Orang Tak Berpuasa Terlihat dari Betisnya
Di bulan puasa seperti ini, bagaimana caranya kamu membedakan orang yang puasa sama orang yang tidak puasa?
Kumpulan artikel kategori Humor
Di bulan puasa seperti ini, bagaimana caranya kamu membedakan orang yang puasa sama orang yang tidak puasa?
Karjo nyeletuk ke temannya saat merema bersama-sama nyeruput kopi di sebuah warung selepas tarawih.
Imron, santri kalong di sebuah kampung yang setiap hari ngaji bolak-balik tanpa menginap di pondok suatu ketika mengantarkan ayahnya ke klinik terdekat karena kena diare.
Laki-laki yang dikenal sebagai preman kampung tersebut pertama kalinya naik bus AC. Udara yang keluar dari lubang AC berhembus kencang menimpa pundaknya.
Namun, tiba-tiba saja ada seorang pemuda compang-camping, tidak terlalu gagah mendekati pintu surga meminta masuk kepada Malaikat. Malaikat mengecek buku daftarnya, tak lama Malaikat mempersilakan pemuda itu masuk surga. Tiga pemuka agama tersebut protes.
Saking banyaknya tugas menghafal, santri bernama Roni kadang sering lupa dalam beberapa hal. Sadar akan dirinya yang sering lupa, Roni lalu mencoba ‘konsultasi’ dengan teman santrinya bernama Joko.
Gus Dur salah satu pemimpin nasional yang mempunyai sikap tegas terhadap kejahatan korupsi. Kebetulan, salah satu tamunya mengungkapkan kegelisahan tentang korupsi di Indonesia yang seolah menjadi ‘lingkaran setan’.
Gus Dur menyoroti pemberian nama sekolah dengan menyematkan tokoh-tokoh NU. Ia menyayangkan jika nama-nama besar yang dipasang tidak sesuai dengan mutu sekolah atau universitasnya.
Sejak saat itu, Kiai Hasyim mulai sadar kalau diskusi soal zakat akan sepi peserta. Iya, rupanya mereka takut ‘ditagih’ untuk membayar zakat. Di sisi lain, mustahiq (orang yang berhak menerima zakat) pada hadir di seminar karena mengira akan mendapatkan zakat.
Sore itu, ia diundang oleh Rumah Sahabat Anak yang menampung anak-anak yatim dan dhuafa agar pendidikannya berjalan dengan baik. Namun, panitia saat itu menamakan kegiatannya, “Satu Jam Bercanda Bareng Pak Sukri”.
Sama-sama sudah tua dan lama tidak pernah ketemuan setelah 40 tahun keluar dari pondok ternama di Jawa Timur, akhirnya Kang sholeh Pekalongan dan Kang Badrun Banyumas sepakat bertemu untuk sekedar melepas kangen ketika dulu sama-sama mondok di salah satu pondok dan satu kamar pula.
Dalam kejenuhan mencari pekerjaan, akhirnya dia pun terpikir mencoba membuka sebuah klinik pengobatan, walaupun dia bukan dokter ataupun pernah kuliah di kedokteran. Supaya orang-orang mau berobat ke kliniknya, Si Madura membuat iklan menarik : "Menyembuhkan segala penyskit. Ayo berobat kemari. Kalau sembuh cukup bayar 100 ribu, kalau tidak sembuh kami bayar anda 1 juta".