Kultum Ramadhan: Menjemput Pertolongan Allah Lewat Kesabaran di Ramadhan
Senin, 9 Maret 2026 | 15:00 WIB
Pada bulan suci Ramadhan, sebagai Muslim kita tidak hanya memanfaatkan waktu untuk berpuasa, memperbanyak membaca Al-Qur’an, dan melakukan berbagai amal kebaikan. Ramadhan juga menjadi momentum untuk memahami nilai-nilai penting yang sering kali luput dari perhatian, padahal merupakan bagian tak terpisahkan dari makna bulan yang mulia ini.
Salah satu nilai tersebut adalah kesabaran. Ia melekat erat dengan Ramadhan, terutama melalui kewajiban puasa. Ibadah ini bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan latihan membentuk kesabaran dalam seluruh aspek kehidupan.
Karena itu, Ramadhan bukan hanya waktu yang tepat untuk melatih kesabaran secara fisik, tetapi juga kesempatan untuk memperdalam pemahaman kita tentang hakikat dan peran kesabaran dalam kehidupan sehari-hari.
Di antara yang penting untuk kita pahami adalah, pertama, bahwa kesabaran sangat berkaitan erat dengan bulan Ramadhan. Kedua, kesabaran merupakan rezeki dari Allah SWT. Ketiga, bersabar merupakan awal dari pertolongan Allah SWT.
Mengenai poin pertama, bahwa kesabaran erat dengan bulan Ramadhan, Allah SWT berfirman dalam Surat al-Baqarah ayat 153:
Baca Juga
Kultum Ramadhan: Hikmah di Balik Musibah
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِۗ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ
Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman, mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar." (QS. Al-Baqarah [2]: 153).
Dalam menafsirkan ayat ini, Imam Abu Hayyan dalam tafsir Al-Bahrul Muhith memaparkan beberapa pendapat para mufassir terkait makna sabar. Di antaranya seperti redaksi berikut:
وَقَدْ قَيَّدَ بَعْضُهُمُ الصَّبْرَ هُنَا: بِأَنَّهُ الصَّبْرُ عَلَى أَذَى الْكُفَّارِ بِالطَّعْنِ عَلَى التَّحَوُّلِ وَالصَّلَاةِ إِلَى الْكَعْبَةِ، وَبَعْضُهُمْ بِالصَّبْرِ عَلَى أَدَاءِ الْفَرَائِضِ. وَرُوِيَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ وَبَعْضِهِمْ قَالَ: هُوَ كِنَايَةٌ عَنِ الصَّوْمِ، وَمِنْهُ قِيلَ لِرَمَضَانَ: شَهْرُ الصَّبْرِ
Artinya: “Sebagian ulama mengartikan sabar dalam ayat ini dengan kesabaran atas cacian orang-orang kafir soal perpindahan kiblat (yang sebelumnya shalat menghadap ke Baitul Maqdis) lalu berganti ke Ka'bah. Sebagian lagi ada yang mengartikan sabar dalam melaksanakan kewajiban. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas dan sebagian ulama, ia berkata, ‘sabar itu adalah kinayah dari puasa; ada juga yang mengartikan bahwa Ramadhan bulan kesabaran.” (Imam Abu Hayyan, Al-Bahrul Muhith, [Beirut: Darul Fikr, 1420 H], jilid II, hal. 51).
Jadi, antara kesabaran dan Ramadhan merupakan dua unsur yang sangat berkaitan, tak terpisahkan, hingga dikatakan bahwa Ramadhan merupakan bulan kesabaran, sebagaimana penafsiran paling akhir.
Kemudian, yang kedua, kesabaran merupakan rezeki dari Allah. Buktinya, Rasulullah SAW pun memosisikan kesabaran yang kita punya sebagai rezeki yang sangat berharga, bahkan sampai disebut pemberian yang paling baik dan luas. Berikut bunyi haditsnya:
مَا رُزِقَ عَبْدٌ خَيْرًا لَهُ وَلَا أَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ
Artinya: "Seorang hamba tidak diberikan rezeki yang lebih baik dan luas daripada rezeki kesabaran." (HR Imam Hakim).
Dalam riwayat yang lain disebutkan:
وَمَنْ يَسْتَعْفِفْ يُعِفَّهُ اللهُ، وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللهُ، وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللهُ، وَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ مِنْ عَطَاءٍ خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ
Artinya: "Siapa saja menjaga kesucian dirinya, maka Allah akan menjaga kesuciannya, siapa saja mencukupkan dirinya tanpa meminta-minta, maka Allah akan menjadikannya kaya, dan siapa yang berlatih untuk bersabar, Allah akan beri kesabaran, dan tidaklah seseorang diberi pemberian yang lebih baik daripada kesabaran.” (HR Imam Bukhari)
Dalam dua hadits di muka terdapat diksi ash-shabru, kesabaran dan yatashabbar, berlatih bersabar. Artinya, yang dimaksud dengan pemberian yang paling baik dan luas tersebut adalah kesabaran. Dalam konteks ini, kesabaran itu murni pemberian/rezeki dari Allah SWT. Ini makna dari hadits pertama dan kalimat terakhir dari hadits kedua.
