Humor: Makmum Masbuk Shalat Maghrib
Mereka sedang membincang praktik shalat, ibadah pokok yang perlu diajarkan sejak dini, terutama dalam dunia pendidikan.
Kumpulan artikel kategori Humor
Mereka sedang membincang praktik shalat, ibadah pokok yang perlu diajarkan sejak dini, terutama dalam dunia pendidikan.
Gagasan tersebut terus diperkuat oleh Gus Yahya ketika dia terpilih menjadi Ketua Umum PBNU. “Kenapa demikian, Gus?” salah seorang wartawan bertanya. “Karena saya sudah pernah jadi presiden,” seloroh Gus Yahya.
Sang istri ditemani anaknya sekuat tenaga mendapat kabar suaminya. Sampai-sampai ia harus ke kota terdekat untuk menggunakan warung telepon (wartel).
Romo menjadi nama panggilan bagi Pendeta di Katolik, tentu tidak punya istri karena memang tidak boleh menikah.
Rapat dengan warga tersebut diadakan di aula kantor balai desa. Tentu saja perangkat dan warga desa merasa terhormat mendapat undangan langsung dari Pak Kosim yang dikenal baik dan merakyat tapi kadang menjengkelkan.
Presiden Gus Dur membuka dengan basa-basi ringan dalam Bahasa Arab. Sang juru catat grogi sekali, melirik Gus Yahya dengan pandangan memohon. Gus Yahya pura-pura cuek.
Usai shalat berjamaah, Karno ikut bersantai menemani Ustadz Romi yang sedang duduk di emperan masjid sehabis menjadi imam shalat.
Ia mendapatkan seutas tali untuk mengambil bulan. Tali itu ternyata terjerat pada sebuah batu besar di dalam sumur. Ia berupaya mengurai tali itu sekuat tenaga.
Materi ngaji di rumah Pak Mudin malam itu adalah tentang doa. Beliau mengingatkan bahwa bagian paling terpenting dari doa adalah yakin terhadap doa yang dipanjatkan. Karena penjelasan ngaji yang cukup panjang, maka ngaji pun selesai larut malam.
Suasana ketika itu ramai karena ada pertunjukan musik dan band. Kegiatan tersebut kala itu bersamaan dengan momen pemilihan capres-cawapres. Adapun Gus Dur saat itu terganjal oleh syarat kesehatan fisik.
“NKRI dan NU itu nggak bisa dipisahkan. Banyak persamaannya. Kalau NKRI berdasarkan Undang-undang. Kalau NU sering ngundang-ngundang. Kendurenan, slametan, pengajian, dan sebagainya,” ujar Cak Lontong.
Setelah ikut menjadi penggembira pelantikan PBNU di Kalimantan Timur, Somad berkesempatan mengunjungi bakal lokasi Ibu Kota Baru Nusantara di Kabupaten Penajam Paser Utara tepatnya di Kecamatan Sekayu.