Tafsir

Tafsir Surat Al-Furqan Ayat 20: Mengapa Para Rasul Hidup seperti Manusia Biasa?

Senin, 12 Oktober 2026 | 19:00 WIB

Tafsir Surat Al-Furqan Ayat 20: Mengapa Para Rasul Hidup seperti Manusia Biasa?

Ilustrasi Ka'bah. Sumber: NU Online.

Dalam ilmu tauhid, para rasul memiliki sifat jaiz, yaitu sifat-sifat kemanusiaan yang tidak mengurangi kemuliaan dan kedudukan mereka sebagai utusan Allah. Para rasul tetap membutuhkan makan, minum, tidur, bekerja, bahkan dapat mengalami sakit sebagaimana manusia pada umumnya.


Sifat tersebut juga dimiliki Nabi Muhammad saw. Meski diangkat sebagai utusan Allah, beliau tetap menjalani kehidupan sehari-hari, termasuk makan dan mencari nafkah. Hal ini dijelaskan dalam Surat Al-Furqan ayat 20:


وَمَآ اَرْسَلْنَا قَبْلَكَ مِنَ الْمُرْسَلِيْنَ اِلَّآ اِنَّهُمْ لَيَأْكُلُوْنَ الطَّعَامَ وَيَمْشُوْنَ فِى الْاَسْوَاقِ ۗ وَجَعَلْنَا بَعْضَكُمْ لِبَعْضٍ فِتْنَةً ۗ اَتَصْبِرُوْنَ ۚ وَكَانَ رَبُّكَ بَصِيْرًاࣖ


Artinya: “Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu (Nabi Muhammad), melainkan mereka pasti menyantap makanan dan berjalan di pasar. Kami menjadikan sebagian kamu sebagai cobaan bagi sebagian yang lain. Maukah kamu bersabar? Tuhanmu Maha Melihat.”


Jawaban Allah atas Hinaan Kaum Musyrik

Imam at-Thabari menjelaskan bahwa ayat ini merupakan jawaban Allah atas hinaan orang-orang musyrik yang mempertanyakan kerasulan Nabi Muhammad saw. Mereka menganggap seorang rasul seharusnya berbeda dari manusia biasa, sehingga merasa heran melihat Nabi makan dan berjalan di pasar.


Melalui ayat tersebut, Allah menegaskan bahwa para rasul terdahulu juga menjalani kehidupan sebagaimana manusia lainnya.


Imam at-Thabari menuturkan:


وهذا احتجاج من الله تعالى ذكره لنبيه على مشركي قومه الذين قالوا: (مَالِ هَذَا الرَّسُولِ يَأْكُلُ الطَّعَامَ وَيَمْشِي فِي الأسْوَاقِ) وجواب لهم عنه يقول لهم جلّ ثناؤه: وما أنكر يا محمد هؤلاء القائلون: ما لهذا الرسول يأكل الطعام، ويمشي في الأسواق، من أكلك الطعام، ومشيك في الأسواق، وأنت لله رسول، فقد علموا أنا ما أرسلنا قبلك من المرسلين إلا إنهم ليأكلون الطعام ويمشون في الأسواق، كالذي تأكل أنت وتمشي، فليس لهم عليك بما قالوا من ذلك حجة.


Artinya: “Ini merupakan argumentasi yang berasal dari Allah Swt untuk membela Nabi-Nya atas pertanyaan yang dilontarkan orang-orang musyrik dari kaumnya yang berkata (Bagaimana utusan ini, ia makan juga berjalan di pasar-pasar). Sebagai jawaban Allah berfirman kepada mereka: ‘Apa yang mereka ingkari terhadap dirimu wahai Muhammad, mereka berkata bagaimana bisa seorang utusan makan dan pergi ke pasar.


Meski engkau makan dan juga pergi ke pasar, engkau tetap merupakan seorang rasul. Sungguh sebenarnya mereka mengetahui bahwa Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu (Nabi Muhammad), melainkan mereka pasti menyantap makanan dan berjalan di pasar. Sama sepertimu yang makan dan juga pergi ke pasar. Tidak ada hujjah atas ucapan mereka terhadapmu.’” (Imam at-Thabari, Jamiul Bayan ‘an Takwili Ayil Qur’an, [Makkah: Darut Turabiyah wat Turats, t.t.], juz XIX, halaman 252).


