NU Online
Keislaman
Advertisement Banner
600×80
Ilmu Tauhid

Nabi Ibrahim dalam Memori Kolektif Arab: Antara Klaim Darah dan Jejak Tauhid yang Hilang

NU Online·
Nabi Ibrahim dalam Memori Kolektif Arab: Antara Klaim Darah dan Jejak Tauhid yang Hilang
Nabi Ibrahim dalam Memori Kolektif Arab (Freepik)
Bagikan:

Islam tidak hadir sebagai tamu asing yang mengetuk pintu peradaban Arab dengan membawa nama yang sama sekali baru, seolah-olah Nabi Muhammad SAW memperkenalkan sosok Ibrahim kepada masyarakat yang buta sejarah. 

Sebaliknya, nama Ibrahim telah lama bergema di lembah gersang itu, hidup dalam denyut nadi memori kolektif bangsa Arab, jauh sebelum wahyu pertama turun memecah keheningan Gua Hira.

Ka‘bah yang berdiri kokoh sebagai poros bumi, hiruk-pikuk ritual haji, hingga fanatisme silsilah suku Quraisy, adalah monumen hidup yang membuktikan bahwa Nabi Ibrahim AS bukanlah tokoh asing. Ia adalah bapak spiritual sekaligus nenek moyang biologis yang dibanggakan. 

Martin Lings dalam karyanya yang masyhur, Muhammad: His Life Based on the Earliest Sources, melukiskan momen purba ini dengan sangat puitis. Ia menggambarkan bagaimana Ibrahim AS tidak hanya membangun sebuah bangunan batu di lembah gersang, tetapi sedang mengalirkan dua aliran spiritual yang memancar dari dirinya. 

Ka'bah adalah titik temu langit dan bumi, tempat Nabi Ibrahim AS diperintahkan Tuhan untuk menyeru manusia:

"Purify My House for those who go the rounds of it. And proclaim unto men the pilgrimage."

Artinya; "Sucikanlah Rumah-Ku bagi orang-orang yang thawaf. Dan serukanlah kepada manusia untuk mengerjakan haji." (lihat: Muhammad: His Life Based on the Earliest Sources, [Lahore: Suhail Academy, 1983], halaman 3).

Ia menegaskan bahwa ritual Sa'i yang dilakukan jutaan jamaah haji hingga hari ini adalah memori hidup dari perjuangan Hajar. Jejak-jejak ini membuktikan bahwa Islam datang untuk menghidupkan kembali memori suci yang telah tertimbun.

Sayangnya, pelestarian situs dan ritual ini tidak berbanding lurus dengan pelestarian esensi ajarannya. Di sinilah letak paradoks sejarah yang paling tragis: Bangsa Arab begitu memuja Ibrahim sebagai leluhur, namun di saat yang sama mereka justru menikam jantung ajaran yang diperjuangkannya. Islam, dengan demikian, hadir bukan untuk melukis wajah baru, melainkan membersihkan debu-debu mitos yang telah menutupi wajah asli sang Khalilullah.

Catatan sejarah merekam dengan jelas, betapa kuatnya klaim masyarakat Arab pra-Islam terhadap warisan Ibrahim. Mereka dengan bangga menyebut diri mereka berada di atas Millah Ibrahim. Mereka memuliakan Ka‘bah sebagai Baitullah. Namun, penghormatan ini bercampur dengan ironi yang memilukan. Sebab, rumah suci yang dibangun di atas pondasi tauhid itu justru dikepung oleh ratusan berhala yang membisu.

Imam Ibnu Ishaq menarasikan dualisme teologis yang kontradiktif ini dalam catatannya:

وَكَانَتْ قُرَيْشٌ حِينَ رَفَعُوا بُنْيَانَ الْكَعْبَةِ وَسُقُوفَهَا يَتَرَافَدُونَ عَلَى كِسْوَتِهَا كُلَّ عَامٍ، تَعْظِيمًا لِحَقِّهَا، وَكَانُوا يَطُوفُونَ بِهَا، وَيَسْتَغْفِرُونَ اللَّهَ عِنْدَهَا، وَيَذْكُرُونَهُ مَعَ تَعْظِيمِ الْأَوْثَانِ وَالشِّرْكِ فِي ذَبَائِحِهِمْ وَدِينِهِمْ كُلِّهِ.

