Tafsir

Tafsir Surat An-Nahl Ayat 15: Fungsi Gunung bagi Kehidupan dan Stabilitas Bumi

Senin, 14 September 2026 | 07:30 WIB

Tafsir Surat An-Nahl Ayat 15: Fungsi Gunung bagi Kehidupan dan Stabilitas Bumi

Ilustrasi gunung berapi. Sumber: Canva

Gunung bukan hanya tempat yang indah untuk rekreasi dan menikmati pemandangan, tetapi juga memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan alam. Kawasan pegunungan berfungsi sebagai daerah tangkapan air yang menyimpan air hujan dan menyalurkannya melalui mata air serta sungai. Hutan di kawasan pegunungan juga membantu mengurangi erosi, mencegah banjir, menyimpan karbon, dan menjadi habitat bagi berbagai jenis tumbuhan dan hewan.

 

Selain itu, gunung, khususnya gunung api, memberikan berbagai manfaat bagi kehidupan manusia melalui material vulkanik yang dapat menyuburkan tanah, menyediakan berbagai mineral, serta menjadi sumber energi panas bumi. Gunung juga berperan dalam memengaruhi cuaca dan iklim di sekitarnya. Dengan demikian, keberadaan gunung merupakan bagian penting dari sistem alam yang mendukung kehidupan, bukan sekadar bentang alam untuk keindahan dan rekreasi.

 

Di antara ayat Al-Qur’an yang berbicara tentang fungsi gunung adalah Surat An-Nahl ayat 15. Lantas, apa fungsi gunung menurut Al-Qur’an dan bagaimana para mufasir menjelaskannya? Berikut penjelasannya.

 

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

 

وَاَلْقٰى فِى الْاَرْضِ رَوَاسِيَ اَنْ تَمِيْدَ بِكُمْ وَاَنْهٰرًا وَّسُبُلًا لَّعَلَّكُمْ تَهْتَدُوْنَۙ

 

Artinya: "Dia memancangkan gunung-gunung di bumi agar bumi tidak berguncang bersamamu serta (menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk." (An-Naḥl [16]:15)

 

Penafsiran Imam at-Thabari

Imam Ibnu Jarir at-Thabari (wafat: 310 H) menjelaskan bahwa di antara nikmat Allah yang diberikan kepada manusia adalah bahwa Dia menancapkan di bumi gunung-gunung yang kokoh.

 

ومن نعمه عليكم أيها الناس أيضا، أن ألقى في الأرض رواسي، وهي جمع راسية، وهي الثوابت في الأرض من الحبال

 

Artinya: “Di antara nikmat-Nya kepada kalian juga adalah bahwa Dia menancapkan di bumi gunung-gunung yang kokoh.” Kata rawāsi merupakan bentuk jamak dari rāsiyah, yaitu sesuatu yang kokoh dan tetap di bumi, yakni gunung-gunung.

 

Adapun tujuan ditancapkannya gunung di bumi dijelaskan dalam frasa ayat berikutnya, “an tamīda bikum”. Menurut beliau, Allah menancapkan gunung-gunung di bumi agar makhluk yang berada di atas permukaannya tidak terguncang. Sebab, menurut penafsiran ini, bumi sebelum ditancapkannya gunung-gunung memang mengalami guncangan.

 

وقوله (أَنْ تَمِيدَ بِكُمْ) يعني: أن لا تميد بكم، وذلك كقوله (يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ أَنْ تَضِلُّوا) والمعنى: أن لا تضلوا. وذلك أنه جلّ ثناؤه أرسى الأرض بالجبال لئلا يميد خلقه الذي على ظهرها، بل وقد كانت مائدة قبل أن تُرْسَى بها

 

Artinya: “Adapun firman-Nya ‘agar bumi tidak berguncang bersama kamu’ maksudnya adalah ‘agar bumi tidak berguncang bersama kamu.’ Hal ini seperti firman Allah, ‘Allah menjelaskan kepadamu agar kamu tidak tersesat,’ yang maksudnya adalah ‘agar kamu tidak tersesat.’ Allah Yang Maha Mulia telah menancapkan gunung-gunung di bumi agar makhluk yang berada di atas permukaannya tidak terguncang. Bahkan, bumi sebelumnya memang mengalami guncangan sebelum gunung-gunung ditancapkan di atasnya.”

 

Penjelasan Ibnu Jarir di atas di antaranya didasarkan pada riwayat Qais bin ‘Ubad. Beliau berkata:

 

أن الله تبارك وتعالى لما خلق الأرض جعلت تمور، قالت الملائكة. ما هذه بمقرّة على ظهرها أحدا، فأصبحت صبحا وفيها رواسيها

 

Artinya: “Bahwa ketika Allah Tabaraka wa Ta‘ala menciptakan bumi, bumi mulai berguncang dan bergerak. Para malaikat berkata, ‘Ini tidak akan mampu menjadi tempat yang kokoh bagi siapa pun yang berada di atasnya.’ Kemudian pada pagi harinya, bumi telah memiliki gunung-gunung yang kokoh di atasnya.” (Abu Ja'far Muhammad bin Jarir at-Thabari, Jami'ul Bayan [Makkah, Darut Tarbiyah watturats: t.t] juz 17 halaman 183).

