Tafsir Surat al-Fath Ayat 29: Pesan di Balik Relasi Politik Iran dan Kelompok Houthi
Sabtu, 11 Juli 2026 | 17:21 WIB
Tidak semua pesan politik disampaikan melalui pidato. Sebagiannya justru hadir dalam bentuk yang lebih halus: sebuah simbol, isyarat, atau bahkan sepotong ayat Al-Qur'an. Bagi mereka yang terbiasa membaca bahasa diplomasi, pilihan simbol sering kali lebih lantang daripada sederet kalimat resmi. Sebab, di balik setiap simbol, tersimpan cara suatu negara memandang kawan, lawan, maupun sekutunya.
Itulah yang tampak dalam prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei, yang berlangsung pada 3–9 Juli 2026 di Teheran dan berakhir di kota kelahirannya, Mashhad. Upacara itu bukan sekadar seremoni penghormatan terakhir bagi seorang pemimpin negara. Ia juga menjadi panggung diplomasi yang menyita perhatian dunia.
Lebih dari tiga puluh negara mengirimkan delegasi resmi untuk menyampaikan belasungkawa kepada pemimpin yang wafat dalam serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari 2026.
Menariknya, penyambutan setiap delegasi tidak dilakukan dengan cara yang sama. Televisi pemerintah Iran (IRIB) menayangkan prosesi penyambutan yang disertai pembacaan ayat Al-Qur'an berbeda untuk setiap tamu.
Delegasi Qatar disambut dengan Surah al-Fath ayat 2, Turki dengan Surah an-Nisa ayat 95, Arab Saudi dengan Surah Ali Imran ayat 13, Pakistan dengan Surah Ali Imran ayat 200, Hamas dengan Surah al-Ahzab ayat 23, Hizbullah dengan Surah Ali Imran ayat 139–140, sedangkan Delegasi Houthi disambut dengan Surah al-Fath ayat 29.
Sekilas, pemilihan ayat-ayat tersebut mungkin tampak sebagai bagian dari rangkaian seremonial keagamaan. Namun benarkah demikian? Rasanya sulit menerima anggapan bahwa sebuah negara dengan tradisi simbolisme politik yang begitu kuat memilih ayat-ayat Al-Qur'an secara kebetulan. Justru sebaliknya, setiap ayat tampak dipilih untuk menyampaikan pesan tertentu mengenai bagaimana Iran memandang hubungan politiknya dengan masing-masing delegasi yang hadir.
Di antara seluruh pilihan itu, Surah al-Fath ayat 29 yang dibacakan untuk menyambut Delegasi Houthi menjadi salah satu yang paling menarik perhatian. Mengapa bukan ayat lain? Apa makna yang ingin ditegaskan Iran melalui ayat tersebut? Dan bagaimana para mufasir memahami kandungan ayat itu? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang akan menjadi titik tolak pembahasan tulisan ini.
Posisi Kelompok Houthi dalam Hubungan Politik Iran
Untuk memahami makna pemilihan Surah al-Fath ayat 29, terlebih dahulu perlu dipahami bagaimana posisi Houthi dalam peta politik Iran di kawasan Timur Tengah. Sebab, sebuah ayat tidak pernah berdiri di ruang kosong. Ia memperoleh makna ketika ditempatkan dalam konteks sosial dan politik yang melatarbelakanginya.
Kelompok Houthi, yang secara resmi menamakan diri Ansharullah, merupakan gerakan bersenjata yang sejak 2014 menguasai ibu kota Yaman, Sanaa, beserta sebagian besar wilayah barat laut negara tersebut. Gerakan ini lahir dari komunitas Zaydi di Sa'dah, Yaman Utara, dan kini dipimpin oleh Abdul-Malik al-Houthi.
Dalam konfigurasi geopolitik Timur Tengah, Houthi bukan sekadar aktor domestik Yaman. Iran menempatkannya sebagai salah satu pilar utama Mihwar al-Muqawamah (Poros Perlawanan), yakni aliansi regional yang menghimpun Iran, Hizbullah di Lebanon, Hamas dan Jihad Islam di Palestina, berbagai milisi Syiah di Irak, serta Houthi di Yaman. Bagi aliansi ini, perlawanan terhadap dominasi Amerika Serikat dan Israel dipandang sebagai agenda bersama yang melampaui batas-batas negara.
