Jelang Piala Dunia 2026, PWNU Aceh Ingatkan Warga Jadikan Sepak Bola Sarana Ukhuwah, Bukan Perjudian
NU Online · Jumat, 12 Juni 2026 | 12:30 WIB
Helmi Abu Bakar
Kontributor
Banda Aceh, NU Online
Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Aceh mengajak masyarakat menyambut perhelatan Piala Dunia 2026 dengan semangat sportivitas, memperkuat persaudaraan, serta menjauhi segala bentuk perjudian dan aktivitas yang bertentangan dengan syariat Islam.
Ketua PWNU Aceh, Tgk. H. Faisal Ali atau yang akrab disapa Abu Sibreh, mengatakan sepak bola merupakan olahraga yang dapat menjadi sarana hiburan sekaligus mempererat hubungan sosial antarwarga apabila dinikmati secara bijak dan tidak melalaikan kewajiban agama.
“Pesta sepak bola dunia hendaknya dijadikan sebagai momentum memperkuat ukhuwah, mempererat silaturahmi sesama pencinta olahraga, serta menumbuhkan semangat positif dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Abu Sibreh, Kamis (11/6/2026).
Menurut Abu Sibreh yang juga menjabat Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh, masyarakat perlu menjaga keseimbangan antara aktivitas hiburan dan kewajiban sebagai seorang Muslim. Ia mengingatkan agar euforia pertandingan tidak sampai membuat seseorang meninggalkan salat, mengabaikan pekerjaan, maupun melalaikan tanggung jawab keluarga.
“Jangan sampai karena menonton bola seseorang lalai dari kewajiban ibadah, meninggalkan tugas belajar, ataupun mengabaikan kewajiban mencari nafkah. Hiburan harus tetap berada dalam koridor syariat,” katanya.
PWNU Aceh juga mengingatkan masyarakat untuk menjauhi berbagai praktik negatif yang sering muncul saat berlangsungnya kompetisi olahraga besar, terutama perjudian dan taruhan pertandingan.
Abu Sibreh menegaskan bahwa segala bentuk taruhan, baik dalam nominal besar maupun kecil, tetap termasuk perbuatan yang dilarang dalam Islam. Menurutnya, ukuran perjudian bukan ditentukan oleh nilai yang dipertaruhkan, melainkan adanya unsur untung-rugi yang dikaitkan dengan hasil pertandingan.
“Kadang ada yang menganggap sepele taruhan skor dengan konsekuensi mentraktir kopi atau bentuk lainnya. Dalam pandangan syariat, selama ada unsur pertaruhan berdasarkan hasil pertandingan, maka hal tersebut termasuk perjudian yang harus dihindari,” tegasnya.
Selain itu, PWNU Aceh juga mengimbau para penggemar sepak bola agar menjaga etika selama menyaksikan pertandingan, baik secara langsung maupun melalui kegiatan nonton bareng. Fanatisme terhadap tim tertentu, menurutnya, tidak boleh berubah menjadi permusuhan, caci maki, ujaran kebencian, ataupun tindakan yang mengganggu ketenteraman masyarakat.
“Olahraga harus menjadi sarana mempererat persaudaraan, bukan memecah belah. Karena itu, mari kita junjung tinggi sportivitas dan menjaga akhlak selama menyaksikan pertandingan,” ujarnya.
PWNU Aceh juga mengingatkan generasi muda agar menjauhi narkoba, minuman keras, dan berbagai bentuk kemaksiatan yang kerap muncul dalam momentum keramaian dan hiburan.
Abu Sibreh berharap masyarakat Aceh dapat menikmati Piala Dunia 2026 dengan tetap menjaga nilai-nilai keislaman, adat, dan budaya yang selama ini menjadi karakter masyarakat Aceh.
“Silakan menikmati pertandingan dan mendukung tim favorit masing-masing. Namun yang paling penting adalah menjaga ibadah, menjauhi judi, memperkuat ukhuwah, dan menjadikan olahraga sebagai sarana mempererat persatuan serta semangat kebersamaan,” pungkasnya.
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: Meneladani Hidup Rasulullah di Masa Ekonomi Sulit
2
Khutbah Jumat: Sebelum Memilih dan Memutuskan, Bertanyalah kepada Allah melalui Istikharah
3
Pendaftaran Seleksi Beasiswa Al-Azhar Mesir Melalui Akun Pesantren, Berikut Panduannya
4
Khutbah Jumat: Tanda-tanda Haji Mabrur dalam Kehidupan Sosial dan Keagamaan
5
PBNU Tetapkan Pesantren Al-Falah Ploso Kediri sebagai Lokasi Pembukaan Munas-Konbes NU 2026
6
TNI-Polri Hadang Massa Aksi BEM UI yang Hendak Menuju Bundaran HI
Terkini
Lihat Semua