Hikmah

Bagaimana Rasulullah Menghibur Orang yang Sedang Berduka?

NU Online  ยท  Rabu, 16 September 2026 | 09:00 WIB

Bagaimana Rasulullah Menghibur Orang yang Sedang Berduka?

Ilustrasi kaligrafi Muhammad. Sumber: Canva.

Kehilangan orang yang dicintai tentu meninggalkan kesedihan yang mendalam. Dalam keadaan seperti itu, seseorang terkadang tidak membutuhkan banyak nasihat. Ia lebih membutuhkan orang yang mau hadir, mendengarkan, dan memahami kesedihannya.


Rasulullah SAW memberikan banyak teladan tentang cara menghadapi orang yang sedang berduka. Beliau tidak menegur orang yang menangis karena kehilangan, tidak memaksa mereka segera melupakan kesedihannya, dan tidak selalu memberikan nasihat panjang. Dalam banyak keadaan, Rasulullah justru menunjukkan empati melalui sikap, perkataan, dan bantuan nyata.


Menangis Saat Berduka adalah Hal yang Wajar

Sebagian orang terkadang menganggap bahwa menangis ketika kehilangan orang yang dicintai menunjukkan kurangnya kesabaran dalam menerima ketentuan Allah. Padahal, Rasulullah saw. sendiri pernah menangis ketika putranya, Ibrahim, meninggal dunia.


Ketika melihat Rasulullah menangis, Abdurrahman bin Auf sempat bertanya kepada beliau. Rasulullah kemudian menjelaskan bahwa tangisan tersebut merupakan bentuk kasih sayang.


Hal ini diriwayatkan dari Anas bin Malik:


ู‚ุงู„ ุฃู†ุณ - ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ -: ุฏุฎู„ู†ุง ู…ุนูŽ ุฑุณูˆู„ู ุงู„ู„ู‡ ุนู„ู‰ ุฃุจูŠ ุณูŽูŠู’ูู ุงู„ู‚ูŽูŠู’ู†ู - ูˆูƒุงู† ุธูุฆุฑู‹ุง ู„ุฅุจุฑุงู‡ูŠู…ูŽ - ูุฃุฎุฐูŽ ุฑุณูˆู„ู ุงู„ู„ู‡ ุฅุจุฑุงู‡ูŠู…ูŽ ููŽู‚ูŽุจู‘ูŽู„ูŽู‡ู ูˆุดู…ู‘ูŽู‡ุŒ ุซู… ุฏุฎู„ู†ุง ุนู„ูŠู‡ู ุจุนุฏูŽ ุฐู„ูƒูŽุŒ ูˆุฅุจุฑุงู‡ูŠู…ู ูŠุฌูˆุฏู ุจู†ูุณู‡ุŒ ูุฌุนู„ูŽุชู’ ุนูŠู†ุง ุฑุณูˆู„ู ุงู„ู„ู‡ ุชูŽุฐู’ุฑูููŽุงู†ูุŒ ูู‚ุงู„ูŽ ู„ู‡ ุนุจุฏู ุงู„ุฑุญู…ู† ุจู† ุนูŽูˆู’ูู: ูˆุฃู†ุชูŽ ูŠุง ุฑุณูˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‡ุŸ ูู‚ุงู„ูŽ: ยซูŠุง ุงุจู† ุนูˆูู! ุฅู†ู‡ุง ุฑุญู…ุฉูŒยปุŒ ุซู… ุฃูŽุชู’ุจูŽุนูŽู‡ุง ุจุฃูุฎุฑู‰ ูู‚ุงู„: ยซุฅู† ุงู„ุนูŠู†ูŽ ุชูŽุฏู…ุนูุŒ ูˆุงู„ู‚ู„ุจู ูŠุญุฒู†ูุŒ ูˆู„ุง ู†ู‚ูˆู„ู ุฅู„ุง ู…ุง ูŠูุฑุถูŠ ุฑุจู†ุงุŒ ูˆุฅู†ุง ู„ููุฑุงู‚ููƒูŽ ูŠุง ุฅุจุฑุงู‡ูŠู… ู„ูŽู…ูŽุญู’ุฒููˆู†ูˆู†ยป.