Namun, hubungan Iran dan Houthi tidak dapat disederhanakan sebagai relasi antara sponsor dan pihak yang disponsori. Berbagai kajian dari International Crisis Group (ICG) dan Chatham House menunjukkan bahwa hubungan keduanya lebih tepat dipahami sebagai kemitraan strategis daripada pola komando dan kontrol secara langsung.
Iran memang memberikan dukungan berupa persenjataan, pendanaan, dan pelatihan melalui Garda Revolusi Islam (IRGC) dengan bantuan fasilitator Hizbullah. Akan tetapi, Houthi tetap mempertahankan ruang gerak operasional yang relatif mandiri. Bertahun-tahun menghadapi perang dan isolasi justru mendorong mereka mengembangkan kemampuan produksi rudal dan pesawat nirawak sendiri sehingga ketergantungan terhadap Teheran semakin berkurang.
Kesetiaan politik Houthi kepada Iran semakin tampak dalam berbagai konflik regional beberapa tahun terakhir. Selama perang Gaza 2023–2025, mereka melancarkan serangan terhadap Israel dan kapal-kapal internasional di Laut Merah sebagai bentuk solidaritas terhadap Palestina.
Ketika Amerika Serikat dan Israel kemudian menyerang Iran pada akhir Februari 2026 hingga menewaskan Ayatullah Ali Khamenei beserta sejumlah anggota keluarganya, Houthi kembali merespons dengan meluncurkan rudal dan drone ke arah Israel serta berbagai aset Amerika Serikat di kawasan.
Dalam salah satu pidatonya, Abdul-Malik al-Houthi menegaskan, "Kami tidak netral. Posisi kami lahir dari rasa memiliki terhadap Islam dan persaudaraan bangsa." Pernyataan itu memperlihatkan bahwa hubungan Houthi dengan Iran tidak semata dibangun atas dasar kepentingan politik praktis, melainkan juga atas narasi ideologis yang mereka yakini bersama.
Dengan latar belakang seperti itu, menjadi lebih mudah dipahami mengapa Iran memilih Surah al-Fath ayat 29 sebagai ayat penyambutan bagi Delegasi Houthi. Pilihan tersebut tampaknya bukan sekadar penghormatan simbolik, melainkan sebuah penegasan mengenai bagaimana Iran memaknai posisi Houthi sebagai salah satu sekutu paling loyal dalam Poros Perlawanan.
Tafsir Surat al-Fath Ayat 29
Allah SWT berfirman dalam Surah al-Fath ayat 29:
مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ ٱللَّهِ ۚ وَٱلَّذِينَ مَعَهُۥٓ أَشِدَّآءُ عَلَى ٱلْكُفَّارِ رُحَمَآءُ بَيْنَهُمْ ۖ تَرَىٰهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِّنَ ٱللَّهِ وَرِضْوَٰنًا ۖ سِيمَاهُمْ فِى وُجُوهِهِم مِّنْ أَثَرِ ٱلسُّجُودِ ۚ ذَٰلِكَ مَثَلُهُمْ فِى ٱلتَّوْرَىٰةِ ۚ وَمَثَلُهُمْ فِى ٱلْإِنجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْـَٔهُۥ فَـَٔازَرَهُۥ فَٱسْتَغْلَظَ فَٱسْتَوَىٰ عَلَىٰ سُوقِهِۦ يُعْجِبُ ٱلزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ ٱلْكُفَّارَ ۗ وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ مِنْهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًۢا
Artinya, “Nabi Muhammad adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengannya bersikap keras terhadap orang-orang kafir (yang bersikap memusuhi), tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu melihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridaan-Nya. Pada wajah mereka tampak tanda-tanda bekas sujud (bercahaya).
Itu adalah sifat-sifat mereka (yang diungkapkan) dalam Taurat dan Injil, yaitu seperti benih yang mengeluarkan tunasnya, kemudian tunas itu makin kuat, lalu menjadi besar dan tumbuh di atas batangnya. Tanaman itu menyenangkan hati orang yang menanamnya. (Keadaan mereka diumpamakan seperti itu) karena Allah hendak membuat marah orang-orang kafir. Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. al-Fath [48]: 29)
Ayat di atas menggambarkan beberapa dimensi penting dalam kepribadian seorang mukmin. Ia adalah sosok yang memiliki keteguhan dalam memegang prinsip, tetapi pada saat yang sama tetap menghadirkan kasih sayang kepada sesama. Ia tekun dalam ibadah, rendah hati dalam perilaku, dan terus berupaya membangun kualitas diri agar menjadi pribadi yang kuat secara spiritual maupun moral.
