Kenyataan bahwa Allah tak bertempat bukan hanya didukung dalil teks suci tapi juga argumentasi rasional.
Abdul Wahab Ahmad
Kolomnis
Di antara pertanyaan yang menggelitik bagi banyak orang, tetapi juga jarang dibahas sebab terkesan tabu adalah pertanyaan di mana Allah sebelum alam semesta diciptakan? Sebenarnya pertanyaan ini pernah ditanyakan kepada Rasulullah Muhammad ๏ทบ sehingga kita pun tahu jawabannya. Dalam suatu hadits Riwayat Imam Ahmad disebutkan:
ย
ุนููู ูููููุนู ุจููู ุนูุฏูุณูุ ุนููู ุนูู ูููู ุฃูุจูู ุฑูุฒููููุ ููุงูู: ููููุชู: ููุง ุฑูุณูููู ุงููููุ ุฃููููู ููุงูู ุฑูุจููููุง ุนูุฒูู ููุฌูููู ููุจููู ุฃููู ููุฎููููู ุฎูููููููุ ููุงูู: ยซููุงูู ููู ุนูู ูุงุกู ู ูุง ุชูุญูุชููู ููููุงุกูุ ููู ูุง ูููููููู ููููุงุกูุ ุซูู ูู ุฎููููู ุนูุฑูุดููู ุนูููู ุงููู ูุงุกู
ย
โDari Wakiโ bin Udus, dari pamannya yaitu Abu Razin, ia berkata: Aku berkata: โWahai Rasulullah, di manakah Tuhan kita Yang Maha Mulia sebelum menciptakan makhluknya?โ. Rasulullah bersabda: โAllah berada di Amaโ, di bawahnya tak ada udara dan di atasnya tak ada udara, kemudian Allah menciptakan Arasynya di atas Airโ. (HR. Ahmad)
ย
Jadi jawabannya adalah Allah berada di Amaโ. Tapi apa Amaโ itu? Imam al-Hafidz Ali al-Qari menjelaskan maksud kata Amaโ di atas sebagai berikut?
ย
ููุงูู ุงููููุงุถูู: ุงููู ูุฑูุงุฏู ุจูุงููุนูู ูุงุกู ู ูุง ููุง ุชูููุจููููู ุงููุฃูููููุงู ู ููููุง ุชูุฏูุฑููููู ุงููุนูููููู ููุงููุฃูููููุงู ูุ ุนูุจููุฑู ุนููู ุนูุฏูู ู ุงููู ูููุงูู ุจูู ูุง ููุง ููุฏูุฑููู ููููุง ููุชููููููู ูุ ููุนููู ุนูุฏูู ู ู ูุง ููุญูููููู ููููุญููุทู ุจููู ุงููููููุงุกูุ ููุฅูููููู ููุทููููู ููููุฑูุงุฏู ุจููู ุงููุฎูููุงุกู ุงูููุฐูู ูููู ุนูุจูุงุฑูุฉู ุนููู ุนูุฏูู ู ุงููุฌูุณูู ูุ ููููููููู ุฃูููุฑูุจู ุฅูููู ููููู ู ุงูุณููุงู ูุนู
ย
โSang Qadli berkata: Yang dimaksud dengan Amaโ adalah sesuatu yang tak bisa diterima oleh imajinasi dan tak bisa digapai oleh akal dan pemahaman. Nabi menunjukkan ketiadaan tempat dengan sesuatu yang tak bisa dimengerti dan diimajinasikan. Dan, juga memenunjukkan ketiadaan sesuatu yang memuatnya atau udara yang melingkupinya. Istilah ini secara mutlak dimaksudkan pada suatu kekosongsan murni (khalaโ) yang merupakan istilah bagi ketiadaan jism (materi). [Hal ini] agar lebih mudah dimengerti oleh pendengarโ (Ali al-Qari, Mirqath al-Mafatih, IX, 3661).
ย
ย
Dengan ini dapat dipahami bahwa Nabi Muhammad ๏ทบ hendak menunjukkan bahwa Allah tidak bertempat di mana pun sebab saat itu yang ada hanya Allah sendiri. Pemahaman ini sesuai dengan sabda Rasulullah yang lain berikut ini:
ย
ููุงูู ุงูููู ููููู ู ูููููู ุดูููุกู ุบูููุฑููู
ย
โAllah telah ada dan saat itu tidak ada apa pun selain Allahโ (HR Bukhari).
ย
Keberadaan Allah yang sendiri tanpa apa pun itu tak bisa dijangkau oleh akal kita sebab itu di luar pemahaman manusia. Manusia tak dapat membayangkan kesendirian total tanpa waktu dan tempat itu. Adapun memaknai kata Amaโ dalam konteks ini sebagai awan tipis yang sehari-hari kita lihat di langit adalah pemaknaan yang sepenuhnya tidak tepat sebab awan itu adalah makhluk. Memang betul bahwa kata Amaโ dalam percakapan sehari-hari adalah awan tipis, namun jelas bukan itu yang dimaksud oleh Nabi Muhammad dalam konteks ini. Wallahu aโlam.
ย
ย
Ustadz Abdul Wahab Ahmad, Peneliti Bidang Aqidah di Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur dan Pengurus Wilayah LBM Jawa Timur.
ย
Terpopuler
1
Gus Yahya Sampaikan Pesan KH Nurul Huda Djazuli agar Muktamar Ke-35 NU Digelar di Pesantren Lirboyo
2
Meski Sudah Gabung BoP, Pasukan Perdamaian TNI Tewas Ditembak Israel di Lebanon
3
Halal Bihalal: Tradisi Otentik Nusantara Sejak Era Wali Songo
4
Banjir Berulang di Ketanggungan Brebes, Warga Desak Pemerintah Lakukan Normalisasi Sungai
5
Gus Dur, Iran, dan Anti-Impersialisme
6
Penyelenggaraan Haji 2026 Sesuai Jadwal, Jamaah Mulai Berangkat 22 April
Terkini
Lihat Semua