Artinya: “Dan dahulu kaum Quraisy, ketika mereka meninggikan bangunan Ka'bah dan atap-atapnya, mereka saling bantu-membantu untuk pembuatan Kiswah Ka'bah setiap tahunnya, sebagai bentuk pengagungan terhadap hak kemuliaan Ka'bah. Mereka biasa melakukan tawaf di sekelilingnya dan memohon ampunan kepada Allah di sisinya. Namun, mereka menyebut nama-nama Allah berbarengan dengan pengagungan terhadap berhala-berhala, serta melakukan kesyirikan dalam sembelihan-sembelihan mereka dan dalam agama mereka seluruhnya.” (Sirah Ibn Ishaq, [Beirut: Dar al-Fikr, 1978], halaman 115).

Pertanyaan mendasarnya adalah, bagaimana ajaran Ibrahim yang begitu murni bisa berubah menjadi paganisme yang rumit? Sejarah mencatat bahwa pergeseran ini tidak terjadi dalam semalam, melainkan melalui proses sinkretisme budaya yang halus (lihat artikel “Dari Tirani Namrud ke Berhala Hubal: Jejak Paganisme Babilonia di Tanah Arab”).

Salah satu titik balik kerusakan tauhid tersebut dibawa oleh Amr bin Luhay al-Khuza’i, tokoh yang bertanggung jawab mengubah wajah spiritual Makkah. Sebab, Ia tidak hanya membawa berhala Hubal dari tanah Syam, tetapi juga mengubah Talbiyah haji, kalimat suci tauhid warisan Ibrahim menjadi deklarasi kesyirikan.

Muhammad Ibrahim al-Fayoumi merekam bagaimana redaksi Talbiyah yang semula murni mengesakan Tuhan, disusupi oleh klausa pengecualian yang melegitimasi berhala:

لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ، إِلَّا شَرِيكًا هُوَ لَكَ، تَمْلِكُهُ وَمَا مَلَكَ، فَيُوَحِّدُونَهُ بِالتَّلْبِيَةِ ثُمَّ يُدْخِلُونَ مَعَهُ أَصْنَامَهُمْ وَيَجْعَلُونَ مِلْكَها بِيَدِهِ

Artinya: “Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu. Aku penuhi panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu, kecuali sekutu yang menjadi milik-Mu, Engkau memilikinya dan apa yang ia miliki.” Mereka mengesakan-Nya dalam talbiyah awal, kemudian mereka memasukkan berhala-berhala mereka bersama-Nya, dan menjadikan kepemilikan berhala itu di tangan-Nya.” (Tarikh al-Fikr ad-Dini al-Jahili, [Kairo: Dar al-Fikr al-Arabi, 1994 M], halaman 466).

Inilah kontradiksi terbesar nalar Arab Jahiliyah. Mengapa mereka mengaku pengikut Ibrahim justru menyetarakan Tuhan dengan berhala?

Ahmad Amin menyebutnya sebagai Dha’f at-Ta’lil, bahwa bangsa Arab masa itu kehilangan kemampuan memahami hubungan sebab-akibat yang logis, sehingga terjebak pada khurafat. Sebagaimana catatannya:

هَذَا الضَّعْفُ فِي التَّعْلِيلِ هُوَ الَّذِي يَشْرَحُ لَنَا مَا مُلِئَتْ بِهِ كُتُبُ الْأَدَبِ مِنْ خُرَافَاتٍ وَأَسَاطِيرَ كَانَتِ الْعَرَبُ تَعْتَقِدُهَا فِي جَاهِلِيَّتِهَا. وَقَدْ عَجَزُوا عَنْ أَنْ يَفْهَمُوا أَنْ لَيْسَ هُنَاكَ ارْتِبَاطٌ صَحِيحٌ بَيْنَ هَذِهِ الْجُرْذَانِ الْخُرَافِيَّةِ وَخَرَابِ السَّدِّ.