Senada dengan itu, Imam al-Qurthubi menjelaskan bahwa pertanyaan kaum musyrik tersebut membuat Rasulullah bersedih. Mengutip Ibnu Abbas, ia menyebutkan bahwa ayat ini turun untuk menenangkan hati Nabi sekaligus menjawab pengingkaran mereka.


Al-Qurthubi juga menjelaskan bahwa maksud kalimat wa yamsyuna fil-aswaq (berjalan di pasar) adalah mencari penghidupan di dunia. Beliau mengatakan:


أَيْ يَبْتَغُونَ الْمَعَايِشَ فِي الدُّنْيَا


Artinya: “Berjalan di pasar maksudnya ialah mencari nafkah untuk kehidupan di dunia.” (Imam al-Qurthubi, Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, [Kairo: Darul Kutub Al-Misriyah, 1964 H], juz XIII, halaman 12–13).


Dengan demikian, makan dan mencari nafkah merupakan bagian dari kehidupan para rasul. Aktivitas tersebut sama sekali tidak mengurangi kedudukan mereka sebagai utusan Allah.


Sisi Kemanusiaan Rasul sebagai Ujian Kenabian

Selain menjelaskan sifat kemanusiaan para rasul, Surat Al-Furqan ayat 20 juga menggambarkan ujian yang mereka hadapi ketika menyampaikan risalah. Hal ini terlihat dalam firman Allah, wa ja'alna ba'dhakum liba'dhin fitnah, yang berarti Allah menjadikan sebagian manusia sebagai ujian bagi sebagian lainnya.


Dalam konteks kenabian, para rasul diuji melalui sikap kaumnya yang mengingkari kerasulan mereka. Sebagian bahkan meminta mukjizat tertentu sebagai syarat untuk menerima ajaran yang disampaikan.


Syekh Nawawi Banten menjelaskan:


وَجَعَلْنا بَعْضَكُمْ لِبَعْضٍ فِتْنَةً أي وجعلنا كل أمة كافرة فتنة لرسولها المبعوث إليها كأن يقول بعض الكفار لبعض الأنبياء آتنا معجزة كمعجزة بني فلان أَتَصْبِرُونَ يا معشر الأنبياء على ما تسمعون من أقاويلهم الخارجة من حدود الإنصاف، فالمعنى جرت سنتنا على ابتلاء المرسلين بأممهم بإيذائهم لهم لنعلم صبرهم


Artinya: “Kami menjadikan sebagian kamu sebagai cobaan bagi sebagian yang lain, maksudnya ialah Kami menjadikan setiap umat yang kafir sebagai fitnah (cobaan) bagi rasul yang diutus kepada mereka. Sebagaimana sebagian orang kafir meminta kepada sebagian nabi untuk mendatangkan mukjizat seperti mukjizatnya nabi umat fulan.


Apakah kalian bisa bersabar wahai para Nabi atas ucapan-ucapan mereka yang melampaui batas? Maknanya ialah merupakan sunnah Kami menguji rasul-rasul dengan umat mereka, agar kami tahu kesabaran mereka.” (Syekh Nawawi Banten, Marah Labid, [Beirut: Darul Kutub Al-Ilmiyah, 1417 H], juz II, halaman 130).


Penjelasan Syekh Nawawi menunjukkan bahwa penolakan dan hinaan dari kaumnya menjadi bagian dari ujian yang harus dihadapi para rasul. Mereka dituntut bersabar meskipun menerima berbagai tuduhan yang tidak beralasan.


Walhasil, Surat Al-Furqan ayat 20 menegaskan bahwa Nabi Muhammad saw dan para rasul terdahulu tetap memiliki sifat kemanusiaan, seperti makan, bekerja, dan mencari nafkah. Semua itu tidak mengurangi kemuliaan mereka sebagai utusan Allah.


Ayat ini juga mengajarkan pentingnya kesabaran dalam menghadapi penolakan dan penghinaan. Sebagaimana para rasul diuji melalui sikap kaumnya, setiap Muslim pun perlu belajar menghadapi berbagai ujian kehidupan dengan sabar dan tetap berpegang pada kebenaran. Wallahu a'lam.


Alwi Jamalulel Ubab, Penulis Tinggal di Indramayu.