 

Dari penafsiran Ibnu Jarir di atas dapat dipahami bahwa salah satu fungsi diciptakannya gunung di bumi adalah agar bumi tidak mengalami guncangan, sehingga makhluk yang berada di atasnya juga tidak ikut berguncang. Dalam penafsiran ini, bumi sebelum ditancapkannya gunung-gunung merupakan tempat yang tidak kokoh bagi siapa pun yang berada di atasnya.

 

Penafsiran Imam Fakhruddin ar-Razi

Imam Fakhruddin al-Razi (wafat 606 H) tidak berbeda jauh dari penafsiran Ibnu Jarir dalam menjelaskan fungsi gunung. Pada awal penafsiran Surat An-Nahl ayat 15, beliau mengatakan bahwa maksud ayat ini adalah Allah menyebutkan sebagian nikmat-Nya yang diciptakan di bumi.

 

Terkait dengan frasa “agar bumi tidak berguncang bersama kalian”, beliau menyebutkan dua perbedaan makna. Menurut ulama Kufah, maknanya adalah “agar bumi tidak berguncang bersama kalian.” Sedangkan menurut ulama Basrah, maknanya adalah “karena tidak menyukai bumi berguncang bersama kalian.”

 

Kemudian beliau menyebutkan pendapat yang masyhur di kalangan ulama dalam menafsirkan ayat ini, yakni:

 

الْمَشْهُورُ عَنِ الْجُمْهُورِ فِي تَفْسِيرِ هَذِهِ الْآيَةِ أَنْ قَالُوا: إِنَّ السَّفِينَةَ إِذَا أُلْقِيَتْ عَلَى وَجْهِ الْمَاءِ، فَإِنَّهَا تَمِيدُ مِنْ جَانِبٍ إِلَى جَانِبٍ، وَتَضْطَرِبُ، فَإِذَا وُضِعَتِ الْأَجْرَامُ الثَّقِيلَةُ فِي تِلْكَ السَّفِينَةِ اسْتَقَرَّتْ عَلَى وَجْهِ الْمَاءِ فَاسْتَوَتْ. قَالُوا فَكَذَلِكَ لَمَّا خَلَقَ اللَّهُ تَعَالَى الْأَرْضَ عَلَى وَجْهِ الْمَاءِ اضْطَرَبَتْ وَمَادَتْ، فَخَلَقَ اللَّهُ تَعَالَى عَلَيْهَا هَذِهِ الْجِبَالَ الثِّقَالَ فَاسْتَقَرَّتْ عَلَى وَجْهِ الْمَاءِ بِسَبَبِ ثِقَلِ هَذِهِ الْجِبَالِ

 

Artinya: “Pendapat yang masyhur dari mayoritas ulama dalam menafsirkan ayat ini adalah bahwa mereka mengatakan: Ketika sebuah kapal diletakkan di permukaan air, kapal tersebut akan bergerak dari satu sisi ke sisi yang lain dan berguncang. Namun, apabila benda-benda berat diletakkan di dalam kapal tersebut, kapal menjadi stabil di atas permukaan air dan menjadi seimbang.

 

Demikian pula, ketika Allah Ta‘ala menciptakan bumi di atas permukaan air, bumi mengalami guncangan dan gerakan. Kemudian Allah Ta‘ala menciptakan gunung-gunung yang berat di atasnya, sehingga bumi menjadi stabil di atas permukaan air disebabkan oleh beratnya gunung-gunung tersebut.” (Fakhruddin ar-Razi, Mafatihul Ghaib, [Beirut, Darul Ihya' at-Turats: 1420 H] juz 20 halaman 189).

 

Penjelasan di atas menggambarkan Bumi seperti kapal di atas air. Sebagaimana kapal dapat berguncang di atas air lalu menjadi stabil setelah diberi benda-benda berat, demikian pula gunung-gunung yang berat dipandang berfungsi menstabilkan Bumi.

 

Kritik Imam ar-Razi terhadap Pendapat Mayoritas Mufasir

Namun, Imam Fakhruddin ar-Razi tidak menerima begitu saja penjelasan tersebut. Beliau mengkritisinya melalui beberapa persoalan.

 

Pertama, analogi antara bumi dan kapal tidak sepenuhnya tepat. Jika bumi lebih berat daripada air, maka berdasarkan asumsi tersebut bumi seharusnya tenggelam, bukan mengapung seperti kapal. Kapal dapat mengapung karena terbuat dari kayu yang memiliki rongga berisi udara. Karena itu, menurut ar-Razi, keadaan kapal tidak dapat begitu saja disamakan dengan keadaan bumi.

