Penderitaan Istri Fir'aun dalam Mempertahankan Kebenaran
NU Online ยท Jumat, 30 Agustus 2013 | 01:04 WIB
Katakan yang benar meskipun itu pahit. Sabda Rasulullah SAW ini menjiwai ketegaran Asiyah, istri Firโaun, sejak ribuan tahun silam ketika suaminya yang angkuh itu memaksannya menanggalkan kebenaran.
<>
Dalam โUqudul Lujjain, Syekh Nawawi al-Bantani menceritakan hikayat awal keimanan Asiyah dari kesuksesan Nabi Musa AS mengalahkan tukang sihir suruhan Firโaun. Penguasa otoriter yang mendaku dirinya sebagai Tuhan ini menantang Nabi Musa adu kebenaran dengan saling โunjuk kebolehanโ.
Asiyah yang menyaksikan peristiwa tersebut akhirnya jatuh cinta pada ajaran Nabi Musa. Mukjizat telah terbentang, dan kebatilan terbukti gugur di hadapan kebenaran tauhid. Istri Firโaun ini pun mantab menyatakan beriman.
Firโaun betul-betul tidak terima dengan keputusan istrinya. Ia mengikat kedua tangan dan kaki Asiyah pada empat buah tiang. Tubuhnya dipaksa menatap sengatan matahari. Firโaun dan pengikutnya lantas meninggalkan Asiyah begitu saja bak bangkai kadal yang terkapar di atas pasir.
Penderitaan perempuan malang ini belum berakhir. Karena beberapa saat kemudian, Firโaun memerintahkan anak buahnya melemparinya dengan batu besar.ย Dalam perih, Asiyah berutur, โWahai Tuhanku, dirikanlah rumah untukku di sisimu di dalam surga.โ
Seketika itu ia melihat sebuah rumah yang terbuat dari marmer putih. Lalu nyawanya dicabut, sebelum tubuhnya ditimpa batu besar hingga ia tidak merasakan sakit.
Firโaun dalam kisah ini memperlihatkan kezaliman yang tiada batas. Ia tak segan-segan ย menyiksa, bahkan membunuh, setiap orang yang berseberangan dengan dirinya, tak terkecuali istrinya sendiri.
Perilaku Firโaun ini juga menandai ย adanya struktur kekuasaan yang hegemonik dalam kehidupan bernegara sehingga akses kritik atau berpendapat secara bebas menjadi buntu. Dalam konteks kehidupan rumah tangga, Firโaun sedang memamerkan dominasi laki-laki atas perempuan yang menjadi faktor ketidakharmonisan dan kekerasan dalam sebuah keluarga.
Sebaliknya, Asiyah mengajarkan kepada kita semua tentang kesabaran dalam menghadapi cobaan berat. Siksaan hebat dari Firโaun tak menggoyangkan pilihannya terhadap ajaran tauhid. Berkat ketabahan dan keteguhannya menggenggam prinsip ini, Asiyah justru mendapat perlindungan dan kemuliaan. (Mahbib Khoiron)
Terpopuler
1
Besok Rebo Wekasan, Berikut Amalan dan Doa yang Dianjurkan
2
Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar Resmi Buka Bahtsul Masail Pra-Muktamar Ke-35 NU
3
Alma Esbeye Siap Tampil Meriahkan Muktamar Ke-35 NU di Tambakberas
4
Inovasi Penguatan Budaya Keselamatan Pasien, RSI NU Demak Juara II Nasional Pertemuan Ilmiah 2026
5
Ngaji Al-Hikam, Perlu Fase Menepi dari Ketenaran dalam Hidup
6
Muktamar Ke-35 NU Bahas Revisi UU Sisdiknas dan Ketenagakerjaan, hingga Qanun Jinayat Aceh
Terkini
Lihat Semua