Sinkronisasi Takdir dan Sebab-Akibat dalam Pandangan Aswaja
NU Online · Senin, 13 Oktober 2025 | 19:00 WIB
Ahmad Dirgahayu Hidayat
Kontributor
Masih sering kita temui dua pandangan ekstrem dalam memahami takdir. Kelompok pertama beranggapan bahwa jika segala sesuatu sudah ditentukan oleh Allah, maka usaha manusia menjadi sia-sia. Mereka berpikir, “Kalau nasib sudah ditakdirkan, untuk apa berusaha?”
Sementara kelompok lain justru menempatkan hukum sebab-akibat sebagai satu-satunya ukuran. Bagi mereka, kehidupan sepenuhnya ditentukan oleh kerja keras dan kecerdikan manusia, tanpa ruang bagi campur tangan takdir.
Padahal, kedua pandangan itu sama-sama keliru dalam pandangan Ahlussunnah wal Jamaah. Mengimani takdir tidak berarti menafikan usaha, dan mempercayai usaha tidak berarti menolak takdir. Dalam mazhab ini, keduanya harus berjalan beriringan: iman kepada takdir tertanam dalam batin, sementara hukum sebab-akibat berlaku dalam kehidupan nyata manusia.
Baca Juga
Bisakah Manusia Mengubah Takdir?
Konsep Takdir: Menyatukan Dalil yang Tampak Bertentangan
Salah satu hal yang sering membingungkan adalah adanya ayat-ayat Al-Qur’an yang tampak berlawanan.
Misalnya, pada satu ayat Allah berfirman:
قُلْ كُلٌّ مِّنْ عِنْدِ اللّٰهِۗ
Artinya, “Katakanlah: semuanya (baik dan buruk) datang dari Allah,” (QS. An-Nisa [4]: 78).
Namun pada ayat berikutnya Allah berfirman:
مَآ اَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللّٰهِۖ وَمَآ اَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَّفْسِكَۗ
Artinya, “Apa pun kebaikan yang menimpamu, datangnya dari Allah; dan apa pun keburukan yang menimpamu, datangnya dari dirimu sendiri,” (QS. An-Nisa [4]: 79).
Mengimani takdir dan menjalankan sebab-akibat ibarat dua sisi dari satu koin yang sama, namun beroperasi pada dua “instalasi” yang berbeda.
Pertama, iman kepada takdir berada pada instalasi batin, yaitu ruang kesadaran ruhani yang meyakini bahwa tidak ada sesuatu pun yang terjadi tanpa izin Allah.
Kedua, sebab-akibat berlaku pada instalasi zahir, yakni wilayah tindakan dan usaha manusia yang tunduk pada hukum alam (sunatullah). Walaupun begitu, tidak setiap peristiwa harus selalu mengikuti logika sebab-akibat semata.
Syekh Ibrahim al-Laqani (w. 1041 H) dalam Jawharatut Tauhid mengingatkan agar umat Islam menyeimbangkan dua hukum ini:
وَكُلُّ مَا يُجْرِي فِي الْكَوْنِ فَبِالْقَدَرْ
مَعْ كَسْبِ عَبْدٍ لا كَإِيجَادِ الْبَشَرْ
Artinya, “Segala yang terjadi di alam ini adalah dengan takdir, disertai usaha hamba, bukan penciptaan manusia,” (Ibrahim al-Laqani, Jawharatut Tauhid, [Beirut: Dar al-Fikr, 1998], bait 54–55, hlm. 21).
Syekh al-Bajuri dalam penjelasannya terhadap bait ini menulis:
يَجِبُ عَلَى الْعَبْدِ أَنْ يَعْمَلَ بِالأَسْبَابِ مَعَ اعْتِقَادِ أَنَّهَا لَا تُؤَثِّرُ بِذَاتِهَا، بَلْ اللهُ هُوَ الْمُسَبِّبُ
Artinya, “Wajib bagi hamba untuk berpegang pada sebab, seraya meyakini bahwa sebab itu tidak memberi pengaruh dengan sendirinya, tetapi Allahlah Sang Pemberi pengaruh,” (Hasyiyah al-Bajuri ‘ala Jawharatut Tauhid, [Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2004], hlm. 52)
Dengan demikian, meninggalkan sebab adalah kesalahan, karena Allah menjadikan sebab sebagai hukum duniawi yang wajib diikuti. Namun bergantung sepenuhnya pada sebab juga keliru, karena hasil sesungguhnya hanya diciptakan oleh Allah.
Keseimbangan inilah yang disebut para ulama sebagai tawakal, upaya total yang disertai keyakinan penuh bahwa hasil sepenuhnya berada di tangan Allah.
Syekh Muhammad Sanusi dalam Hasyiyah Sanusiyyah menulis:
فَاعْلَمْ أَنَّ الأَسْبَابَ لَا تُؤَثِّرُ فِي الذَّاتِ، بَلْ اللهُ جَعَلَهَا مَظَاهِرَ لِحِكْمَتِهِ
Artinya, “Ketahuilah bahwa sebab-sebab itu tidak memberi pengaruh dengan sendirinya, tetapi Allah menjadikannya sebagai manifestasi hikmah-Nya.” (Hasyiyah as-Sanusiyyah ‘ala Ummil Barahin, [Kairo: Maktabah al-Kubra, 1329 H], hlm. 12).
Maka, bekerja, berusaha, dan berikhtiar adalah bentuk ketaatan terhadap sunatullah; sedangkan meyakini bahwa hasilnya sepenuhnya di tangan Allah adalah buah dari tauhid.
Takdir dan sebab-akibat bukan dua kutub yang saling meniadakan, tetapi dua hukum Allah yang berjalan berdampingan di dua ruang, zahir dan batin, secara selaras.
Di ruang zahir, kita wajib bekerja, belajar, berobat, dan berusaha dengan sungguh-sungguh. Namun di ruang batin, kita harus yakin bahwa segala sesuatu terjadi semata karena kehendak Allah. Dengan demikian, kita tidak terjerumus pada fatalisme yang pasif, dan tidak pula pada rasionalisme yang sombong.
Kita bekerja keras di bumi, tapi hati kita tetap tenang di langit. Inilah instalasi ganda yang menjadikan seorang mukmin seimbang, zahirnya berjuang, batinnya berserah. Wallahu a'lam.
Ustadz Ahmad Dirgahayu Hidayat, Alumni Ma’had Aly Situbondo, Pengajar di Ponpes Manbaul Ulum Kabul, Lombok Tengah.
Terpopuler
1
Jalur Banda Aceh-Medan Macet Panjang, Ansor Imbau Pemudik Utamakan Keselamatan
2
Prabowo Klaim Pemulihan Aceh Hampir 100 Persen, NU Aceh Tamiang: 70 Persen Warga Masih Mengungsi
3
Momen Warga Aceh saat Hendak Tabarrukan Idul Fitri dengan Mustasyar PBNU Abu MUDI
4
DPR Ingatkan Mutu Pendidikan di Tengah Wacana PJJ untuk Efisiensi Energi
5
Kerugian Terbesar Seorang Muslim: Punya Waktu Luang tapi Tak Mendekat kepada Allah
6
Ribuan Paket Bantuan NU untuk Warga Palestina pada Ramadhan 1447 H
Terkini
Lihat Semua