Gus Dur dan Humor Madura: Siapa Berani Nasihati Presiden?
Tetiba dalam rapat tersebut yang baru selesai larut malam, semua kaget. Pak Tolak angkat tangan. Aktivis yang juga berambisi menjadi presiden itu menyatakan sanggup menasihati presiden.
Kumpulan artikel kategori Humor
Tetiba dalam rapat tersebut yang baru selesai larut malam, semua kaget. Pak Tolak angkat tangan. Aktivis yang juga berambisi menjadi presiden itu menyatakan sanggup menasihati presiden.
Abdul pun memesan menu Gudeg dan menunggu dengan antusias makanan yang sudah lima tahun ia tidak nikmati. Setelah menu spesial itu datang, Abdul pun langsung menikmatinya. Akibat kelamaan di Arab, ia merasa Gudeg di Arab lebih nikmat dari yang di Indonesia.
Salah satu kisahnya ialah saat Nasrudin membawa serantang makanan dari pasar. Karena kurang hati-hati, rantang itu jatuh dan isinya tumpah berantakan.
Gus Im mengatakan bahwa Gus Dur itu ibarat pembalap andal. Sebagai pembalap, penyakitnya cuma dua, kalau mau belok tak pernah memakai lampu sen dan kalau ngerem selalu mendadak.
Saat ngaji kitab ta’limul muta’alim di serambi masjid pesantren, kiainya menjelaskan pentingnya santri untuk terus menimba ilmu, membentuk karakter, dan mencari bekal untuk kesuksesan hidup di masyarakat.
Saat Pilpres di Indonesia ia mengamati gerak-gerik presiden Jokowi selama menjadi presiden dan saat memenangi Pilpres 2009 lalu. Begitu juga saat ini ia sedang mengamati faktor kemenangan Joe Biden pada Pilpres di Amerika.
Kritik Gus Dur di antaranya disampaikan melalui humor. Suatu ketika, Soeharto berangkat ke tanah suci dalam rangka menunaikan ibadah haji.
Dua hari setelah penyuluhan tersebut, Rahmat merasa tidak enak badan. Ia pun berangkat sendiri ke klinik untuk memeriksakan kesehatannya.
Pemuda tersebut berpikir, bebek-bebek tersebut kelihatannya akan lezat bila dimasak. Bebek-bebek tersebut sedang bersenang-senang di sebuah kolam.
Saking semangatnya ngobrol, tak terasa mereka berdua pun sudah sampai ke tempat resepsi pernikahan yang dituju. Begitu masuk, penerima tamu langsung mempersilahkan Samsul dan Komar menuju tempat makan.
Ditemani kopi yang baru saja dikirim orang tua Komar saat sambangan, dua teman karib ini membicarakan tentang masa depan mereka.
Petugas majelis membujuk Sahid, mengingatkan bahwa terdakwa belum membela diri. Saat itu, terdakwa diwakili oleh pengacara yang pandai mengolah logika, sehingga hakim Sahid terpikat.