Sejarah kerap bergerak melingkar. Ia tidak selalu kembali dalam rupa yang sama, tetapi sering hadir dengan wajah baru, nama baru, dan medium yang berbeda. Apa yang dahulu disebut berhala, hari ini bisa tampil sebagai kekuasaan, kekayaan, atau pengaruh global yang dipertuhankan tanpa disadari.
Belakangan, jagat digital kembali diramaikan oleh terbukanya arsip kejahatan Jeffrey Epstein ke ruang publik. Di tengah kemarahan dan kekecewaan kolektif atas wajah gelap elite global, satu detail kecil menarik perhatian: nama akun bank yang disebut menggunakan istilah “Ba‘al”. Terlepas dari spekulasi yang mengiringinya, istilah ini mengundang refleksi lebih dalam—sebab Ba‘al bukan sekadar nama mitologis, melainkan simbol teologis yang telah lama diperingatkan oleh Al-Qur’an.
Ba‘al dalam Teguran Tauhid Al-Qur’an
Al-Qur’an menyebut Ba‘al secara eksplisit dalam kisah Nabi Ilyas ‘alaihissalam, saat Ia menegur kaumnya yang berpaling dari Allah, dalam surat Ash Shaffat ayat 125 Allah berfirman:
اَتَدْعُوْنَ بَعْلًا وَّتَذَرُوْنَ اَحْسَنَ الْخٰلِقِيْنَۙ
Artinya; “Apakah kamu menyeru Ba‘al dan meninggalkan sebaik-baik Pencipta?”
Ayat ini tidak sekadar mencatat peristiwa sejarah, melainkan menghadirkan pertanyaan eksistensial yang melintasi zaman: mengapa manusia mudah meninggalkan Yang Maha Mencipta, demi sesuatu yang diciptakan?
Dalam tafsirnya, Imam al-Mawardi menjelaskan bahwa Ba‘al memiliki beberapa makna. Menurut Ikrimah dan Mujahid, Ba‘al berarti tuan atau penguasa. Menurut Ad-Dhahhak dan Ibnu Zaid, Ba‘al adalah berhala yang disembah penduduk Ba‘labak. Sementara Ibnu Syajarah memaknainya sebagai perempuan yang dijadikan sesembahan. (Al-Mawardi, Tafsir al-Mawardi, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Juz 5, hlm. 64)
Makna-makna ini menunjukkan satu benang merah: Ba‘al adalah simbol pengalihan loyalitas spiritual, ketika manusia menundukkan diri bukan kepada Allah, melainkan kepada sesuatu yang dianggap memiliki kuasa, daya tarik, atau manfaat.
Berhala, Kekuasaan, dan Ilusi Kesucian
Sebagian riwayat tafsir menggambarkan Ba‘al sebagai patung emas raksasa yang memiliki pelayan-pelayan kuil dalam jumlah besar. Imam al-Qurthubi meriwayatkan bahwa berhala ini dijaga ratusan pelayan yang dianggap nabi-nabi Ba‘al, dan masyarakat Baalbek menggantungkan hidup spiritual mereka kepada patung tersebut.
“Penduduk Ba‘labak menjadikan Ba‘al sebagai sesembahan mereka, dan mereka memiliki para pelayan yang menyampaikan ajaran kesesatan.” (Al-Qurthubi, Al-Jami‘ li Ahkam al-Qur’an, (Dar Ihya’ at-Turats, tt), Jilid XV, hlm. 117)
Namun, Fakhruddin ar-Razi mengingatkan agar umat Islam tidak terjebak dalam narasi simbolik yang merusak fondasi akidah. Ia menolak kisah setan yang berbicara melalui patung Ba‘al, karena hal itu berpotensi melemahkan konsep mukjizat Nabi Muhammad.