Artinya: "Kelemahan dalam penalaran inilah yang menjelaskan mengapa literatur Arab penuh dengan khurafat dan mitos. Mereka tidak mampu memahami hubungan sebab-akibat yang benar." (Fajr al-Islam, [Kairo: Muassasah Hindawi, 2017], halaman 49-50).

Puncak dari distorsi memori ini terekam dalam peristiwa Fathu Makkah. Ketika Rasulullah SAW memasuki Ka‘bah, beliau tidak hanya menemukan berhala fisik, tetapi juga berhala persepsi di dalam benak masyarakat Arab. Dinding-dinding Ka‘bah dipenuhi lukisan, dan salah satu yang membuat darah Rasulullah SAW mendidih adalah gambar Nabi Ibrahim AS yang dilukis sedang memegang azlam semacam anak panah untuk mengundi nasib.

Imam Ibnu Katsir merekam momen kemurkaan itu, lewat Sabda Nabi Muhammad SAW : 

قَاتَلَهُمُ اللَّهُ، جَعَلُوا شَيْخَنَا يَسْتَقْسِمُ بِالْأَزْلَامِ، مَا شَأْنُ إِبْرَاهِيمَ وَالْأَزْلَامِ؟!

Artinya: “Semoga Allah membinasakan mereka! Mereka menjadikan Bapak Leluhur kita mengundi nasib dengan azlam. Apa urusan Ibrahim dengan azlam?!” (Al-Bidayah wan Nihayah, [Beirut: Dar Ibn Kathir, 2013 M], Juz 4, halaman 554).

Namun, di tengah pekatnya kabut kemusyrikan, cahaya tauhid Ibrahim tidak benar-benar padam. Selalu ada arus kecil yang melawan arus besar, yang dikenal sebagai Hunafa’, yaitu kelompok para pencari kebenaran. Kelompok ini tampak selalu gelisah melihat kaumnya tersesat di halaman rumah Tuhan mereka sendiri.

Sosok figur paling menonjol dari kelompok ini adalah Zaid bin ‘Amr bin Nufail. Ia adalah sepupu dari Umar bin Khattab yang menolak tunduk pada berhala, namun juga enggan memeluk Yahudi atau Nasrani karena melihat kedua agama tersebut juga telah menyimpang. Ia berkelana mencari Al-Hanifiyyah, agama murni Ibrahim.

Imam Ibnu Hisyam meriwayatkan bagaimana Zaid berdiri menantang arus zaman, bersandar pada Ka'bah, dan menggugat kaum Quraisy yang telah merusak warisan leluhur mereka. Ia berseru:

يَا مَعْشَرَ قُرَيْشٍ، وَاَلَّذِي نَفْسُ زَيْدِ بْنِ عَمْرٍو بِيَدِهِ، مَا أَصْبَحَ مِنْكُمْ أَحَدٌ عَلَى دِينِ إِبْرَاهِيمَ غَيْرِي، ثُمَّ يَقُولُ: اللَّهُمَّ لَوْ أَنِّي أَعْلَمُ أَيَّ الْوُجُوهِ أَحَبُّ إِلَيْكَ عَبَدْتُكَ بِهِ، وَلَكِنِّي لَا أَعْلَمُهُ، ثُمَّ يَسْجُدُ عَلَى رَاحَتِهِ.

Artinya: “Wahai segenap kaum Quraisy, demi Dzat yang jiwa Zaid bin 'Amr berada di tangan-Nya, tidak ada seorang pun di antara kalian yang berada di atas agama Ibrahim selain aku.” Kemudian ia berkata: “Ya Allah, seandainya aku mengetahui cara ibadah mana yang paling Engkau cintai, niscaya aku akan menyembah-Mu dengan cara itu, akan tetapi aku tidak mengetahuinya.” Kemudian ia bersujud di atas telapak tangannya.” (Sirah An-Nabawiyah li Ibni Hisyam, [Kairo: Syarikah at-Thiba’ah al-Fanniyyah, t.t], Juz I, halaman 208).