Syekh Muhammad Mutawalli al-Sya'rawi (w. 1418 H) dalam Khawatirusy Sya'rawi Haulal Qur'anil Karim (juz 8, hlm. 5120) memberikan penjelasan menarik mengenai dua karakter yang sekilas tampak berlawanan dalam diri orang beriman: ketegasan dan kasih sayang.
Menurut al-Sya'rawi, Allah menyifati orang-orang beriman dengan sifat yang menunjukkan keteguhan, sekaligus dengan sifat yang menggambarkan kelembutan dan kasih sayang. Dua karakter tersebut bukanlah sesuatu yang saling bertentangan.
Sebab, sikap seorang mukmin tidak semata-mata ditentukan oleh tabiat pribadi, melainkan oleh nilai-nilai keimanan yang membimbingnya dalam menghadapi berbagai keadaan. Asy-Sya'rawi menjelaskan:
لَقَدْ وَصَفَ الْحَقُّ سُبْحَانَهُ الْمُؤْمِنِينَ بِأَنَّهُمْ أَشِدَّاءُ، وَوَصَفَهُمْ أَيْضًا بِأَنَّهُمْ رُحَمَاءُ، وَلِكَيْ تَفْهَمَ هَذَا الْمَعْنَى عَلَيْكَ أَنْ تَعْلَمَ أَنَّ الْمَوَاقِفَ الْإِيمَانِيَّةَ هِيَ الَّتِي تُحَدِّدُ مَشَاعِرَ الْمُؤْمِنِ، وَلَا تُحَدِّدُهَا طِبَاعُهُ الْخَاصَّةُ وَالشَّخْصِيَّةُ، وَهُوَ يُكَيِّفُ مَوَاقِفَهُ حَسَبَ الْمَوْقِفِ الْإِيمَانِيِّ وَمَا يَتَطَلَّبُهُ، فَهُوَ شَدِيدٌ وَرَحِيمٌ، وَذَلِيلٌ وَعَزِيزٌ
Artinya, “Sungguh Allah Yang Mahasuci telah mensifati orang-orang beriman bahwa mereka adalah orang-orang yang keras, sekaligus mensifati mereka sebagai orang-orang yang penuh kasih sayang. Untuk memahami makna ini, engkau harus tahu bahwa sikap-sikap keimanan itulah yang menentukan perasaan seorang mukmin, bukan tabiat dan kepribadiannya. Ia menyesuaikan sikapnya sesuai dengan tuntutan situasi keimanan: ia bisa keras sekaligus penyayang, hina sekaligus mulia.” (Muhammad Mutawalli al-Sya'rawi, Tafsir al-Sya'rawi, [Kairo: Matabi' Akhbar al-Yaum, 1997], juz 8, hlm. 5120).
Dari penjelasan al-Sya'rawi tersebut dapat dipahami bahwa keimanan tidak dapat diukur hanya dari satu sisi karakter manusia. Seorang mukmin bukan hanya dituntut untuk memiliki kelembutan, tetapi juga memiliki keteguhan ketika menghadapi persoalan yang membutuhkan sikap tegas.
Sebaliknya, ketegasan pun tidak boleh dilepaskan dari nilai kasih sayang dan keadilan. Sekilas kedua sikap itu tampak bertolak belakang, padahal keduanya bersumber dari mata air yang sama: iman yang matang. Inilah pesan yang ditekankan oleh Syekh Muhammad Mutawalli al-Sya'rawi ketika menafsirkan Surah al-Fath ayat 29.
Penjelasan Syekh al-Sya'rawi tersebut menemukan penguatannya dalam uraian Imam Fakhruddin ar-Razi (w. 606 H) dalam karya monumentalnya Mafātīḥ al-Ghaib, (Beirut: Dār Iḥyā' al-Turāṡ al-'Arabī, 1420 H/1999 M) juz XXVIII, hlm. 87–90. Jika al-Sya'rawi menjelaskan bagaimana seorang mukmin dapat memadukan ketegasan dan kasih sayang, maka ar-Razi membawa pembahasan ini pada cakupan yang lebih luas: bahwa kedua sifat tersebut merupakan bagian dari akhlak Nabi dan para sahabat.
