Khutbah

Khutbah Idul Fitri 2026: Makna Kemenangan dan Kembali Ke Fitrah

NU Online  ·  Jumat, 20 Maret 2026 | 12:00 WIB

Khutbah Idul Fitri 2026: Makna Kemenangan dan Kembali Ke Fitrah

Khutbah Idul Fitri 2026 tentang makna kemenangan (NUO)

Kini, Ramadhan telah berlalu meninggalkan kita. Selama satu bulan penuh, kita telah berpuasa dan beribadah di bulan Ramadhan dengan bersungguh-sungguh dan mengharapkan ridha dan pahala dari Allah. Apakah kemudian kita telah memaksimalkan bulan Ramadhan tahun ini sehingga kita meraih kemenangan? Bagaimana makna kemenangan di hari raya ini, sehingga kita perlu merayakannya?
 

Teks khutbah Idul Fitri berikut berjudul: "Khutbah Idul Fitri 2025: Makna Kemenangan dan Kembali ke Fitrah." Untuk mencetak naskah khutbah Jumat ini, silakan klik ikon print berwarna merah di atas atau bawah artikel ini (pada tampilan dekstop). Semoga bermanfaat

 

Khutbah I
 

اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) وَلِلّٰهِ اْلحَمْدُ. اللهُ أَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لَاإِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لاَإِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ اْلحَمْدُ
 

الْحَمْدُ لِلهِ الََّذِيْ بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ، وَبِفَضْلِهِ تُنَالُ الْخَيْرَاتُ وَالْبَرَكَاتُ، أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ عَلَى مَا مَنَّ بِهِ عَلَيْنَا مِنْ بُلُوْغِ شَهْرِ رَمَضَانَ وَصِيَامِهِ وَقِيَامِهِ، وَنَسْألُهُ الْقَبُوْلَ وَالْمَغْفِرَةَ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ تَعْظِيْمًا لِشَأْنِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، الدَّاعِيْ إِلَى تَعْظِيْمِ اللهِ وَإِظْهَارِ شَعَائِرِ دِيْنِهِ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً وَسَلَامًا مُتَلَازِمَيْنِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ أَمَّا بَعْدُ, فَيَاأَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ 
 

قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ. أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ
 

Jamaah shalat Idul Fitri yang dimuliakan Allah 
Merupakan sebuah keniscayaan bagi kita selaku umat Islam untuk selalu memanjatkan puji dan syukur kepada Allah swt yang telah memberikan kita berbagai macam kenikmatan terutama nikmat iman dan Islam. Nikmat terbesar yang kita miliki. 
 

Tak lupa pula shalawat beserta salam, mari kita haturkan bersama kepada Nabi Muhammad saw, juga kepada para keluarganya, sahabatnya, dan semoga melimpah kepada kita semua selaku umatnya. Amin ya Rabbal ‘alamin
 

Khatib juga mengajak pada jamaah sekalian sekaligus diri pribadi agar selalu meningkatkan takwa kepada Allah swt dengan cara menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.
 

أَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ اْلحَمْدُ
 

Jamaah shalat Idul Fitri yang dimuliakan Allah
Ramadhan merupakan bulan yang dipenuhi keberkahan. Kini, Ramadhan telah berlalu meninggalkan kita. Selama satu bulan penuh, kita telah berpuasa dan beribadah di bulan Ramadhan dengan bersungguh-sungguh dan mengharapkan ridha dan pahala dari Allah. 
 

Apakah kemudian kita telah memaksimalkan bulan Ramadhan tahun ini sehingga kita meraih kemenangan? Bagaimana makna kemenangan di hari raya ini, sehingga kita perlu merayakannya? Sesuatu yang perlu kita renungkan dan tanyakan pada diri sendiri apakah kita telah memanfaatkan Ramadhan tahun ini dengan baik.
 

أَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ اْلحَمْدُ
 

Jamaah shalat Idul Fitri yang dimuliakan Allah
Dalam sebuah hadits riwayat Ibnu Majah disebutkan bahwa orang yang memanfaatkan bulan Ramadhan dengan baik ialah mereka yang mengisi bulan Ramadhan dengan ibadah kepada Allah. Berpuasa di siang hari, dan beribadah di malam harinya dengan didasarkan pada keimanan dan berharap ridha-Nya. Barangsiapa melakukannya, maka dosa-dosanya akan diampuni dan ia diibaratkan sebagaimana anak kecil yang baru keluar dari ibunya.
 