Saad al-Marshafi merekam syair yang begitu menggugah, tanda keteguhan hati Zaid saat  meninggalkan berhala-berhala kaumnya demi mencari Tuhan yang Esa:

أَرَبًّا وَاحِدًا أَمْ أَلْفَ رَبٍّ ... أَدِينُ إذَا تُقُسِّمَتْ الْأُمُورُ

عَزَلْتُ اللَّاتَ وَالْعُزَّى جَمِيعًا ... كَذَلِكَ يَفْعَلُ الْجَلْدُ الصَّبُورُ

فَلَا الْعُزَّى أَدِينُ وَلَا ابْنَتَيْهَا ... وَلَا صَنَمَيْ بَنِي عَمْرٍو أَزُورُ

وَلَكِنْ أَعْبُدُ الرَّحْمَنَ رَبِّي ... لِيَغْفِرَ ذَنْبِيَ الرَّبُّ الْغَفُورُ

Artinya:  Apakah satu tuhan atau seribu tuhan... 

Yang harus aku sembah jika urusan-urusan terbagi-bagi?

Aku tinggalkan Al-Latta dan Al-‘Uzza semuanya... 

Demikianlah yang dilakukan oleh orang yang kuat lagi sabar.

Aku tidak beragama dengan (menyembah) Al-Uzza dan kedua putrinya... 

Dan tidak pula aku mengunjungi dua berhala Bani Amr. 

Akan tetapi aku menyembah Ar-Rahman, Tuhanku... 

Agar Tuhan Yang Maha Pengampun mengampuni dosaku. (Al-Jami' al-Sahih lil-Sirah al-Nabawiyyah, [Kuwait: Dar Ibn Kathir, 2009], Juz II, halaman 380-381).

Tragisnya, Zaid wafat sebelum sempat melihat kerasulan Nabi Muhammad SAW. Ia terbunuh di tanah Lakhm saat perjalanan pulang dari Syam, membawa kerinduan yang belum tuntas. Namun, Nabi Muhammad SAW memberikan kesaksian agung baginya: "Ia akan dibangkitkan pada hari Kiamat sebagai satu umat sendirian." (lihat narasi kisah Zaid Ibn Amr Ibn Nufail dalam Siyar A'lamin Nubala', [Beirut: Mu'assasatur Risalah, 1985 M], Juz I, halaman 79).

Kegelisahan Zaid bin Amr dan realitas masyarakat Arab tersebut mengantarkan kita pada sebuah simpulan sosiologis yang penting. Bahwa sejatinya, bangsa Arab saat itu tidak sepenuhnya buta akan Tuhan, namun mereka tersesat dalam cara menyembah-Nya.

W. Montgomery Watt, dalam buku Muhammad at Mecca, membantah anggapan lama bahwa masyarakat Arab pra-Islam adalah kaum pagan murni. Sebaliknya, Ia menyebut mereka memiliki Vague Monotheism, yaitu Monoteisme Samar (lihat: Muhammad at Mecca, [Oxford: Clarendon Press, 1953], halaman 158).

Oleh karena itu tidak terelakkan lagi, bahwa atmosfer intelektual Makkah sejatinya telah diresapi oleh monoteisme ajaran Ibrahim, namun dalam bentuk yang kabur dan tertutup oleh tradisi yang berkembang. Sehingga, Nabi Muhammad SAW hadir bukan untuk memperkenalkan Tuhan yang asing, melainkan untuk mempertegas apa yang samar dan memisahkan kebenaran dari kebatilan. Misi Nabi Muhammad SAW adalah menyeru kaumnya untuk mengabdi hanya kepada Dia yang sebenarnya sudah mereka akui keberadaan-Nya, namun mereka lupakan hak-Nya.

Islam, pada akhirnya, adalah jalan pulang. Jalan untuk menemukan kembali Agama Bapakku, Ibrahim, yang telah lama tertimbun debu-debu jahiliyah, mengembalikannya menjadi kompas moral yang murni bagi kemanusiaan. Wallahu a’lam bisshawab.

------------------
Agung Nugroho Reformis Santono, Mahasiswa Pendidikan Kader Ulama Masjid Istiqlal Jakarta

Artikel Terkait