallahu a’lam.
 


Ustadz Alwi Jamalulel Ubab, Penulis Keislaman tinggal di Indramayu