Artinya, โ€œAnas ra. berkata: Kami masuk bersama Rasulullah saw. ke rumah Abu Saif al-Qayn, yang merupakan suami dari ibu susuan Ibrahim, putra Rasulullah. Rasulullah kemudian mengambil Ibrahim, menciumnya, dan mencium aromanya.


Setelah itu kami kembali mendatanginya ketika Ibrahim sedang menghadapi sakaratul maut. Kedua mata Rasulullah pun meneteskan air mata. Abdurrahman bin Auf berkata, โ€˜Engkau juga menangis, wahai Rasulullah?โ€™


Beliau menjawab, โ€˜Wahai Ibnu Auf, sesungguhnya ini adalah kasih sayang.โ€™


Kemudian beliau bersabda, โ€˜Sesungguhnya mata meneteskan air mata, hati bersedih, tetapi kami tidak mengatakan kecuali sesuatu yang diridhai Tuhan kami. Sungguh, kami bersedih atas perpisahan denganmu, wahai Ibrahim.โ€™โ€ (HR. Bukhari)


Hadits ini menunjukkan bahwa kesedihan dan tangisan tidak bertentangan dengan kesabaran. Seseorang boleh menangis ketika kehilangan orang yang dicintainya selama tidak disertai ucapan atau tindakan yang menunjukkan penolakan terhadap ketentuan Allah.


Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari mengutip penjelasan Ibnu Baththal:


ู‚ูŽุงู„ูŽ ุงุจู†ู ุจูŽุทู‘ูŽุงู„ู ูˆูŽุบูŽูŠู’ุฑูู‡ู: ู‡ูŽุฐูŽุง ุงู„ู’ุญูŽุฏููŠุซู ูŠูููŽุณู‘ูุฑู ุงู„ู’ุจููƒูŽุงุกูŽ ุงู„ู’ู…ูุจูŽุงุญูŽ ูˆูŽุงู„ู’ุญูุฒู’ู†ูŽ ุงู„ู’ุฌูŽุงุฆูุฒูŽุŒ ูˆูŽู‡ููˆูŽ ู…ูŽุง ูƒูŽุงู†ูŽ ุจูุฏูŽู…ู’ุนู ุงู„ู’ุนูŽูŠู’ู†ู ูˆูŽุฑูู‚ู‘ูŽุฉู ุงู„ู’ู‚ูŽู„ู’ุจู ู…ูู†ู’ ุบูŽูŠู’ุฑู ุณูุฎู’ุทู ู„ูุฃูŽู…ู’ุฑู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูุŒ ูˆูŽู‡ููˆูŽ ุฃูŽุจู’ูŠูŽู†ู ุดูŽูŠู’ุกู ูˆูŽู‚ูŽุนูŽ ูููŠ ู‡ูŽุฐูŽุง ุงู„ู’ู…ูŽุนู’ู†ูŽู‰.


Artinya, โ€œIbnu Baththal dan ulama lainnya berkata: Hadits ini menjelaskan tangisan yang diperbolehkan dan kesedihan yang dibenarkan, yaitu tangisan berupa air mata dan kelembutan hati tanpa disertai kemarahan terhadap ketentuan Allah. Hadits ini merupakan salah satu penjelasan yang paling jelas mengenai persoalan tersebut.โ€ (Fathul Bari bi Syarhil Bukhari, [Mesir: Al-Maktabah As-Salafiyyah, 1390 H], jilid III, halaman 174).


Dari sini dapat dipahami bahwa menangis ketika berduka merupakan hal yang manusiawi. Rasulullah tidak melarang air mata. Yang beliau ajarkan adalah bagaimana seseorang tetap menjaga ucapan dan sikapnya ketika menghadapi kehilangan.


