Ramadhan

Kultum Ramadhan: Istiqamah Beramal setelah Ramadhan

Kamis, 19 Maret 2026 | 15:00 WIB

Kultum Ramadhan: Istiqamah Beramal setelah Ramadhan

Kultum Ramadhan tentang istiqamah beramal setelah Ramadhan (NUO)

Tanpa terasa kita sudah berada di penghujung Ramadhan. Perjalanan bulan suci ini terasa sangat singkat, seakan baru kemarin kita memulai puasa pertama. Fenomena ini menjadi teguran bagi kita yang mungkin kurang responsif dalam memaksimalkan agenda spiritual selama sebulan terakhir.
 

Banyak peluang pahala yang terabaikan dan waktu produktif yang terbuang, hingga tanpa sadar kita melewati hari-hari istimewa ini tanpa adanya peningkatan kualitas batin yang signifikan.
 

Ibarat seorang kekasih yang paling dicintai, Ramadhan datang membawa kebahagiaan dan pergi menyisakan kerinduan. Kedalaman cinta para sahabat dan generasi salaf terhadap bulan ini membuat mereka sulit melepaskan kepergiannya tanpa linangan air mata dan harapan untuk berjumpa lagi.
 

Kesyahduan momentum perpisahan ini dirangkum dengan begitu indah oleh Imam Ibnu Rajab al-Hanbali:
 

‏كَيْفَ لَا تَجْرِيْ لِلْمُؤْمِنِ عَلَى فِرَاقِ رَمَضَان دُمُوْعٌ؟ وَهُوَ لَا يَدْرِيْ هَلْ بَقِيَ لَهُ في عُمرِهِ إليه رُجُوعٌ
 

Artinya: “Bagaimana bisa seorang mukmin tidak menetes air mata ketika berpisah dengan Ramadhan, sementara ia tak tahu pasti, apakah di sisa umurnya masih bisa berjumpa dengannya.” (Lathaiful Ma’arif, [Beirut, Dar Ibnu Hazm: 1424 H], halaman 217).
 

Ramadhan Berlalu, Istiqamah Beramal

Akan tetapi, yang lebih penting dari pada itu semua adalah jangan sampai ungkapan kesedihan dan tangisan kita dengan perginya bulan Ramadhan adalah hanya kepura-puraan saja atau sekedar ikut-ikutan saja.
 

Kita buktikan perpisahan dengan bulan Ramadhan dengan tetap istiqamah melakukan ibadah-ibadah yang sudah sering dilakukan di bulan Ramadhan atau minimal tidak kita tinggalkan secara total.
 

Inilah yang disebut dengan konsisten atau istiqamah dalam ketakwaan. Hal ini selaras dengan hadits Nabi Muhammad saw:
 

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
 

Artinya, “Perbuatan baik yang paling dicintai Allah Ta’ala adalah yang paling konsisten (istiqamah) meskipun sedikit.” (HR Muslim).
 

Syekh Muhammad as-Syinqithi memberikan penjelasan terkait hadits tersebut sebagai berikut:
 

أَيْ أَنَّ أَحَبَّ أَعْمَالِ الطَّاعَاتِ الَّتِي هِيَ نَوَافِلُ إِلَى اللّٰهِ تَعَالَى مَا دَاوَمَ عَلَيْهِ فَاعِلُهُ وَإِنْ كَانَ شَيْئًا قَلِيلًا؛ لِأَنَّ فِي الْمُدَاوَمَةِ فَوَائِدَ، مِنْهَا دَوَامُ الِاتِّصَالِ بِطَاعَةِ الرَّبِّ، وَطَرْقُ بَابِ الْخَيْرِ، وَعَدَمُ الْإِعْرَاضِ، بِخِلَافِ الْمُنْقَطِعِ مِنَ الْعَمَلِ فَإِنَّ صَاحِبَهُ كَأَنَّهُ أَعْرَضَ بَعْدَ انْتِهَائِهِ
 

Artinya: "Artinya, amal ketaatan tambahan (sunnah) yang paling dicintai Allah Ta'ala adalah yang dilakukan secara konsisten (istiqomah) oleh pelakunya, meskipun jumlahnya sedikit. Sebab, dalam konsistensi terdapat berbagai manfaat, di antaranya: terjaganya hubungan terus-menerus dalam ketaatan kepada Tuhan, senantiasa mengetuk pintu kebaikan, dan tidak berpaling. Hal ini berbeda dengan amal yang terputus, karena pelakunya seolah-olah berpaling (dari Allah) setelah ia berhenti beramal." (Syarah Sunan Nasa’i, [Mathabi’ Al-Hamidi: 1425 H], jilid V, halaman 1587).
 

Karena itu, jika selepas Ramadhan nanti kita 'hanya' mampu menjaga lisan dari ucapan buruk, hal itu bukanlah sebuah kegagalan. Sebaliknya, itu adalah pencapaian yang dicintai Allah selama dilakukan secara istiqamah.
 

Begitu pula dengan amal ibadah lainnya; Allah tidak melulu melihat seberapa besar kuantitas, melainkan seberapa dalam totalitas dan konsistensi pelaksanaannya. Sebab, di mata Sang Pencipta, keteguhan untuk terus melangkah meski sedikit jauh lebih berharga daripada ledakan amal yang sesaat.
 

Akhirnya, bulan Ramadhan dapat menjadi momen paling tepat untuk memulai kebiasaan baik (ketakwaan), sehingga ketika bulan itu berlalu, kebiasaan tersebut tetap dilakukan, bahkan bisa terus sepanjang hayat karena sudah mendarah daging. Wallahu a’lam.

 

Ustadz M Ryan Romadhon, Alumni Ma’had Aly Al-Iman Bulus, Purworejo, Jawa Tengah.