NU Online
Keislaman
Advertisement Banner
600×80
Ilmu Tauhid

Menemukan Harmoni antara Kehendak Ilahi dan Tanggung Jawab Manusia

NU Online·
Menemukan Harmoni antara Kehendak Ilahi dan Tanggung Jawab Manusia
Ilustrasi orang-orang berusaha. Sumber: Canva/NU Online.
Muqoffi
MuqoffiKolomnis
Bagikan:

Dalam ajaran Islam, konsep takdir dan tawakal adalah dua pilar utama yang menuntun umat dalam menghadapi realitas kehidupan. Keduanya bukan sekadar istilah teologis, tetapi pedoman hidup yang menentukan cara seorang Muslim memandang dan merespons setiap peristiwa yang terjadi.

Sayangnya, pemahaman yang keliru tentang takdir dan tawakal sering kali berujung pada sikap yang tidak tepat, antara pasrah tanpa usaha atau berusaha tanpa menyerahkan hasil kepada Allah. Di tengah kehidupan modern yang penuh tantangan dan kompleksitas, keseimbangan antara keduanya menjadi semakin penting. Sebab, meyakini takdir sejatinya melahirkan tawakal, dan tawakal adalah bukti nyata dari keimanan seseorang kepada Allah Ta’ala.

Abdul Hamid Kisyk menjelaskan:

ومن علامات الإيمان التوكل على الله والاعتماد عليه

Artinya, “Salah satu tanda keimanan adalah bertawakal kepada Allah dan bersandar kepada-Nya,” (Abdul Hamid Kisyk, Fi Rihabit Tafsir, [T.tp, Al-Maktabul Mishri Al-Hadits, t.t.], halaman 1706).

Maka, selama seseorang benar-benar meyakini qadha dan qadar Allah Ta’ala, ia akan berserah diri sepenuhnya kepada-Nya dalam setiap urusan, baik urusan dunia maupun akhirat. Keyakinan kepada takdir bukan sekadar diucapkan, tetapi diwujudkan dalam sikap hati yang tenang dan pasrah di bawah kehendak Allah.

Sebaliknya, tidaklah disebut beriman kepada takdir jika seseorang menggantungkan segala urusannya kepada selain Allah, tidak melibatkan-Nya dalam langkah hidupnya, atau merasa mampu menyelesaikan semua persoalan dengan kekuatannya sendiri.

Karena itu, orang yang benar-benar bertawakal adalah hamba yang dicintai oleh Allah Ta’ala, sebagaimana firman-Nya:

وقوله : إن الله يحب المتوكلين. لأن التوكل علامة صدق الإيمان وفيه ملاحظة عظمة الله وقدرته 

Artinya, “(Firman Allah swt: Sesungguhnya Allah swt mencintai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya) karena tawakal merupakan tanda keimanan yang hakiki, dan tawakal itu meliputi melihat kebesaran dan kekuasaan-Nya,” (Muhammad Thahir Ibnu ‘Asyur, Tafsir At-Tahrir wat Tanwir, [Tunisia, Darut Tunisiyah Lin Nasyr: 2007], halaman 151).

Selain itu, hubungan antara takdir dan tawakal terletak pada keseimbangan antara keyakinan terhadap kehendak Ilahi dan tanggung jawab manusia untuk berbuat. Takdir adalah gerak jiwa yang meyakini kuasa Allah atas segalanya, sedangkan tawakal merupakan harmoni antara keyakinan hati dan tindakan nyata.

Pemahaman ini sejalan dengan penjelasan Muhammad Al-Qari berikut:

إنما يظهر تأثير التوكل في حركة العبد وسعيه بعمله إلى مقاصده

Artinya, “Sungguh jelas pengaruh tawakkal terhadap gerakan seorang hamba serta usahanya melalui tindakan untuk sampai pada yang dituju,” (Muhammad Al-Qari, Mirqatul Mafatih, [Lebanon, Darul Kutub Al-’Ilmiyah: 2001], jilid IX, halaman 486).

Orang yang beriman dan bertawakal bukanlah mereka yang hanya duduk berpangku tangan, lalu yakin segala kebutuhannya akan datang dengan sendirinya. Tawakal bukan berarti menunggu keajaiban tanpa usaha, melainkan berikhtiar dengan sungguh-sungguh sambil meyakini bahwa hasil akhirnya berada di tangan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Hal ini sejalan dengan sabda Rasulullah SAW berikut:

إِعْقِلْهَا وَتَوَكَّلْ

Artinya,“Ikatlah dulu untamu itu kemudian baru engkau bertawakal!” (HR. At-Tirmidzi no. 2517)

Maka, takdir dan tawakal adalah dua konsep agung dalam teologi Islam yang mutlak dibutuhkan umat dalam menjalankan tanggung jawab dan menghadapi berbagai tantangan kehidupan, baik pribadi, keluarga, sosial, maupun global.

Keduanya melahirkan keseimbangan antara kerja keras dan kesadaran spiritual. Seorang mukmin berusaha dengan sungguh-sungguh, berpikir cerdas, bekerja keras, namun tetap berdoa dan menjaga keimanan serta ketakwaannya.

Dengan perpaduan ini, seseorang mampu mengoptimalkan seluruh potensi untuk meraih cita-cita tanpa kecewa berlebihan ketika gagal, dan tidak menyerah saat diuji. Sebab, berusaha adalah kewajiban, tetapi menjadikan usaha sebagai satu-satunya sandaran adalah kekeliruan. Pada akhirnya, semua hasil diserahkan kepada takdir Allah, sebagaimana firman-Nya:

التوكل هو أن يراعي الأنسان الأسباب الظاهرة، ولكن لا يعول بقلبه عليها، بل يعول على عصمة الحق

Artinya, “Tawakkal adalah memperhatikan sebab-sebab yang nyata, namun tidak mengandalkannya dengan sepenuh hati, melainkan bersandar kepada pengawasan Allah SWT.” (Fakhruddin Ar-Razi, Tafsir Ar-Razi, [Lebanon, Darul Fikr: 1981], jilid IX, halaman 70).

Dengan demikian, takdir dan tawakal merupakan dua konsep teologis yang saling berkaitan erat. Tawakal lahir dari keimanan kepada takdir, sementara keduanya berpadu dalam keseimbangan antara keyakinan batin terhadap kehendak Ilahi dan tanggung jawab manusia untuk bertindak. Takdir menggerakkan jiwa agar yakin pada ketentuan Allah, sedangkan tawakal menyatukan keyakinan hati dengan langkah nyata di dunia.

Ustadz Muqoffi, Guru Pon-Pes Gedangan & Dosen IAI NATA Sampang Madura.

Kolomnis: Muqoffi
Tags:Takdir

Artikel Terkait

Menemukan Harmoni antara Kehendak Ilahi dan Tanggung Jawab Manusia | NU Online