وَأَمَّا قَوْلُهُمْ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ يَدْخُلُ فِي جَوْفِ بَعْلَبَكَّ وَيَتَكَلَّمُ بِشَرِيعَةِ الضَّلَالَةِ، فَهَذَا مُشْكِلٌ لِأَنَّا إِنْ جَوَّزْنَا هَذَا كَانَ ذَلِكَ قَادِحًا فِي كَثِيرٍ مِنَ الْمُعْجِزَاتِ، لِأَنَّهُ نُقِلَ فِي مُعْجِزَاتِ النَّبِيِّ ﷺ كَلَامُ الذِّئْبِ مَعَهُ وَكَلَامُ الْجَمَلِ مَعَهُ وَحَنِينُ الْجِذْعِ، وَلَوْ جَوَّزْنَا أَنْ يَدْخُلَ الشَّيْطَانُ فِي جَوْفِ جِسْمٍ وَيَتَكَلَّمُ. فَحِينَئِذٍ يَكُونُ هَذَا الِاحْتِمَالُ قَائِمًا فِي الذِّئْبِ وَالْجَمَلِ وَالْجِذْعِ، وَذَلِكَ يَقْدَحُ فِي كَوْنِ هَذِهِ الْأَشْيَاءِ مُعْجِزَاتٍ
Artinya, “Pendapat mereka yang mengatakan bahwa setan masuk ke dalam rongga (patung) Ba'al lalu berbicara menyebarkan syariat kesesatan, maka hal ini merupakan pendapat problematik.
Karena jika kita mempercayai hal seperti ini terjadi, maka hal itu bisa merusak (meragukan) banyak mukjizat. Sebab, dalam mukjizat Nabi Muhammad diriwayatkan adanya serigala, unta dan rintihan kurma yang berbicara kepada beliau.
Seandainya kita mempercayai setan untuk masuk ke dalam rongga suatu benda lalu berbicara, maka kemungkinan (bahwa itu adalah ulah setan) juga bisa terjadi pada kasus serigala, unta, dan batang kurma tadi. Hal tersebut tentu akan merusak status hal-hal tersebut sebagai sebuah mukjizat." (Fakhruddin Ar-Razi, Tafsir Mafatihul Ghaib, [Beirut: Darul Ihya’, 1999], jilid 26, halaman 354)
Sikap ar-Razi menunjukkan bahwa Islam tidak hanya menentang berhala secara fisik, tetapi juga berhala konseptual, segala bentuk keyakinan yang menyalahi tauhid dan akal sehat.
Pendapat lain menyebutkan bahwa Ba‘al digambarkan dalam bentuk humanoid berkepala sapi, duduk di atas kursi dengan tangan terulur. Gambaran ini memiliki kemiripan dengan patung dewa-dewa dalam mitologi Mesir Kuno. (M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah, [Jakarta: Lentera Hati, 2005], Jilid 12)
Ba‘al antara Mitos, Kekuasaan, dan Penyimpangan Tauhid
Sebagian sejarawan agama mencatat bahwa Ba‘al merupakan dewa utama dalam kepercayaan bangsa Kanaan, sebuah peradaban kuno yang wilayahnya meliputi Suriah, Lebanon, Yordania, Israel, dan Palestina modern. Dalam kosmologi mereka, Ba‘al dipengaruhi oleh mitos Babilonia tentang Marduk dan Tiamat, dan dipuja sebagai dewa badai sekaligus kesuburan. Sosok ini juga kerap disebut dalam Alkitab sebagai pusat ibadah tandingan terhadap Yahweh.
Dalam mitologi Kanaan, Ba‘al digambarkan hidup berdampingan dengan El, dewa tertinggi, serta berhadapan dengan Yam-Nahar, dewa laut dan sungai, simbol kekacauan dan ancaman banjir. Ketegangan memuncak ketika Yam menuntut agar Ba‘al diserahkan kepadanya dalam Majelis El. Namun alih-alih tunduk, Ba‘al justru berhasil mengalahkan Yam dengan dua senjata magis dan hampir membinasakannya, sebelum akhirnya dicegah oleh Asyera.
Dalam versi lain, Ba‘al juga dikisahkan membunuh Lotan, naga berkepala tujuh yang dikenal dalam tradisi Ibrani sebagai Leviathan. Tindakan ini dipandang sebagai momen kosmik yang menghentikan kekacauan purba (primal chaos) dan menjamin keberlangsungan kesuburan bumi.