Membantu Keluarga yang Sedang Berduka

Rasulullah SAW juga mengajarkan bahwa menghibur orang yang sedang berduka tidak hanya dilakukan melalui ucapan. Bantuan nyata sering kali justru lebih dibutuhkan.


Hal ini terlihat ketika Ja'far bin Abi Thalib gugur dalam Perang Mu'tah. Rasulullah meminta para sahabat untuk menyiapkan makanan bagi keluarga Ja'far.


Dari Abdullah bin Ja'far RA, Rasulullah SAW bersabda:


ุงุตู’ู†ูŽุนููˆุง ู„ูุขู„ู ุฌูŽุนู’ููŽุฑู ุทูŽุนูŽุงู…ู‹ุง ููŽุฅูู†ู‘ูŽู‡ู ู‚ูŽุฏู’ ุฃูŽุชูŽุงู‡ูู…ู’ ุฃูŽู…ู’ุฑูŒ ุดูŽุบูŽู„ูŽู‡ูู…ู’


Artinya, โ€œBuatkanlah makanan untuk keluarga Ja'far karena telah datang kepada mereka suatu perkara yang menyibukkan mereka.โ€ (HR. Abu Dawud)


Kesedihan karena kehilangan anggota keluarga tentu menyita tenaga dan pikiran. Dalam kondisi seperti itu, keluarga yang ditinggalkan bisa saja tidak sempat memikirkan kebutuhan sehari-hari, termasuk menyiapkan makanan.


Karena itu, Rasulullah mengajarkan agar orang-orang di sekitarnya membantu meringankan beban mereka.


Syekh Badruddin al-Aini dalam Syarah Sunan Abi Dawud menjelaskan:


ู‚ูˆู„ู‡: ยซู„ุขู„ ุฌุนูุฑยป ุขู„ ุงู„ุฑุฌู„ ุฃู‡ู„ ุจูŠุชู‡ุŒ ู‚ุงู„ ุฐู„ูƒ ุนู„ูŠู‡ ุงู„ุณู„ุงู… ุญูŠู† ู†ุนู‰ ุจุฌุนูุฑ ุจู† ุฃุจูŠ ุทุงู„ุจ ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ ุญูŠุซ ู‚ุชู„ ู…ุน ุนุจุฏ ุงู„ู„ู‡ ุงุจู† ุฑูˆุงุญุฉุŒ ูˆุฒูŠุฏ ุจู† ุญุงุฑุซุฉ ููŠ ุบุฒูˆุฉ ู…ุคุชุฉ ุณู†ุฉ ุซู…ุงู† ู…ู† ุงู„ู‡ุฌุฑุฉ.


Artinya, โ€œPerkataan beliau, โ€˜untuk keluarga Ja'farโ€™, maksud keluarga seseorang adalah anggota keluarganya. Rasulullah menyampaikan hal tersebut ketika datang berita wafatnya Ja'far bin Abi Thalib ra. yang gugur bersama Abdullah bin Rawahah dan Zaid bin Haritsah dalam Perang Mu'tah pada tahun kedelapan Hijriah.โ€ (Syarah Sunan Abi Dawud, [Riyadh: Maktabah ar-Rusyd, 1420 H], jilid VI, halaman 59).


Lebih lanjut, beliau mengatakan:


ูˆูŠุณุชูุงุฏ ู…ู† ุงู„ุญุฏูŠุซ ุงุณุชุญุจุงุจ ุตู†ุนุฉ ุงู„ุทุนุงู… ู„ุฃู‡ู„ ุงู„ู…ูŠุชุŒ ุณูˆุงุก ูƒุงู† ุงู„ู…ูŠุช ุญุงุถุฑุงุŒ ุฃูˆ ุฌุงุก ุฎุจุฑ ู…ูˆุชู‡ุŒ ูˆุฐู„ูƒ ู„ุงุดุชุบุงู„ ุฃู‡ู„ู‡ ุจุฎุจุฑู‡ุŒ ุฃูˆ ุจุญุงู„ู‡.