حَدَّثَنِي أَبِي أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - ذَكَرَ شَهْرَ رَمَضَانَ فَقَالَ: شَهْرٌ كَتَبَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ، وَسَنَنْتُ لَكُمْ قِيَامَهُ، فَمَنْ صَامَهُ وَقَامَهُ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا خَرَجَ مِنْ ذُنُوبِهِ ‌كَيَوْمِ ‌وَلَدَتْهُ ‌أُمُّهُ
 

Artinya: "Abu Salamah bin Abdurrahman berkata: 'Ayahku telah menceritakan kepadaku bahwa Rasulullah saw menyebutkan bulan Ramadhan. Nabi bersabda: 'Bulan yang mana Allah mewajibkan kepada kalian berpuasa di dalamnya, menyunnahkan ibadah di malam harinya. Barangsiapa berpuasa dan mengisi malam harinya dengan ibadah dalam keadaan beriman dan mencari keridhaan, maka ia akan keluar dari dosa-dosanya sebagaimana hari di mana ibunya melahirkannya'.” (HR. Ibnu Majah).
 

أَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ اْلحَمْدُ
 

Jamaah shalat Idul Fitri yang dimuliakan Allah
Hadits di atas mengingatkan kepada kita selaku umat Islam bagaimana salah satu contoh seorang Muslim yang meraih kemenangan di hari raya ini. Orang-orang yang memanfaatkan Ramadhan dengan baik untuk beribadah kepada Allah akan meraih kesucian dosa selayaknya bayi yang baru lahir dari ibunya.
 

Hal tersebut menunjukkan, pada hakikatnya yang penting bagi kita adalah amal perbuatan yang baik, bukan hanya bagian zahir yang tampak pada diri kita, selaku umat Islam.
 

Dalam hadits, Rasulullah saw bersabda:
 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ‌إِنَّ ‌اللهَ ‌لَا ‌يَنْظُرُ ‌إِلَى ‌صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ
 

Artinya: “Dari Abi Hurairah berkata, Rasulullah Saw bersabda: 'Sesungguhnya Allah tidak melihat pada rupa dan harta kalian, melainkan Allah melihat pada hati dan amal perbuatan kalian.” (HR. Muslim).
 

أَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ اْلحَمْدُ
 

Jamaah shalat Idul Fitri yang dimuliakan Allah
Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim, juz XVI halaman 121, menjelaskan maksud hadits di atas:
 

وَمَعْنَى نَظَرِ اللهِ هُنَا مُجَازَاتُهُ وَمُحَاسَبَتُهُ أَيْ إِنَّمَا يَكُونُ ذَلِكَ عَلَى مَا فِي الْقَلْبِ دُوْنَ الصُّوَرِ الظََّاهِرَةِ وَنَظَرُ اللَّهِ رُؤْيَتُهُ مُحِيْطٌ بِكُلِّ شَيْءٍ وَمَقْصُودُ الْحَدِيثِ أَنَّ الِاعْتِبَارَ فِي هَذَا كُلِّهِ بِالْقَلْبِ
 

Artinya: “Makna Allah melihat dalam hadits ini ialah Allah akan membalas semua amal ibadahnya yakni yang Allah lihat ialah apa yang ada di dalam hati bukan rupa yang tampak. Penglihatan Allah meliputi kepada segala sesuatu. Adapun yang menjadi pertimbangan pada semuanya ialah hatinya”.
 

Hadits di atas memberikan refleksi kepada kita untuk merenung dan menginstrospeksi diri. Sudahkah kita memanfaatkan waktu dengan baik di bulan Ramadhan, pantaskah kita merayakan hari raya ini dengan suka cita? Apakah kita termasuk yang meraih kemenangan di hari raya ini?
 

Kemenangan bisa berarti banyak hal dan bisa dilihat dari berbagai macam sudut pandang. Dari sendiri dengan membiarkan berbuat baik sebagaimana di bulan Ramadhan dan dari orang-orang di sekeliling kita, apakah kita bisa bermanfaat untuk orang-orang di sekitar kita. 
 

Semoga kita termasuk ke dalam bagian orang-orang yang meraih kemenangan di hari raya Idul Fitri kali ini dengan pembuktian bahwa kita akan menjalani hari-hari berikutnya setelah Ramadhan dengan baik. Sehingga kita termasuk orang-orang yang beruntung di dunia dan akhirat. Amin.
 

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاٰيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَيَا فَوْزَ الْمُسْتَغْفِرِيْنَ وَيَا نَجَاةَ التَّائِبِيْنَ
 

Khutbah II 
 

اللهُ اَكْبَرُ (٣×) اللهُ اَكْبَرُ (٤×) اللهُ اَكْبَرُ كبيرًا وَاْلحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ الله وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لاَ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ اْلحَمْدُ
الْحَمْدُ لِلهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ

 

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى اِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
 

اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَتَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

عِبَادَ اللهِ، اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَر.ِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرُ

 


Ustadz Alwi Jamalulel Ubab, Penulis Tinggal di Indramayu