 

Kedua, jika gerakan dan diamnya benda-benda sepenuhnya terjadi karena kehendak Allah, maka tidak tepat menjadikan berat gunung sebagai sebab alamiah yang membuat bumi diam. Jika Allah yang menciptakan gerak dan diam bumi, maka bumi dapat dikatakan diam karena Allah menciptakan keadaan diam tersebut, bukan semata-mata karena gunung.

 

Ketiga, ar-Razi mempertanyakan sebab kestabilan air. Jika gunung diperlukan agar Bumi tetap stabil di atas air, maka terlebih dahulu perlu dijelaskan mengapa air yang menjadi tempat Bumi berada dapat tetap tenang. Jika air diam karena sifat alaminya, mengapa Bumi tidak dikatakan demikian? Sebaliknya, jika air diam karena Allah yang membuatnya tetap pada tempatnya, maka hal yang sama juga dapat dikatakan tentang bumi.

 

Selain itu, ar-Razi juga mempertanyakan apakah gerakan seluruh Bumi pasti dapat dirasakan manusia. Menurutnya, apabila seluruh bumi bergerak secara bersamaan, manusia belum tentu merasakan gerakan tersebut. Hal ini dianalogikan dengan orang yang berada di dalam kapal yang tidak selalu merasakan gerakan keseluruhan kapal.
 

Pandangan ar-Razi tentang Fungsi Gunung

Setelah membahas berbagai keberatan tersebut, ar-Razi kemudian mengemukakan pandangannya sendiri. Beliau berkata:

 

وَالَّذِي عِنْدِي فِي هَذَا الْمَوْضِعِ الْمُشْكَلِ أَنْ يُقَالَ ثَبَتَ بِالدَّلَائِلِ الْيَقِينِيَّةِ أَنَّ الْأَرْضَ كُرَةٌ، وَثَبَتَ أَنَّ هَذِهِ الْجِبَالَ عَلَى سَطْحِ هَذِهِ الْكُرَةِ جَارِيَةٌ مَجْرَى خُشُونَاتٍ تَحْصُلُ عَلَى وَجْهِ هَذِهِ الْكُرَةِ

 

Artinya: “Menurut pendapat saya mengenai persoalan yang sulit pada bagian ini, dapat dikatakan bahwa telah terbukti dengan dalil-dalil yang meyakinkan bahwa bumi berbentuk bulat. Dan telah terbukti pula bahwa gunung-gunung yang berada di permukaan Bumi yang bulat ini berfungsi seperti tonjolan-tonjolan atau permukaan yang kasar yang terdapat pada permukaan bola tersebut.”

 

Lebih lanjut, beliau mengatakan bahwa jika Bumi merupakan bola yang sempurna tanpa gunung dan tonjolan, Bumi akan lebih mudah mengalami gerakan berputar hanya dengan sebab yang kecil.

 

Karena itu, Imam ar-Razi memandang gunung-gunung yang berada di permukaan bumi seperti pasak-pasak yang tertancap pada sebuah bola. Dengan berat dan posisinya yang mengarah ke pusat Bumi, gunung-gunung tersebut berfungsi seperti pasak yang menghalangi gerakan berputar.


Dalam pengertian inilah gunung dipandang sebagai sesuatu yang mencegah bumi dari mayd, mayl, dan idhtirab, yaitu guncangan, kemiringan, dan ketidakstabilan. (Fakhruddin ar-Razi, Mafatihul Ghaib, [Beirut, Darul Ihya' at-Turats: 1420 H] juz 20 halaman 189-190).

 

Walhasil, Surat An-Nahl ayat 15 menunjukkan bahwa keberadaan gunung merupakan salah satu nikmat Allah bagi kehidupan manusia. Dalam penafsiran Imam Ibnu Jarir at-Thabari, gunung berfungsi sebagai rawasi, yaitu sesuatu yang kokoh dan tertancap di bumi, sehingga bumi tidak berguncang bersama makhluk yang berada di atasnya.

 

Sementara itu, Imam Fakhruddin ar-Razi tidak hanya menyampaikan pendapat yang masyhur tentang fungsi gunung sebagai penstabil bumi, tetapi juga mengajukan sejumlah kritik terhadap argumentasi tersebut. Setelah itu, beliau menawarkan penjelasan bahwa Bumi berbentuk bulat dan gunung-gunung merupakan tonjolan pada permukaannya yang berfungsi seperti pasak.

 

Dengan demikian, ayat ini tidak sekadar berbicara tentang gunung sebagai bentang alam, tetapi juga mengarahkan perhatian manusia kepada fungsi dan hikmah keberadaan gunung dalam sistem Bumi serta sebagai bagian dari nikmat Allah yang menunjang kehidupan manusia yang harus dijaga, dirawat dan dilestarikan. Wallahu a'lam.

 

Ustadz Muhamad Hanif Rahman, Dosen Ma'had Aly Al-Iman Bulus dan Pengurus LBM NU Purworejo.