Daerah

Fatayat NU Kota Bekasi Dorong Perempuan Jadi Pilar Keluarga Maslahah di Tengah Beragam Tantangan Sosial

NU Online  ·  Ahad, 14 Juni 2026 | 13:00 WIB

Fatayat NU Kota Bekasi Dorong Perempuan Jadi Pilar Keluarga Maslahah di Tengah Beragam Tantangan Sosial

Seminar Nasional dan Konsolidasi bertajuk Mewujudkan Perempuan Berdampak Melalui Penguatan Keluarga Maslahah yang digelar di Pondok Pesantren Mahasina Darul Qur’an Wal Hadits, Kota Bekasi, Jawa Barat, pada Sabtu (13/6/2026). (Foto: NU Online/Jannah)

Bekasi, NU Online

Meningkatnya berbagai persoalan sosial yang dihadapi keluarga Indonesia, mulai dari tekanan ekonomi, kekerasan dalam rumah tangga, hingga tantangan pengasuhan anak di era digital, menuntut penguatan peran keluarga sebagai benteng utama masyarakat. Pengurus Cabang (PC) Fatayat NU Kota Bekasi mendorong penguatan konsep Keluarga Maslahah sebagai strategi membangun ketahanan keluarga sekaligus memperkuat posisi perempuan dalam kehidupan sosial.


Gagasan tersebut mengemuka dalam Seminar Nasional dan Konsolidasi bertajuk Mewujudkan Perempuan Berdampak melalui Penguatan Keluarga Maslahah yang digelar di Pondok Pesantren Mahasina Darul Qur’an wal Hadits, Kota Bekasi, Jawa Barat, Sabtu (13/6/2026).


Ketua PC Fatayat NU Kota Bekasi, Tika Siti Nurfatimah, menyampaikan bahwa perempuan memiliki posisi strategis dalam membangun ketahanan keluarga.


Menurutnya, konsep Keluarga Maslahah tidak berhenti pada upaya menciptakan keharmonisan rumah tangga, tetapi juga menghadirkan ruang yang aman dan mendukung bagi seluruh anggota keluarga untuk berkembang secara optimal.


“Di dalam keluarga, perempuan sering kali menjadi pendidik utama yang menanamkan nilai-nilai agama dan kepedulian sosial. Ketika perempuan memiliki pengetahuan, keterampilan, dan kemandirian yang baik, maka dampaknya akan dirasakan oleh seluruh anggota keluarga,” kata Tika.


Senada dengan itu, Wakil Ketua Lembaga Kemaslahatan Keluarga (LKK) PBNU, Nur Rofiah, menjelaskan bahwa konsep Keluarga Maslahah An-Nahdliyah berangkat dari nilai-nilai Islam yang menempatkan kemaslahatan sebagai tujuan utama kehidupan keluarga. Salah satu indikatornya ialah terciptanya suasana batin yang sakinah, mawaddah, dan rahmah.


“Sering kali masyarakat memahami keluarga sakinah hanya sebatas tidak adanya konflik. Padahal, keluarga yang maslahat adalah keluarga yang mampu memenuhi kebutuhan fisik, intelektual, spiritual, dan sosial seluruh anggotanya secara adil,” ujarnya.


Menurut Rofiah, kemaslahatan keluarga harus menjadi tujuan bersama seluruh anggota keluarga.


“Prinsip mubadalah menegaskan bahwa laki-laki dan perempuan merupakan mitra yang saling bekerja sama dalam mewujudkan kebaikan serta mencegah kemudaratan,” ucapnya.


“Karena itu, setiap keputusan keluarga harus mempertimbangkan kepentingan semua pihak, bukan hanya salah satu anggota keluarga,” sambungnya.


Sementara itu, Wakil Ketua Komnas Perempuan, Dahlia Madanih, menilai pendekatan Keluarga Maslahah relevan untuk menjawab persoalan kekerasan berbasis gender yang masih menjadi pekerjaan rumah besar di Indonesia.


Menurutnya, ketimpangan relasi kuasa dalam keluarga kerap menjadi akar berbagai bentuk kekerasan terhadap perempuan.


“Ketika nilai keadilan, keseimbangan, dan kesalingan diterapkan dalam keluarga, maka ruang terjadinya kekerasan akan semakin sempit. Perempuan memiliki hak yang sama untuk didengar, dihargai, dan terlibat dalam pengambilan keputusan yang menyangkut kehidupan keluarga,” ujarnya.


Acara tersebut turut dihadiri A’wan PBNU Nyai Badriyah Fayumi, Sekretaris Umum PP Pergunu Aris Adi Leksono, Rais Syuriyah PCNU Kota Bekasi KH Abu Bakar Rahziz, Ketua PCNU Kota Bekasi KH Ayi Nurdin, dan Ketua PW Fatayat NU Jawa Barat Nyai Minyatul Ummah.