Bagaimana cara mendapatkannya? Dengan berusaha bersabar, sebagaimana tersurat dalam kalimat awal dalam hadits kedua yang memakai diksi yatashabbar.
Dalam ilmu gramatika Arab, setiap kata yang mengikuti wazan tafa'alah-yatafa'alu, tashabbara-yatashabbaru, berfaedah takalluf. Artinya, harus ada usaha untuk mendapatkan hal tersebut; dalam konteks ini, adalah mendapatkan kesabaran.
Kenapa kesabaran dikategorikan sebagai rezeki paling baik dan luas? Simak jawaban berikut:
لِأَنَّهُ إِكْلِيلٌ لِلْإِيمَانِ، وَأَوْفَرُ الْمُؤْمِنِينَ حَظًّا مِنَ الصَّبْرِ أَوْفَرُهُمْ حَظًّا مِنَ الْقُرْبِ مِنَ الرَّبِّ، وَالصَّبْرُ رِزْقٌ مِنَ اللَّهِ، لَا يَسْتَبِدُّ الْعَبْدُ بِكَسْبِهِ، وَمَا يُضَافُ إِلَى كَسْبِ الْعَبْدِ هُوَ التَّصَبُّرُ، فَإِذَا حَمَلَ عَلَى نَفْسِهِ التَّصَبُّرَ أَمَدَّهُ اللَّهُ بِكَمَالِ الصَّبْرِ، وَفِي الْخَبَرِ: مَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللَّهُ، فَإِذَا رَزَقَهُ الصَّبْرَ كَانَ أَوْسَعَ مِنْ كُلِّ نِعْمَةٍ وَاسِعَةٍ، لِأَنَّهُ يُسَهِّلُ بِالصَّبْرِ جَمِيعَ الْخَيْرَاتِ، وَتَرْكَ الْمُنْكَرَاتِ، وَتَحَمُّلَ الْمَكْرُوهَاتِ الْمُقَدَّرَاتِ
Artinya: "Karena sabar layaknya mahkota bagi keimanan, dan karena semakin sempurna bagian kesabaran Mukminin, semakin sempurna bagian kedekatannya kepada Tuhannya. Kesabaran merupakan rezeki dari Allah. (Sejatinya) hamba-Nya tidak memiliki daya dengan cara ber-kasab/ikhtiar (mendapatkannya). Sedangkan penisbatan kasab pada seorang hamba itu merupakan proses/usaha bersabar. Jadi, jika ia bisa menanggung usaha bersabar tersebut, Allah akan memberikan kesabaran yang sempurna.
"Dalam hadits dikatakan, 'siapa saja berusaha bersabar niscaya Allah akan berikan kesabaran. Dan ketika ia diberi rezeki kesabaran, hal tersebut lebih luas daripada seluruh kenikmatan yang luas. Karena kesabaran akan mempermudah melaksanakan segala kebaikan, meninggal kemungkaran, dan sekaligus meringankan semua beban perkara yang tidak disukai tapi ditakdirkan.” (Syekh Zainuddin Al-Munawi, Faydhul Qadir, [Mesir, Maktabah at-Tijariyyah al-Kubra, 1356 H], jilid V, hlm. 447).
Selanjutnya, yang ketiga, sikap bersabar atas sesuatu yang terjadi merupakan tahap awal dari datangnya pertolongan Allah. Hal ini tersirat dalam ayat yang telah disebut sebelumnya, yaitu secara tegas Allah SWT memerintahkan orang-orang Mukmin untuk meminta pertolongan dengan kesabaran dan shalat.
Imam Mawardi mengutip beberapa kalam ulama tentang kesabaran yang menunjukkan bahwa pertolongan sangat erat kaitannya dengan kesabaran. Di antaranya adalah redaksi berikut:
وَاعْلَمْ أَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ .... وَقَالَ بَعْضُ الْحُكَمَاءِ: بِمِفْتَاحِ عَزِيمَةِ الصَّبْرِ تُعَالَجُ مَغَالِيقُ الْأُمُورِ
Artinya: "Ketahuilah! Sungguh pertolongan bersama dengan kesabaran. Sebagian filsuf berkata, 'Dengan kunci komitmen kesabaran, akan terbuka gembok-gembok segala urusan." (Imam Mawardi, Adabud Dunya wad Din, [Daru Maktabatul Hayat, t.t.], hal. 290).
Dari semua pemaparan di atas, bisa kita simpulkan bahwa bulan Ramadan merupakan momen yang sangat tepat untuk melatih bersabar dalam segala aspek kehidupan, baik secara vertikal dengan bersabar dalam menjalankan amal yang diperintahkan Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya, atau secara horizontal dengan bersabar terhadap hal-hal yang tidak kita suka yang bersumber dari sesama manusia.
Latihan bersabar tersebut merupakan ikhtiar kita agar diberi rezeki kesabaran yang menjadi kunci untuk membuka gembok-gembok dan bisa menyingkirkan kesulitan yang sedang menimpa. Jika kesulitan itu tak kunjung pergi, yakinlah bahwa pertolongan-Nya akan datang di waktu yang tepat berkat kesabaran kita. Wallahu a'lam.
Syifaul Qulub Amin, Alumnus PP Nurul Cholil Bangkalan dan Pengajar di PP Putri Al-Masyhuriyah Kebonan Bangkalan.