Humor: Beda Ayam Indonesia dan Jepang
Ayam saat ini merupakan bahan makanan yang dapat diolah dengan cara apapun. Di berbagai restoran, kita dapat dengan mudah menemukan menu makanan ayam dengan ragam teknik memasak dan rasa.
Kumpulan artikel kategori Humor
Ayam saat ini merupakan bahan makanan yang dapat diolah dengan cara apapun. Di berbagai restoran, kita dapat dengan mudah menemukan menu makanan ayam dengan ragam teknik memasak dan rasa.
Saat itu Gus Dur bercerita pada Luhut tentang hukum dalam Islam yang mengatur bahwa kalau seseorang diusir dari rumahnya dia harus melawan, kalau perlu dengan menggunakan kekerasan.
Sopir yang mengetahui gelagat tidak baik dari para pemuda kemudian berujar. “Tolong beri tempat duduk buat Nenek.”
Suatu ketika, Ustadz Mualif mengisi ceramah di sebuah masjid di kompleks perumahan yang jamaahnya hanya diisi oleh suami dan beserta istri atau bininya.
Mbah Sobirin melakukan aksinya tiga kali ke pangkal paha, perut, dan muka si Wandi. Pengacara tersebut lunglai dan bonyok. Hampir tidak bisa berdiri untuk melakukan giliran tendangannya ke Mbah Sobirin.
Pagi itu, Mudin terlihat lesu saat bertemu Somad di Pos Siskamling. Tidak biasanya Mudin seperti ini. Biasanya ia tampil energik dan ceria. Somad pun penasaran.
Muktamar Ke-34 Nahdlatul Ulama akan digelar di Provinsi Lampung. Kegiatan ini akan dihadiri perwakilan pengurus NU dari provinsi dan kabupaten/kota dari seluruh Indonesia.
Suatu pagi, saat menyapu halaman masjid, santri bernama Imron tiba-tiba melihat seekor ayam jantan milik kiai lewat di hadapannya.
Makam Gus Dur tidak pernah sepi dari peziarah, tak terkecuali dari keluarga-keluarga Tionghoa. Bahkan, nisan Gus Dur terbuat dari batu giok dan tulisan “di sini istirahat seorang humanis” dalam bahasa Mandarin.
Tak lama berselang, orang Palembang membagi-bagikan buah duku kepada setiap orang. Ia sendiri baru saja menghabiskan satu buah duku lalu mencampakkan duku-duku lainnya ke luar jendela.
Lambat laun Herman merasakan kehidupan yang hambar, tidak ada sesuatu yang menantang yang membuat dirinya semakin dewasa dan berkembang.
Suatu sore Gus Dur didatangi seorang tamu, pemuda non-Muslim. Setelah mengaji kebangsaan kepada Gus Dur, pemuda tersebut bertanya tentang sebutan yang melekat pada diri Gus Dur.