Sepanjang hayat, saat Rasulullah memimpin ibadah, tidak pernah sekalipun menyusahkan para sahabat yang menjadi makmumnya. Hal ini karena kegiatan yang dilakukan Rasulullah selalu sedang-sedang saja, tidak terlalu cepat, juga tidak terlampau lama. Rasulullah tidak berlebihan.ย
Sahabat Abdullah bin Jabir mengakui lewat ceritanya yang terekam pada sebuah hadits sebagai berikut:
ููููุชู ุฃุตููููู ู
ูุนู ุงููููุจููู - ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู
- ุงูุตููููููุงุชูุ ููููุงูุชู ุตููุงุชููู ููุตูุฏูุง ููุฎูุทูุจูุชููู ููุตูุฏูุง
Artinya: โSaya shalat bersama Nabi ๏ทบ berkali-kali. Shalat beliau sedang, khutbahnya juga sedang (tidak terlalu cepat dan tidak terlampau lama).โ (HR Muslim: 866)ย
Satu ketika Salman al-Farisi berkunjung ke rumah Abu Dardaโ. Kita tahu, antara mereka berdua sudah diikatkan persaudaraan oleh Rasulullah ๏ทบ. Rasulullah banyak mengikatkan persaudaraan sahabat, antara kaum muhajirin sebagai pendatang dengan kaum anshar sebagai pribumi. Sahabat Salman yang terkenal dengan ide briliannya membuat parit pada perang Khandaq ini merupakan asli warga Persia. Oleh Baginda Nabi Muhammad ๏ทบ, ia diikatkan persaudaraan dengan warga lokal (anshar) bernama Abu Dardaโ.
Saat Salman masuk ke rumah Abu Dardaโ pada suatu ketika ia melihat ibunda Darโda sedang memakai pakaian lusuh yang kurang layak pakai. Salman mencoba menelisik, apa gerangan yang menjadikan ibunda Dardaโ memakai pakaian yang sedemikian buruk.
โBu, anda ini kenapa?โ tanya Salman pada sang Ibu.ย
โItu lho, saudaramu Abu Dardaโ sudah tidak butuh dunia lagi.โย
Habis mengatakan begitu, Abu Dardaโ datang, ia mempersiapkan jamuan makan untuk tamu yang sekaligus saudaranya tersebut. Sembari mempersilahkan, Abu Dardaโ mengatakan, โAyo, silakan dimakan. Saya sedang puasa ini.โ
Salman menjawab, โTidak, saya tidak mau makan kalau kamu tidak juga makan.โย
Akhirnya mereka makan bersama-sama.ย
Usai makan, Salman menginap di rumah Abu Dardaโ. Di dalam keheningan malam, di saat seluruh anggota keluarga tidur, Abu Dardaโ yang sedang tidur bersama Salman meninggalkan tempat. Ia melaksanakan shalat malam. Namun tiba-tiba Salman menyergahnya. โAyo, tidur lagi!โ suruh Salman.ย
Setelah Abu Dardaโ tidur, ia bangun lagi, dan disuruh tidur lagi oleh Salman untuk yang kedua kalinya. Hingga mereka berdua memasuki waktu subuh. Saat subuh benar-benar menyapa, Salman baru kemudian mengajak Abu Dardaโ bangun. โNah, kalau sekarang, ayo bangun!โ Mereka berdua melakukan shalat secara berjamaah.ย
Usai shalat, Salman menasihati saudaranya tersebut, โTuhanmu mempunyai hak yang harus kamu tunaikan. Tubuhmu juga mempunyai hak yang harus kamu berikan. Begitu pula keluargamu juga mempunyai hak yang wajib kamu penuhi. Berilah haknya masing-masing sesuai porsinya.โ
Setelah mendapat nasihat, Abu Dardaโ sowan kepada Baginda Rasul ๏ทบ. Ia menuturkan kisah yang baru saja terjadi. Lalu Rasul menjawab, โBenar apa yang dikatakan Salman.โ (HR Bukhari: 1968)
Hampir senada dengan cerita di atas, hadits riwayat dari Anas. Satu ketika Nabi Muhammad ๏ทบ masuk ke dalam masjid. Di sana, Rasul melihat ada tali yang membentang antara dua tiang masjid.ย
โTali apa ini?โ tanya Rasulย
โOh, itu tali milik ibu Zaenab, Ya Rasul. Saat letih, beliau berpegangan pada seutas tali itu,โ jawab sahabat.ย
Rasul kemudian berpesan, โLepaskan tali itu. Shalatlah kalian saat bugar. Ketika capek, tidurlah.โ (Muttafaq โAlaih)
Hadits di atas memberikan pelajaran kepada kita, ibadah-ibadah sunnah itu sangat bagus nilai pahalanya. Namun kita perlu adil dalam membagi waktu. Jangan sampai kita beribadah, namun ada hak lain yang perlu kita penuhi namun belum terbayarkan. Apalagi, makna ibadah sejatinya amat luas. Ia tak sebatas pada ritual-ritual, tapi juga mencakup berbagai aktivitas lain seperti bekerja, memasak, merawat keluarga, dan lainnya yang dilandasi niat ibadah. Wallรขhu aโlam. (Ahmad Mundzir)