Doa Ta’ziyah
Ta'ziyah atau melayat orang yang meninggal dunia merupakan bagian dari ibadah yang dianjurkan dalam Islam, baik sebelum jenazah dikebumikan maupun sesudahnya hingga sekitar tiga hari.
Kumpulan artikel kategori Doa
Ta'ziyah atau melayat orang yang meninggal dunia merupakan bagian dari ibadah yang dianjurkan dalam Islam, baik sebelum jenazah dikebumikan maupun sesudahnya hingga sekitar tiga hari.
Doa ini dikutip dari kitab Nihayatuz Zain karya Syekh Muhammad Nawawi Al-Bantani. Menurutnya, doa ini dibaca setelah tasyahhud akhir, sebelum salam. Semoga Allah mengangkat derajat kita semua dan menempatkan kita di jalan yang Dia restui
Islam mengajarkan berbuat baik kepada siapa saja, bahkan kepada apa saja. Pesan bahwa Rasulullah diutus sebagai penebar kasih sayang bagi seluruh alam (rahamtan lil alamin) merupakan legitimasi dari sikap tersebut. Sebagaimana pula Allah yang diyakini sebagai rabbul 'alamin (Tuhan bagi seluruh alam).
Suatu kali seorang kaki pria di sebelah Ibnu Abbas mengalami kebas (kejang otot, kram, kesemutan). Ibnu Abbas berkata: “Sebutkan nama manusia yang paling mencintaimu! Pria itu lantas mengucapkan ‘Muhammad shallallâhu ‘alaihi wasallam."
Suatu kali Rasulullah didatangi Salma Ummu Rafi’. Budak perempuan yang dimerdekakannya ini meminta petunjuk Rasulullah tentang amalan apa bisa ia praktikkan. Nabi shallallâhu ‘alaihi wasallam pun menjawab, “Saat engkau hendak menunaikan shalat...
Lagi-lagi kita tidak tahu waktu pasti terjadinya lailatul qadar. Untuk itu do’a yang diajarkan Rasul ini sangat baik untuk dibaca pada terutama sepuluh malam terakhir Ramadhan
Berbuka menjadi momen membahagiakan bagi orang-orang yang berpuasa, sebelum kebahagiaan mereka saat bertemu Rabb-nya. Rasulullah menjadikan momen ini sebagai pengungkapan komitmen dan rasa syukur, sebagaimana yang tercermin dari bacaan yang beliau lafalkan saat berbuka.
Jika ramadlâni diposisikan sebagai mudhaf maka hadzihissanati mesti berposisi sebagai mudhaf ilaih dan harus dibaca kasrah. Pembacaan dengan model mudhaf-mudhaf ilaih inilah yang paling dianjurkan. Sehingga bacaan yang sempurna menjadi:
Jumat menjadi hari istimewa. Dalam kamus Islam, Jumat mendapat julukan sayyidul ayyam (rajanya hari). Ia mendapat kekhususan posisi sehingga amalan ibadah dinilai lebih utama saat dilaksanakan pada hari Jumat. Rasulullah pun memiliki amalan khusus tentang hal ini.
Manusia hanya bisa berencana tapi Tuhanlah yang menentukan. Ungkapan ini senapas dengan ajaran Islam yang di satu sisi manusia diimbau untuk senantiasa berusaha dalam meraih cita-cita. Tapi di sisi lain diperintahkan pula untuk berpasrah diri kepada Allah soal hasil dari usaha tersebut.
Asyhadu allâ ilâha illallâhu wahdahû lâ syarîka lahu wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhû wa rasûluhû, allâhummaj'alnî minat tawwâbîna waj'alnii minal mutathahhirîna.
Secara nurani, setiap manusia tak ingin memiliki musuh dan sama sekali tak dianjurkan mencari-carinya. Hanya saja, watak hidup yang dinamis membuat kita nyaris tak bisa menghindar dari musuh, atau setidaknya dimusuhi. Kala berhadapan dengan musuh, terutama yang agresif dan membahayakan diri kita, seseorang dianjurkan untuk membela diri.