Karen Armstrong mencatat bahwa dalam agama-agama kuno, tindakan “mencipta” atau “menata ulang dunia” dipandang sebagai sesuatu yang sakral. Kreativitas kosmik dianggap sebagai legitimasi ketuhanan, karena mampu memberi makna, keteraturan, dan arah bagi realitas manusia. (Karen Armstrong, Sejarah Tuhan, (Bandung: Mizan, 2011), hlm. 35–36)
Namun di sinilah Islam memberikan koreksi teologis yang mendasar. Al-Qur’an menegaskan bahwa kreativitas sejati, dalam arti penciptaan dari ketiadaan dan pengaturan kosmos, bukanlah sifat makhluk, melainkan hak eksklusif Allah.
اللّٰهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ وَكِيْلٌ
Artinya; “Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia Maha Pemelihara atas segala sesuatu.”
(QS. Az-Zumar [39]: 62)
Ketika mitos-mitos ketuhanan dilekatkan pada makhluk, entah berupa dewa, penguasa, atau sistem kekuasaan—di situlah benih kemusyrikan mulai tumbuh. Ba‘al tidak lagi sekadar figur religius, tetapi simbol pengalihan otoritas Ilahi kepada selain Allah.
Konfrontasi Tauhid dan Kultus Ba‘al
Versi sejarah lain memperlihatkan irisan kuat antara mitologi Ba‘al dan kisah kenabian. Pada abad ke-9 sebelum Masehi, Raja Ahab dari Israel, di bawah pengaruh istrinya, Izebel, memberi ruang luas bagi kultus Ba‘al dan Asyera. Konflik antara pemuja Ba‘al dan pengikut Yahweh pun mencapai puncaknya pada masa Nabi Elia (Nabi Ilyas ‘alaihissalam)
.
Dalam peristiwa yang monumental, Nabi Elia menantang 450 nabi Ba‘al untuk membuktikan kekuasaan tuhan masing-masing. Dua ekor lembu jantan disiapkan sebagai kurban. Para nabi Ba‘al berseru dari pagi hingga petang, menari dan berteriak memanggil sesembahan mereka, namun tak satu pun tanda kekuasaan muncul.
Ketika tiba giliran Nabi Elia berdoa kepada Yahweh, api turun dari langit dan melahap kurbannya. Kemenangan ini bukan sekadar adu mukjizat, melainkan penegasan bahwa kebenaran tidak ditentukan oleh jumlah pengikut, ritual massal, atau legitimasi politik, melainkan oleh kehendak Allah semata. (Karen Armstrong, Sejarah Tuhan, hlm. 57–58)
Dari keseluruhan deskripsi tersebut, jelas bahwa Ba‘al, dalam perspektif Al-Qur’an, bukan sekadar nama berhala atau tokoh mitologi kuno. Ia adalah simbol kemusyrikan, penyimpangan akidah, dan pengkultusan kekuasaan. Dalam sejarah, penyembahan terhadap Ba‘al selalu berkelindan dengan manipulasi spiritual, legitimasi politik, dan penyesatan manusia.
Al-Qur’an mengabadikan peringatan ini melalui lisan Nabi Ilyas:
اَتَدْعُوْنَ بَعْلًا وَّتَذَرُوْنَ اَحْسَنَ الْخٰلِقِيْنَ
Artinya; “Apakah kamu menyeru Ba‘al dan meninggalkan sebaik-baik Pencipta?” (QS. Ash-Shaffat [37]: 125)
Pertanyaan ini tetap relevan hingga hari ini. Setiap zaman memiliki Ba‘alnya sendiri, entah berupa harta, kekuasaan, ideologi, atau figur yang dipertuhankan. Tauhid menuntut kewaspadaan terus-menerus agar manusia tidak kembali menyembah ciptaan, lalu melupakan Sang Pencipta. Wallāhu a‘lam.
---------
Shofi Mustajibullah, Mahasiswa Pascasarjana Universitas Islam Malang