Inilah maksud firman Allah:
أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ
Artinya; “bersikap tegas terhadap orang-orang yang ingkar dan saling berkasih sayang di antara mereka”
Ini bukan hanya menggambarkan karakter para sahabat Nabi, tetapi terlebih dahulu mencerminkan kepribadian Rasulullah SAW. Sebab, dalam perjalanan dakwahnya, Rasulullah SAW dikenal sebagai pribadi yang mampu menempatkan sikap secara tepat.
Pada kondisi tertentu, beliau menunjukkan ketegasan ketika menghadapi sikap permusuhan dan penolakan terhadap risalah yang dibawanya. Hal ini sebagaimana tergambar dalam firman Allah pada Surah at-Taubah ayat 73. Namun, pada saat yang sama,Nabi juga dikenal sebagai sosok yang penuh kasih sayang kepada orang-orang beriman, sebagaimana ditegaskan dalam Surah at-Taubah ayat 128.
Dari penjelasan tersebut dapat dipahami bahwa ketegasan dan kasih sayang bukanlah dua sifat yang bertentangan. Keduanya justru dapat berjalan bersama ketika ditempatkan secara benar. Ketegasan dibutuhkan untuk menjaga prinsip, sementara kasih sayang menjadi nilai yang mengarahkan agar ketegasan tersebut tidak berubah menjadi sikap yang melampaui batas.
Lebih jauh, ar-Razi tidak hanya membahas karakter lahiriah orang-orang beriman, tetapi juga menyoroti sisi batin yang melandasi perilaku mereka. Ketika menafsirkan firman Allah:
يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا
Artinya; “mereka mencari karunia dan keridaan Allah,”
Lebih jauh, Fakhriddin ar-Razi menjelaskan bahwa amal seorang mukmin tidak semata-mata dilihat dari bentuk luarnya, tetapi juga dari tujuan yang menggerakkannya. Imam Fakhruddin Ar-Razi berkata:
يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا لِتَمْيِيزِ رُكُوعِهِمْ وَسُجُودِهِمْ عَنْ رُكُوعِ الْكُفَّارِ وَسُجُودِهِمْ، وَرُكُوعِ الْمُرَائِي وَسُجُودِهِ، فَإِنَّهُ لَا يَبْتَغِي بِهِ ذَلِكَ
Artinya: “Makna dari frasa ‘mereka mencari karunia Allah dan keridaan-Nya’ adalah untuk membedakan rukuk dan sujud mereka dari rukuk dan sujud orang kafir, serta dari rukuk dan sujud orang yang riya’, karena orang yang riya’ tidak mencari hal demikian dengan ibadahnya.” (Fakhruddin ar-Razi, Tafsir al-Kabir, (Beirut: Dār Iḥyā' al-Turāṡ al-'Arabī, cet. III, 1420 H), juz XXVIII, hlm. 88).
Penjelasan ar-Razi memberikan satu pesan penting: kualitas seorang mukmin tidak hanya diukur dari apa yang tampak dalam perilakunya, tetapi juga dari niat yang menggerakkan setiap tindakan. Keteguhan sikap harus lahir dari kesadaran untuk mencari rida Allah, bukan dari dorongan emosi, fanatisme, atau kepentingan pribadi.
Dengan demikian, ayat ini menghadirkan gambaran tentang keseimbangan karakter seorang beriman: kuat dalam prinsip, lembut dalam pergaulan, dan tulus dalam pengabdian kepada Allah.
Di sinilah keindahan pesan Surah al-Fath ayat 29. Ketegasan tanpa kasih sayang dapat berubah menjadi kekerasan, sementara kasih sayang tanpa prinsip dapat kehilangan arah. Keduanya harus berjalan beriringan. Sebab, sebagaimana dijelaskan para mufasir, kemuliaan seorang mukmin bukan hanya diukur dari keberaniannya menghadapi tantangan, tetapi juga dari kemampuannya menjaga hati agar tetap dipenuhi rahmat.
-------------
Ahmad Dirgahayu Hidayat, Alumni Ma'had Aly Situbondo, Pengajar di Ponpes Manbaul Ulum Kabul, Lombok Tengah.