Masjid Rempeyek dan Ijazah Wirid Kiai Ali Maksum Krapyak
Hingga tibalah KH Ali Maksum di Masjid Al Muhajirin. Melihat keadaan masjid tersebut, KH Ali Maksum berujar kepada KH Baedlowie, "Masjidmu kok koyo rempeyek (Masjidmu kok seperti rempeyek).”
Kumpulan artikel kategori Hikmah
Hingga tibalah KH Ali Maksum di Masjid Al Muhajirin. Melihat keadaan masjid tersebut, KH Ali Maksum berujar kepada KH Baedlowie, "Masjidmu kok koyo rempeyek (Masjidmu kok seperti rempeyek).”
Rasulullah terbuka dengan berbagai pandangan yang berbeda. Beliau tidak merasa mentang-mentang sebagai Nabi lantas bersikap otoriter, keras dan tidak mau mendengar saran orang lain. Para sahabat Nabi juga bersikap santun saat mengajukan pendapat.
Abdullah bin Mas'ud pun mengabulkan permintaan Rasulullah dengan membacakan Surat an-Nisa’ dengan fasih. Namun, Baginda Nabi tiba-tiba memintanya berhenti ketika Abdullah sampai pada sebuah ayat. Abdullah berhenti. Ia menoleh ke wajah Rasulullah dan menyaksikan air mata meleleh dari kedua pelupuk mata utusan Allah itu.
Dalam kitab Nashoihul Ibad, Karya Syekh Nawawi Al-Bantani yang merupakan syarah atas kitab Syekh Syihabuddin Ahmad bin Hajar Al-Asqolani (Ibnu Hajar Al-Asqolani) dijelaskan, terdapat 3 kriteria seorang hamba yang dikehendaki oleh Allah untuk menjadi orang yang baik.
Sehingga segala tindakan pencegahan (nahī) lalu berefek ribut-ribut tentu itu kebencian, tindakan tersebut sama sadisnya seorang dokter yang bertindak bukan bertindak mencegah penyakit pasiennya, tetapi dia dokter yang menganiaya pasiennya.
Ada yang istimewa kala kita menengok cerita masa kecil sufi agung Abu Yazid al-Busthami. Ia yang masih kanak-kanak suatu kali bertanya kepada sang ayah tentang surat al-Muzammil yang dibacanya.
Pernah suatu ketika KH Muhammad Shofi Al-Mubarok bertanya kepada ayahnya KH Ahmad Baedlowie Syamsuri yang juga salah seorang murid Syekh Muhammad Yasin bin Isa Al-Fadani.
Susana hening. Sanak famili yang sedari tadi menunggui Mbah Karim diam seribu bahasa, menyimak pesan terakhir kiai kharismatik tersebut. Sejurus kemudian, Mbah Karim kembali melanjutkan wasiat terakhirnya yang justru di luar kebiasaan orang pada umumnya.
Rupanya kedua tokoh itu menganggap satu sama lain sebagai guru. Gus Dur memposisikan Mbah Sodiq sebagai gurunya, demikian pula Mbah Sodiq menganggap Gus Dur adalah guru.
Oleh KH A Mustofa Bisri -- Suatu ketika seorang laki-laki menghadap Nabi Muhammad SAW dan gemetaran –oleh wibawa beliau-- saat berbicara. Nabi SAW pun berkata menenangkan: “Tenang saja! Aku bukan raja. Aku hanyalah anaknya perempuan Qureisy yang biasa makan ikan asin.”
Dalam persoalan menimba ilmu, Mbah Maimoen menyatakan bahwa ilmu itu harus didatangi oleh manusia, karena ia tidak mendatangi. Sebab itu, kedatangan rombongan Tim Anjangsana dengan maksud memperkokoh sanad keilmuan meruapakan langkah yang tepat.
Suatu ketika Bilal radliyallahu ‘anh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang bertamu di kediaman Sayyidina Abu Bakar, tiba-tiba ada orang mengetuk pintu. Lantas Bilal membukakan pintu tersebut. Ternyata orang tersebut beragama Nasrani yang tengah mencari Rasulullah.