Daerah

Puasa dan Bencana Ajarkan Kesadaran Spiritual dan Solidaritas Sosial

NU Online  ·  Sabtu, 21 Maret 2026 | 20:00 WIB

Puasa dan Bencana Ajarkan Kesadaran Spiritual dan Solidaritas Sosial

Batu batu besar di dasar sungai pascabanjir Aceh. (Foto: LAZISNU)

Aceh Utara, NU OnlineK

Ketua LAZISNU Aceh, Tgk. H. Akmal Abzal menegaskan bahwa puasa Ramadhan dan berbagai bencana yang terjadi di tengah masyarakat memiliki hikmah besar dalam membentuk kesadaran spiritual dan sosial umat.

 

Hal tersebut disampaikan dalam khutbah Idulfitri yang digelar di Masjid Jabal Rahmah, Kecamatan Muara Batu, Kabupaten Aceh Utara, Sabtu (21/3/2026), dengan tema Menjemput Hikmah di Balik Puasa dan Bencana.

 

Dalam khutbahnya, Tgk. Akmal yang juga merupakan Pimpinan LPI Al-Ansar Lambaro, Aceh Besar, mengajak umat Islam untuk tidak memandang bencana semata sebagai musibah, melainkan sebagai momentum refleksi diri dan perbaikan kehidupan.

 

Alumni Dayah BUDI Lamno itu menegaskan bahwa dalam perspektif Islam, setiap ujian mengandung hikmah dan pesan Ilahi agar manusia kembali kepada nilai-nilai kebaikan.

 

“Sering kali manusia melihat bencana sebagai hukuman, padahal dalam ajaran Islam, ujian itu mengandung hikmah untuk memperbaiki diri dan kembali kepada Allah,” ujarnya di hadapan jamaah.

 

Ia mengutip pesan Allah dalam Al-Qur’an yang menegaskan bahwa ibadah puasa bertujuan membentuk ketakwaan, serta ayat yang mengingatkan manusia untuk kembali kepada Allah ketika terjadi kerusakan di muka bumi.

 

Menurutnya, puasa dan bencana memiliki keterkaitan yang erat sebagai sarana pembelajaran hidup. Puasa membentuk karakter individu, sementara bencana membentuk kesadaran kolektif dalam masyarakat.

 

“Puasa mengajarkan kita menahan diri, sabar, dan peduli terhadap sesama. Sementara bencana mengingatkan kita tentang keterbatasan manusia dan pentingnya kebersamaan,” jelasnya.

 

Tgk. Akmal juga mencontohkan kisah Nabi Adam AS sebagai gambaran bahwa ujian tidak selalu berujung pada kehancuran, melainkan dapat membuka jalan bagi peran dan tanggung jawab yang lebih besar.

 

“Ketika Nabi Adam melakukan kesalahan, itu bukan akhir segalanya. Justru dari situ lahir peran manusia sebagai khalifah di bumi. Ini menunjukkan bahwa ujian dapat melahirkan peradaban,” katanya.


Dalam konteks Aceh, ia menyinggung pengalaman bencana tsunami 2004 yang membawa perubahan besar dalam kehidupan masyarakat.

 

Menurutnya, bencana tersebut tidak hanya meninggalkan duka, tetapi juga membuka jalan bagi perdamaian dan transformasi sosial. “Dari bencana besar itu, lahir perdamaian dan keterbukaan. Masyarakat menjadi lebih inklusif dan rasa kebersamaan semakin kuat,” ungkapnya.

 

Ia juga menyinggung pandemi Covid-19 sebagai contoh bagaimana krisis global mampu mendorong perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan. “Pandemi telah mempercepat digitalisasi dan melahirkan pola hidup baru. Ini menunjukkan bahwa di balik krisis, selalu ada peluang perubahan,” tambahnya.

 

Lebih lanjut, Tgk. Akmal menekankan bahwa puasa memiliki peran penting dalam mengendalikan hawa nafsu dan membentuk karakter manusia yang lebih baik.

 

Menurutnya, di tengah kondisi sosial ekonomi yang penuh tantangan, puasa menjadi mekanisme etis untuk menahan sikap berlebihan, seperti rakus, tamak, dan perilaku konsumtif. “Puasa mengajarkan kita untuk hidup sederhana, menahan diri, dan memahami arti cukup. Ini sangat penting di tengah kehidupan modern yang serba berlebihan,” ujarnya.


Ia juga mengingatkan bahwa hati manusia menjadi penentu utama perilaku, sebagaimana disebutkan dalam hadis Rasulullah SAW. “Jika hati baik, maka baiklah seluruh perilaku. Puasa menjadi sarana untuk membersihkan hati agar manusia dapat bersikap lebih bijak dalam kehidupan,” katanya.


Selain itu, ia menegaskan pentingnya menjaga keseimbangan antara hubungan dengan Allah dan hubungan dengan sesama manusia.

 

Menurutnya, Idul Fitri harus dimaknai sebagai momentum untuk kembali kepada fitrah, sekaligus memperbaiki hubungan sosial yang mungkin sempat renggang.

“Idulfitri bukan…