Artinya, โ€œHadits ini menunjukkan kesunahan membuatkan makanan untuk keluarga orang yang meninggal dunia, baik jenazahnya berada di tempat maupun baru sampai berita kematiannya. Hal itu karena keluarga sedang disibukkan dengan berita kematian atau keadaan yang mereka hadapi.โ€ (halaman 59).


Dari sini terlihat bahwa kepedulian kepada orang yang berduka sebaiknya diwujudkan dalam bentuk yang nyata. Membawakan makanan, membantu mengurus kebutuhan keluarga, menemani mereka, atau membantu pekerjaan yang sedang terbengkalai dapat menjadi bentuk takziah yang sangat berarti.


Menguatkan Orang yang Berduka dengan Cara yang Lembut

Rasulullah SAW juga memberikan penguatan kepada orang yang sedang mengalami kehilangan. Namun, penguatan tersebut disampaikan dengan cara yang lembut dan sesuai dengan keadaan orang yang sedang berduka.


Salah satu contohnya adalah ketika Ummu Salamah kehilangan suaminya, Abu Salamah. Rasulullah mengajarkan kepadanya sebuah doa:


ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูู…ู‘ูŽ ุฃูŽุฌูุฑู’ู†ููŠ ูููŠ ู…ูุตููŠุจูŽุชููŠ ูˆูŽุฃูŽุฎู’ู„ููู’ ู„ููŠ ุฎูŽูŠู’ุฑู‹ุง ู…ูู†ู’ู‡ูŽุง


Artinya, โ€œYa Allah, berilah aku pahala dalam musibahku ini dan berikanlah kepadaku pengganti yang lebih baik darinya.โ€


Doa tersebut terdapat dalam riwayat Ummu Salamah:


ุญูŽุฏู‘ูŽุซูŽู†ูŽุง ูŠูŽุญู’ูŠูŽู‰ ุจู’ู†ู ุฃูŽูŠู‘ููˆุจูŽุŒ ูˆูŽู‚ูุชูŽูŠู’ุจูŽุฉูุŒ ูˆูŽุงุจู’ู†ู ุญูุฌู’ุฑูุŒ ุฌูŽู…ููŠุนู‹ุง ุนูŽู†ู’ ุฅูุณู’ู…ูŽุงุนููŠู„ูŽ ุจู’ู†ู ุฌูŽุนู’ููŽุฑูุŒ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุงุจู’ู†ู ุฃูŽูŠู‘ููˆุจูŽ: ุญูŽุฏู‘ูŽุซูŽู†ูŽุง ุฅูุณู’ู…ูŽุงุนููŠู„ูุŒ ุฃูŽุฎู’ุจูŽุฑูŽู†ููŠ ุณูŽุนู’ุฏู ุจู’ู†ู ุณูŽุนููŠุฏูุŒ ุนูŽู†ู’ ุนูู…ูŽุฑูŽ ุจู’ู†ู ูƒูŽุซููŠุฑู ุจู’ู†ู ุฃูŽูู’ู„ูŽุญูŽุŒ ุนูŽู†ู ุงุจู’ู†ู ุณูŽูููŠู†ูŽุฉูŽุŒ ุนูŽู†ู’ ุฃูู…ู‘ู ุณูŽู„ูŽู…ูŽุฉูŽุŒ ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ูŽุง ู‚ูŽุงู„ูŽุชู’: ุณูŽู…ูุนู’ุชู ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‡ู ูŠูŽู‚ููˆู„ู: ยซู…ูŽุง ู…ูู†ู’ ู…ูุณู’ู„ูู…ู ุชูุตููŠุจูู‡ู ู…ูุตููŠุจูŽุฉูŒ ููŽูŠูŽู‚ููˆู„ู ู…ูŽุง ุฃูŽู…ูŽุฑูŽู‡ู ุงู„ู„ู‡ู: ุฅูู†ู‘ูŽุง ู„ูู„ู‡ู ูˆูŽุฅูู†ู‘ูŽุง ุฅูู„ูŽูŠู’ู‡ู ุฑูŽุงุฌูุนููˆู†ูŽุŒ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูู…ู‘ูŽ ุฃู’ุฌูุฑู’ู†ููŠ ูููŠ ู…ูุตููŠุจูŽุชููŠุŒ ูˆูŽุฃูŽุฎู’ู„ููู’ ู„ููŠ ุฎูŽูŠู’ุฑู‹ุง ู…ูู†ู’ู‡ูŽุงุŒ ุฅูู„ู‘ูŽุง ุฃูŽุฎู’ู„ูŽููŽ ุงู„ู„ู‡ู ู„ูŽู‡ู ุฎูŽูŠู’ุฑู‹ุง ู…ูู†ู’ู‡ูŽุงยป.


