Bendahara PBNU Asnawi
Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, saat menerima kunjungan dari perwakilan Komisi Yudisial, memperkenalkan jajaran pengurus PBNU.
Kumpulan artikel kategori Humor
Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, saat menerima kunjungan dari perwakilan Komisi Yudisial, memperkenalkan jajaran pengurus PBNU.
Hingga kini, PCNU Kudus terus menggodok komposisi pengurus Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama(ISNU). Untuk membidani ISNU Kudus ini, PCNU telah membentuk tim beranggotakan 7 orang dengan ketua Sanusi.Saat memimpin rapat tim, Sanusi mengawali dengan mengatakan, "Sebetulnya saya-lah sarjana yang paling NU dan menjadi rujukan para sarjana seluruh Indonesia.“
Penyair asal Madura D. Zawawi Imron punya cerita tentang keinginannya. Dia bilang, koleganya, sesama penyair asal Madura, sebut saja Dasirun, memintanya untuk masuk partai politik.
Di kalangan aktivis NU, Abd. Mun’im DZ dikenal sebagai pribadi yang serius, pelit senyum, dan jarang guyon. Tapi citra yang melekat itu sama sekali tak terlihat ketika dia bicara mewakili panitia dalam acara Pidato kebudayaan D Zawawi Imron, Maret 2012, di PBNU. Pasalnya, dia melontarkan guyon, dan 300an orang tertawa dibuatnya.
"Tugas berat Ansor bukan menjaga Aswaja, tapi melatih Banser baris-berbaris"Maju jalanKomandan Banser memimpin baris-berbaris"Siaaaaap, grak!""Belok kanaaaaan, grak!""Belok kiriiiiii, grak!""Langkah tegap maju jalaaaaaaan, grak!"BerhitungKomandan banser: "Berhituuuuung, mulai""Satu""Dua""Tiga""Empat""Lima""Enem", rupanya ada anggota Banser yang tidak hapal angka dalam bahasa Indonesia, sehingga yang lain ikut meneruskan berhitung dalam bahasa Jawa."Pitu""Wolu""Songo""Sepoloh""Suwelas" …PenghormatanKomandan Banser memimpin upacara"Siaaaaap, grak!""Hormaaat, grak!" Tangan kanan dalam posisi hormat. Seorang kiai yang menjadi pembina upacara ikut hormat. Dan…sampai beberapa menit tangan pak kyai masih dalam posisi hormat, sehingga penghormatan tidak bisa diakhiri.Komandan Banser maju ke depan menghadap kiai. Masih dalam posisi hormat, dengan sedikit menunduk, ia mengatakan “Pak kiai tolong tangannya diturunkan."PancasilaBismillahirrahmanirrahimSatu..PancasilaDua..Ketuhanan yang maha esaTiga..Kemanusiaan yang adil dan beradabEmpat..Persatuan IndonesiaLima..Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilanEnam..Keadilan sosial bagi seluruh rakyat IndonesiaJadi sila Pancasila ada 6, karena Pancasilanya dihitung.Amanat UpacaraPak kiai memberikan amanat upacara dalam posisi istirahat di tempat, kedua tangan dilipat di belakang, dan dia mengira harus begitu. Tapi ternyata microphonnya bergeser ke bawah, dan terus ke bawah sehingga saat berpidato kepalanya ikut miring mengikuti gerakan mic.Mengukur TiangSeorang anggota Banser diperintah untuk mengukur tinggi tiang bendera. "Siap….". Tanpa berpikir panjang ia langsung memanjat tiang dengan membawa meteran. Tak berapa lama ia turun, lalu menghadap komandan."Sudah diukur ndan""Kenapa tidak dirobohkan saja benderanya, baru diukur?""Wah kalau begitu kan bukan tingginya, tapi panjangnya!?"@Anam
Di sebuah desa kecil terdapat surau ditepi sawah. Di sana di kenal tokoh agama sekaligus ahli tasawuf tinggkat tinggi. Perasaannya sangat tajam, persis seperti janggut lancipnya yang mulai memutih mengkilap. namanya Mbah Abu.Suatu ketika ia kedatangan tamu dari kota dan tibalah waktu maghrib. mereka pun sholat berjamaah, dan tentu saja Mbah Abu yang menjadi imamnya.
Pada sebuah acara pendidikan kader IPNU di Jember, ada kisah yang menyayat hati. Kisah itu bermula dari seorang kyai yang mengisi materi Aswaja. “Kita tahu, nilai Aswaja itu salah satunya Tawasuth. Kita semua tahu juga, tawasuth itu artinya sikap agama yang mengambil jalan tengah. Tengah-tengah. Kata orang Jakarta, Tawasuth itu moderat. NU itu Tawasuth,” kata kyai kita ini.
Almarhum Hamid Jabbar terkenal terkenal dengan puisi-puisi relijius, serta istiqomah dengan puisi berisi kritik-kritik sosial. Selain itu, ia terkenal juga sebagai seniman dengan tingkah polah eksentriknya. Suatu hari, ia pergi ke Baghdad untuk mengikuti festival puisi. Selain Jabbar, ada Taufik Ismail, Gus Mus, Abdul Hadi, Sutardji Calzoum Bachri.
Belum lama ini, Ahmad Tohari mengikuti apresiasi film Sang Penari di jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia, Depok. Giliran waktu diskusi tiba, load speaker selalu ndengung, bahkan lebih dari empat kali dengungannya mengagetkan semua peserta.
Sutardji Calzoum Bachri, selain kesohor karena puisinya, juga kesohor karena suka mabuk. Mabuk bukan sembarang mabuk, karena juga tidak sekali mabuk di panggung, saat baca puisi. Namun, Sutardji yang berjuluk Presiden Penyair, sekarang sudah tidak pernah mabuk, dan sudah lama ia tinggalkan kebiasaan minum khomer.Suatu hari, Gus Mus bertanya kepada Sutardji.
Sabtu siang di satu stasiun TV, seorang mubaligh berceramah. Ia menyebutkan, “Rukun agama tiga perkara: rukun Iman enam perkara, rukun Islam lima perkara. Dan, Tombo Ati, lima perkara.”Seorang pemirsa yang berminat masuk Islam, terlonjak dari kursi santainya. Ia terbelalak mendengar kata ‘perkara’.
Suatu hari Ketua Umum PBNU, Gus Dur, kedatangan rombongan kyai dan aktivis NU dari Lampung. Agendanya silaturahim dan ngobrol sana sini, saling bercerita berkembangan, dan tentu saja berbagi humor. Tapi sayang, di tengah hangatnya obrolan, seorang kyai yang sudah berumur batuk-batuk terus, hingga menjadi perhatian seisi ruangan.