Santri Kursus Bahasa Inggris
Setelah mencurahkan permasalahannya, Ustadz Solehan berkata, “Ya sudah, kamu ikut kursus bahasa Inggris saja, biar nilainya meningkat,” tutur sang ustadz.
Kumpulan artikel kategori Humor
Setelah mencurahkan permasalahannya, Ustadz Solehan berkata, “Ya sudah, kamu ikut kursus bahasa Inggris saja, biar nilainya meningkat,” tutur sang ustadz.
Salah seorang kiai yang cukup ternama dan berpengaruh di kampung, Hari Jum'at Pon mendapat giliran khutbah Jum'at di salah satu masjid kota Pekalongan. Tentu karena ini kesempatan langka dan tidak setiap hari Jum'at berkesempatan ngisi khutbah Jum'at di masjid itu.
Si menteri ini memberikan sambutan di hadapan warga Madura mengenai prestasi anak bangsa yang mampu merakit pesawat sendiri bahkan bisa merakit pesawat yang bisa turun ke bulan.
Panitia memanfaatkan halaman musholla meskipun ukurannya tidak terlalu luas, tapi cukup. Seperti biasa, tokoh masyarakat dan kiai duduk di bagian depan. Sedangkan masyarakat pada umumnya duduk di bagian belakang.
Tiba-tiba ketiganya melihat mobil Kiai Rozak, pengasuh pesantren, sedang melintas. Seketika, mereka minggir teratur dari jalan, lalu menghadap jalan dan menunduk sebagai tanda hormat kepada kiai.
Seketika, Maman juga tergerak menceritakan guyonan tentang koruptor. Maman bercerita, ada seorang koruptor yang telah wafat. Tapi tangan kanannya terus mengacung ke atas.
Beberapa tahun lalu seorang wartawan sebuah surat kabar di Jawa Tengah menanyakan kepada Syekh Ibrahim Mogra—ulama asal Leicester Kerajaan Inggris—tentang berapa istrinya ketika Asisten Sekretaris Jenderal Dewan Muslim Inggris (MCB) itu berkunjung ke sebuah pesantren di Solo
Di emperan masjid selepas sembahyang Maghrib, Julkipli menghampiri teman ngopinya, Durakim. Belum sempurna Durakim menyandarkan punggung ke tembok, pertanyaan berat disodorkan kepada dirinya.
Sang ayah tenang-tenang saja sambil bilang, “Alah nak, kalau cuma begitu aja ngapain kamu sekolah sampai ke Jerman. Di rumahmu ini saja sudah jauh lebih canggih.”
Suatu ketika, Gus Dur berkali-kali mendatangi Kirun, sosok yang terkenal dengan lawakannya. Ia datang ke Madiun hanya ingin sekadar beradu banyolan dengan Kirun sambil meminta disiapkan dadar jagung.
Moeslim Abdurrahman memulai cerita dengan mengeluarkan kegelisahan mengenai para haji pemilik (tuan) tambak udang beserta buruhnya. “Gus, para haji pemilik tambak udang itu bisa subuhan dan jamaah tiap pagi. Sementara buruh tambak mereka harus kerja keras,” ucap Moeslim.
Malam itu, tidak sengaja mereka melihat seorang perempuan muda berbaju rapi sedang duduk di atas kuburan. Badri dan Sohib sepakat berpikir, ini perempuan sedang mengalami masalah.