Artinya, โ€œUmmu Salamah RA berkata: Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, โ€˜Tidaklah seorang Muslim tertimpa musibah kemudian mengucapkan sebagaimana yang diperintahkan Allah: Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un. Ya Allah, berilah aku pahala dalam musibahku dan gantikanlah untukku dengan sesuatu yang lebih baik, kecuali Allah akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik.โ€™


Ummu Salamah berkata, โ€˜Ketika Abu Salamah meninggal dunia, aku bertanya dalam hati: Siapakah orang Muslim yang lebih baik daripada Abu Salamah? Ia termasuk keluarga pertama yang berhijrah kepada Rasulullah saw. Kemudian aku tetap mengucapkan doa tersebut. Lalu Allah menggantikan Abu Salamah untukku dengan Rasulullah SAWโ€™.โ€ (HR. Muslim)

 

Riwayat ini menunjukkan bahwa Rasulullah membantu orang yang sedang berduka dengan menumbuhkan harapan kepada Allah. Musibah memang menyakitkan, tetapi seorang Muslim diajarkan untuk tetap percaya bahwa Allah dapat memberikan kebaikan setelah kehilangan yang dialaminya.


Harapan seperti ini bukan berarti seseorang harus segera melupakan orang yang telah meninggal. Kesedihan tetap boleh dirasakan. Namun, di tengah kesedihan itu, seseorang diajak untuk tetap memiliki keyakinan bahwa hidupnya masih berada dalam penjagaan dan ketentuan Allah.


Belajar Menghibur dari Rasulullah

Dari beberapa riwayat tersebut, kita dapat melihat bahwa Rasulullah saw. menghadapi orang yang sedang berduka dengan penuh perhatian. Beliau membiarkan orang menangis dan bahkan beliau sendiri menangis ketika kehilangan orang yang dicintainya. Beliau mengajarkan para sahabat untuk membantu kebutuhan keluarga yang sedang berduka. Beliau juga memberikan doa dan penguatan agar seseorang tetap memiliki harapan setelah mengalami kehilangan.


Teladan ini penting diperhatikan ketika kita bertakziyah. Tidak semua orang yang berduka membutuhkan ceramah panjang. Terkadang kehadiran, mendengarkan cerita mereka, membawakan makanan, membantu kebutuhan keluarga, atau mengucapkan kalimat sederhana dengan tulus jauh lebih berarti.


Orang yang sedang kehilangan juga tidak perlu dipaksa untuk segera terlihat kuat. Setiap orang memiliki cara dan waktu yang berbeda dalam menghadapi kesedihan.


Karena itu, meneladani Rasulullah dalam menghibur orang yang sedang berduka berarti belajar memahami perasaan mereka, hadir ketika dibutuhkan, membantu sesuai kemampuan, dan menguatkan tanpa menghakimi.


Dengan cara seperti itulah takziah tidak hanya menjadi ucapan belasungkawa, tetapi benar-benar menjadi bentuk kepedulian kepada saudara yang sedang menghadapi masa sulit. Wallahu a'lam.


Ustadz Muhammad Ryan Romadhon, Alumni Ma'had Aly Al-Iman Bulus, Purworejo, Jawa Tengah.