Islam mengajarkan, beriman kepada takdir bukan berarti berhenti berusaha. Nabi SAW juga mengajarkan kita untuk selalu peduli, berhati-hati, dan mengambil langkah pencegahan sebelum tawakal kepada Allah. Sebagaimana salah satu contohnya ialah, Beliau pernah menegur sahabat karena melepas unta tanpa mengikatnya sama sekali.
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ عَلَى نَاقَةٍ لَهُ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَدَعُهَا وَأَتَوَكَّلُ؟ فَقَالَ: اعْقِلْهَا وَتَوَكَّلْ
Artinya: “Dari Anas bin Malik RA, ia bercerita bahwa suatu hari ada seseorang mengendarai unta mendatangi Rasulullah. Ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku melepasnya dan aku bertawakal.’ Rasulullah menjawab, ‘Ikatlah untamu, lalu bertawakallah!’” (HR. Al-Baihaqi)
Namun setelah itu, timbul pertanyaan: ketika musibah terjadi, apakah kita hanya cukup mengatakan “ini sudah takdir Allah” (seperti contoh kasus sebelumnya), atau kita tetap memiliki kewajiban untuk berikhtiar? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, simak tulisan ini hingga tuntas.
Memang betul, bahwa seluruh takdir berasal dari Allah, dan hal ini ditegaskan secara eksplisit dalam Al-Qur’an. Allah menyatakan bahwa setiap peristiwa, termasuk musibah yang terjadi di bumi maupun menimpa diri manusia, telah tertulis dalam ketetapan-Nya. Sebagaimana yang terkandung dalam Surat Al-Hadid ayat 22:
مَآ اَصَابَ مِنْ مُّصِيْبَةٍ فِى الْاَرْضِ وَلَا فِيْٓ اَنْفُسِكُمْ اِلَّا فِيْ كِتٰبٍ مِّنْ قَبْلِ اَنْ نَّبْرَاَهَا ۗ اِنَّ ذٰلِكَ عَلَى اللّٰهِ يَسِيْرٌۖ
Artinya: “Tidak ada bencana (apa pun) yang menimpa di bumi dan tidak (juga yang menimpa) dirimu, kecuali telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuz) sebelum Kami mewujudkannya. Sesungguhnya hal itu mudah bagi Allah.” (QS. Al-Hadid [57]: 22)
Tidak hanya dalam QS. Al-Hadid ayat 22, fenomena musibah ini juga ditegaskan dalam QS. At-Taghabun ayat 11, bahwa tidak ada musibah yang terjadi kecuali dengan izin Allah. Artinya, segala peristiwa tetap berada dalam kendali dan pengaturan-Nya. Selain itu, ayat ini juga menyebutkan bahwa Allah akan memberi petunjuk kepada hati orang yang beriman.
مَآ اَصَابَ مِنْ مُّصِيْبَةٍ اِلَّا بِاِذْنِ اللّٰهِ ۗ وَمَنْ يُّؤْمِنْۢ بِاللّٰهِ يَهْدِ قَلْبَهٗ ۗ وَاللّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ
Artinya: “Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa (seseorang), kecuali dengan izin Allah. Siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. At-Taghabun [64]: 11)
Syekh Az-Zuhaili dalam At-Tafsirul Munir menegaskan bahwa setiap peristiwa di alam ini tetap berada dalam kekuasaan Allah. Apa saja yang terlihat memang seakan-akan berasal dari manusia, seperti kesialan atau perbuatan jahat. Namun Az-Zuhaili menekankan perbedaan antara sebab yang tampak dan kehendak Allah sebagai sebab hakiki.
فالأشياء والأحداث والمصائب تنسب إلى الله الموجد لها، لا إلى أحد من البشر في الحقيقة، وأما ما يقال من التشاؤم (الطيرة) في المرأة والدابة والدار، فذلك بحسب عرف الناس وتصوراتهم ومقالاتهم، لا في واقع الأمر، كذلك السحر والعين والقتل كل ذلك يحدث بتأثير الله، فهو المؤثر والفعال الحقيقي، وأما فعل الناس فهو مجرد أمر أو سبب في الظاهر، فينسب إليه الشيء الحادث ظاهرا، لا حقيقة. وإنما قيد المصائب بكونها في الأرض والأنفس لقصرها على أحوال الدنيا
Artinya: “Segala sesuatu, peristiwa, dan musibah pada hakikatnya dinisbatkan kepada Allah sebagai Dzat yang menciptakan dan mewujudkannya, bukan kepada manusia secara hakiki. Adapun ucapan bahwa ada kesialan (thiyarah) pada perempuan, hewan tunggangan, atau rumah, semua itu hanyalah berdasarkan kebiasaan, anggapan, dan ucapan manusia, bukan realitas yang sebenarnya. Demikian pula sihir, ‘ain (pandangan hasad), dan pembunuhan, semua itu terjadi karena pengaruh kekuasaan Allah; Dialah satu-satunya yang memberi pengaruh dan yang benar-benar bertindak secara hakiki. Sedangkan perbuatan manusia hanyalah perintah atau sebab secara lahiriah, sehingga suatu kejadian dinisbatkan kepada manusia hanya dari sisi tampak luarnya, bukan dari sisi hakikatnya. Dan Allah membatasi penyebutan musibah itu pada yang terjadi di bumi dan menimpa jiwa, karena semua itu hanya berkaitan dengan keadaan dunia semata,” (Az-Zuhaili, Tafsirul Munir fil ‘Aqidah wasy Syari’ah wal Manhaj, [Damaskus: Darul Fikr, 1991], jilid 27, hal. 237)
Penjelasan dari Az-Zuhaili ini menegaskan bahwa perbuatan manusia memang memiliki peran, tetapi hanya sebatas sebab lahiriah yang tampak di permukaan. Artinya, manusia diberi ikhtiar dan tindakan yang bisa memicu suatu kejadian, namun kekuatan yang benar-benar mewujudkannya tetap berasal dari Allah.
