Apakah Batal Mematikan HP yang Tiba-tiba Berdering saat Shalat?
NU Online ยท Rabu, 19 Oktober 2022 | 22:30 WIB
Alhafiz Kurniawan
Penulis
Assalamu โalaikum wr. wb.
Redaksi bahtsul masail NU Online, handphone (HP) salah seorang jamaah berdering tiba-tiba di tengah shalat berjamaah lima waktu atau shalat Jumat. Bagaimana kalau pemilik hape segera mematikan hapenya, apakah tindakan tersebut membatalkan shalatnya? Mohon penjelasannya. Terima kasih. Wassalamu โalaikum wr. wb. (Malik/Jakarta Utara)
Jawaban
Assalamu โalaikum wr. wb.
Penanya yang budiman, semoga Allah selalu menurunkan rahmat-Nya untuk kita semua. Kita dihadapkan pada situasi di mana kita tidak dapat terlepas dari HP termasuk di rumah ibadah. Suara HP jamaah di masjid kadang berdering di saat shalat berjamaah atau shalat Jumat tengah berlangsung. Peristiwa seperti ini cukup mengganggu konsentrasi jamaah dalam melaksanakan aktivitas shalat dan juga terutama konsentrasi imam.
Peristiwa seperti ini membuat seisi masjid serba salah. Jamaah pemilik HP yang sedang berdering juga menjadi malu atau juga panik apa yang harus dilakukan. Lalu bagaimana sebaiknya situasi ini dilihat dari sisi fiqih?
Masalah ini dapat dijawab dengan pendekatan kriteria gerakan yang boleh dan tidak boleh di dalam shalat. Dengan kriteria gerakan itu, kita dapat memberikan saran bagi jamaah pemilik HP yang panik tersebut.
Penanya yang budiman, sebagaimana kita ketahui bahwa shalat memiliki ketentuan yang mengharuskan kita untuk bergerak sesuai gerakan shalat. Shalat juga mengharuskan kita untuk tidak membuat banyak gerakan di luar gerakan shalat. Tetapi secara umum, ulama mazhab Syafiโi membagi empat jenis gerakan di dalam shalat, yaitu gerakan sedikit, gerakan banyak, gerakan kecil, dan gerakan besar.
Baca Juga
Bahtsul Masail tentang Hukum Merokok
Syekh M Nawawi Banten menyebutkan bahwa shalat menjadi batal karena gerakan besar, bukan gerakan kecil. Gerakan kecil tidak membatalkan shalat selama tidak dilakukan karena main-main. Kalau gerakan main-main, shalat menjadi batal. (Syekh Nawawi Al-Bantani, Nihayatuz Zain, [Bandung, Syirkah Al-Maarif: tanpa tahun], halaman 90).
ูุชุจุทู ุจุงููุซูุฑ ู
ุทููุงู ููุง ุชุจุทู ุจุงููููู ู
ุทููุงู ุฅูุง ุฅุฐุง ูุตุฏ ุจู ุงููุนุจ
Artinya, โShalat menjadi batal secara mutlak karena banyak gerakan (di luar gerakan shalat) dan tidak menjadi batal secara mutlak karena sedikit gerak kecuali dengan tujuan main-main,โ (Sulaiman Al-Bujairimi, Tuhfatul Habib ala Syarhil Khatib, [Beirut, Darul Fikr: 2006 M/1426-1427 H], juz II, halaman 87).
Gerakan kecil dan gerakan sedikit dalam shalat tidak membatalkan shalat sejauh tidak dilakukan secara main-main, tetapi ada hajat dan keperluan tertentu yang mengharuskan kita untuk bergerak. Jadi, niat, maksud, atau tujuan membuat gerakan (selain gerakan shalat) cukup menentukan sah dan batalnya shalat.
ูู
ุญู ุนุฏู
ุงูุจุทูุงู ุจุงููุนู ุงููููู ุฅู ูู
ููุตุฏ ุจู ุงููุนุจ ูุฅูุง ุฃุจุทู
Artinya, โKetidakbatalan shalat karena sedikit gerak terletak pada niatnya yang bukan untuk main-main. Tetapi jika dimaksudkan untuk main-main belaka, maka shalatnya menjadi batal,โ (Sayyid Bakri Syatha, Ianatut Thalibin, [Beirut, Darul Fikr: 2005 M/1425-1426 H] juz I, halaman 248).
Secara umum dalam mengatasi masalah gerakan di dalam shalat, kita dapat mengacu pada kaidah gerak shalat yang terdiri atas lima syarat. Kita dapat melihat bagaimana gerakan kita apakah termasuk dari gerakan yang membatalkan shalat atau tidak membatalkan.
ุญุงุตูู ุฃูู ูุง ูุจุทู ุฅูุง ุจุดุฑูุท ุฎู
ุณุฉ: ุฃู ูููู ูุซูุฑุง ูุฃู ูููู ู
ุชูุงููุง ูุฃู ูููู ุซูููุง ูุฃู ูููู ูุบูุฑ ุญุงุฌุฉ ูุฃู ุชููู ูุซุฑุชู ู
ุชูููุฉ
Artinya, โSimpulannya, shalat dapat menjadi batal karena gerak dengan memenuhi lima syarat: jumlah gerakan yang banyak, gerakan berturut-turut, gerakan berat, tanpa hajat apapun, dan jumlah banyak gerakan yang meyakinkan,โ (Syekh Iwadh dan Syekh Ibrahim Al-Baijuri, Hamisy Iqna alal Khathib, [Beirut, Darul Fikr: 1995 M/1415 H], halaman 149).
Dari berbagai keterangan di atas, kita dapat menyarankan jamaah shalat Jumat atau shalat berjamaah untuk segera mematikan atau menonaktifkan HP-nya yang tiba-tiba berdering di tengah shalat berjamaah sedang berlangsung tanpa perlu khawatir pada keabsahan shalatnya. Dalam hemat kami, penonaktifkan HP temasuk ke dalam gerakan kecil yang tidak membatalkan shalat dan gerakan itu dilakukan karena ada hajat.
Hal ini dilakukan sebagai langkah untuk mengatasi ketidaknyamanan bagi jamaah yang lupa menonaktifkan HP sebelumnya ketika shalat berjamaah lima waktu atau shalat Jumat sedang berlangsung yang tentunya memecah suasana khidmah dan mengganggu konsentrasi jamaah lainnya dan juga imam. Tetapi untuk mengantisipasi masalah ini, kami menyarankan jamaah untuk menonaktifkan atau memasang mode silent atau mode pesawat pada HP-nya sebelum shalat berlangsung agar hal ini tidak menjadi kebiasaan.
Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.
Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,
Wassalamu โalaikum wr. wb.
(Alhafiz Kurniawan)
Terpopuler
1
PWNU dan PCNU Se-DIY Tolak Politik Uang dalam Proses Muktamar NU
2
Lima Kelompok Ini Perlu Jadi Perhatian NU dalam Putusan Muktamar Ke-35 di Tambakberas
3
Kompensasi kepada Pemilih dengan Dalih Transportasi atau Ongkos Kerja untuk Memengaruhi Pilihan adalah Haram dan Suap
4
RAPBN 2027 Dana Pendidikan Rp240 Triliun untuk MBG, JPPI: Jangan Pelintir Putusan MK
5
Data Terbaru Gempa M7,7 NTT: 54 Meninggal Dunia, 199 Luka-Luka, 9 Ribu Warga Mengungsi
6
Jusuf Kalla Buka Suara soal Kerusuhan di Aceh: Konflik Internal, Bukan ke Pemerintah Pusat
Terkini
Lihat Semua