Selanjutnya, dalam penafsiran Surat At-Taghabun ayat 11, Az-Zuhaili memberikan penjelasan yang lebih spesifik tentang hubungan antara takdir Allah dan musibah yang terjadi di dunia, dibandingkan dengan penjelasan sebelumnya mengenai QS. Al-Hadid ayat 22.
Dalam menjelaskan QS. At-Taghabun ayat 11, ia tidak hanya menegaskan bahwa musibah datang dengan izin Allah, tetapi juga membuka ruang bagi peran manusia. Menurut Az-Zuhaili, manusia tidak boleh memahami takdir secara pasif, karena Al-Qur’an tetap menekankan adanya tanggung jawab, pilihan, dan konsekuensi dari setiap tindakan manusia dalam kehidupan.
Karena itu, manusia tetap memiliki andil dalam terjadinya suatu kebaikan atau keburukan di dunia melalui usaha dan ikhtiarnya. Takdir tidak bisa dijadikan hanya sebagai alasan dari suatu peristiwa, tetapi dorongan untuk berbuat yang terbaik, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah.
أي إن كل ما يصيب الإنسان من خير أو شر، فهو بقضاء الله وقدره، وقيل: إن سبب نزولها أن الكفار قالوا: لو كان ما عليه المسلمون حقا، لصانهم الله عن المصائب في الدنيا فما على الإنسان إلا السعي والعمل لجلب الخير ودفع الضر عن نفسه، ثم التوكل على الله بعدئذ، فإن تحقيق النتائج يكون بقضاء الله وقدره
Artinya: “Yakni, segala sesuatu yang menimpa manusia, baik kebaikan maupun keburukan, semuanya terjadi berdasarkan ketetapan dan takdir Allah. Dikatakan bahwa sebab turunnya ayat ini adalah karena orang-orang kafir berkata: ‘Seandainya ajaran yang dianut kaum Muslimin itu benar, tentu Allah akan menjaga mereka dari berbagai musibah di dunia.’ Kemudian, tidak ada kewajiban bagi manusia selain berusaha dan bekerja untuk meraih kebaikan serta menolak keburukan dari dirinya, kemudian bertawakal kepada Allah setelah itu, karena terwujudnya hasil tetap terjadi melalui ketetapan dan takdir Allah,” (Az-Zuhaili, Tafsirul Munir,, jilid 28, hal. 249)
Uraian mengenai QS. At-Taghabun ayat 11 dari Az-Zuhaili ini menegaskan bahwa ajaran Islam tentang takdir tidak semata-mata meniadakan peran manusia dalam berusaha. Manusia tetap memiliki tanggung jawab untuk bekerja, merencanakan, dan menghindari keburukan semampunya. Mengenai hasil akhir, semuanya berada dalam koridor kekuasaan Allah, tetapi prosesnya menuntut ikhtiar dan kesungguhan.
Demikian. Takdir dalam Islam bukanlah konsep yang menafikan realitas alamiah kehidupan. Al-Qur’an menjelaskan bahwa segala sesuatu terjadi dengan izin Allah, termasuk musibah, namun pada saat yang sama manusia diberikan peran untuk memilih, berusaha, dan bertanggung jawab atas tindakannya.
Oleh karena itu, pemahaman takdir seharusnya melahirkan sikap seimbang, yakni menerima ketentuan Allah dengan hati yang tenang, sekaligus berusaha semaksimal mungkin untuk memperbaiki keadaan.
Sebab, ikhtiar dan tawakal bukan dua hal yang bertentangan, tetapi saling melengkapi. Dengan keseimbangan inilah manusia mampu menghadapi musibah secara bijak, tidak sombong ketika berhasil, dan tidak putus asa ketika diuji. Wallahu a'lam.
Ustadz Muhaimin Yasin, Alumnus Pondok Pesantren Ishlahul Muslimin Lombok Barat dan Pegiat Kajian Keislaman.
