NU Online
Keislaman
Advertisement Banner
600×80
Ilmu Tauhid

Umar bin Khattab: Lari dari Takdir Menuju Takdir yang Lebih Baik

NU Online·
Umar bin Khattab: Lari dari Takdir Menuju Takdir yang Lebih Baik
Sumber: Canva/NU Online.
Sunnatullah
SunnatullahKolomnis
Bagikan:

Dalam kehidupan sehari-hari, konsep takdir sering kali disederhanakan menjadi pemahaman yang keliru, bahwa segala sesuatu telah diciptakan dan ditentukan oleh Allah SWT kepada hamba-hamba-Nya, dan manusia cukup berpasrah saja menunggu takdirnya. Pandangan yang sempit ini kerap melahirkan sikap fatalis, di mana semangat berikhtiar menjadi pudar.

Akibatnya, takdir yang seharusnya menjadi sumber ketenangan, justru berubah menjadi alasan untuk bermalas-malasan dan menyerah pada keadaan. Selain itu, akibat dari pemahaman sempit ini akan  membelenggu potensi dan mematikan daya juang setiap orang.

Padahal, ajaran Islam menawarkan pemahaman tentang takdir yang dinamis dan komprehensif. Ia bukanlah jalan buntu yang memaksa kita untuk berpangku tangan, melainkan peta kehidupan yang di dalamnya terdapat banyak jalur dan pilihan. Setiap pilihan itu sendiri adalah bagian dari takdir, dan usaha kita untuk memilih yang terbaik juga menjadi bagian dari takdir  tersebut.

Nah, di sinilah letak pentingnya meluruskan kerancuan berpikir tersebut dengan merujuk pada teladan konkret yang telah dicontohkan oleh para sahabat, perihal bagaimana para sahabat Rasulullah yang iman dan tawakalnya kepada Allah tidak diragukan, serta pemahamannya terhadap takdir sangat mendalam, menerapkan konsep takdir ini dalam tindakan nyata sehari-hari mereka.

Oleh karena itu, untuk membongkar dikotomi antara ikhtiar dan takdir, serta menemukan titik terang yang memadukan keduanya dalam sebuah teladan, penulis akan menceritakan salah satu kisah luar biasa yang terjadi pada Amirul Mukminin Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu.

Ketika Umar Memilih Takdir Terbaik

Dikisahkan bahwa suatu ketika Amirul Mukminin Umar bin Khattab bersama sejumlah sahabat besar berangkat menuju negeri Syam, namun ketika rombongan mereka sampai di daerah al-Jabiyah, terdengar kabar bahwa negeri Syam sedang dilanda wabah yang mematikan, serta penyakit menular yang telah merenggut banyak jiwa.

Kabar itu membuat rombongan para sahabat berhenti, kemudian muncul setidaknya dua pandangan yang berbeda. Sebagian berpendapat, “Kita tidak boleh masuk ke wilayah yang terjangkit wabah, karena jika masuk, berarti kita sengaja menyerahkan diri kepada kebinasaan.” Namun sebagian lain berkata, “Justru kita harus masuk dan bertawakal kepada Allah. Tidak pantas bagi seorang mukmin lari dari takdir-Nya, karena kematian pun adalah bagian dari ketetapan Allah.

Setelah terjadi perbedaan antara para sahabat perihal apakah meneruskan perjalanan menuju kota Syam yang sedang dilanda wabah atau tidak, maka mereka sepakat untuk mendudukan perkara dengan bertanya kepada sang khalifah Umar bin Khattab. Setelah kabar tentang wabah hingga perbedaan pendapat para sahabat disampaikan, ia dengan tegas berkata:

Kita akan kembali ke Madinah, dan tidak akan memasuki negeri yang sedang dilanda wabah.”

Namun keputusan yang diambil oleh sang khalifah tersebut memunculkan keberatan di antara sebagian sahabat, terutama dari kalangan yang memahami bahwa menghindar dari wabah sama saja dengan menghindar dari takdir. Maka salah satu dari mereka berkata, “Apakah engkau hendak lari dari takdir Allah?”

Maka Amirul Mukminin Umar bin Khattab menjawab:

نَعَمْ، نَفِرُّ مِنْ قَدَرِ اللهِ إِلىَ قَدَرِ اللهِ

Artinya, “Ya, kita lari dari satu takdir Allah menuju takdir Allah yang lain.” (Imam al-Ghazali, Ihya Ulumiddin, [Beirut: Darul Ma’rifah, t.t], jilid IV, halaman 290).

Tidak hanya itu, Khalifah Umar kemudian memberikan sebuah gambaran yang lebih rasional dan mudah diterima oleh akal. Ia berkata, “Bagaimana pendapat kalian jika kalian memiliki sekawanan kambing, lalu turun ke sebuah lembah yang memiliki dua jalur, satu jalur subur dan penuh rerumputan, sementara satu jalur lainnya sangat tandus tanpa kehidupan. Bukankah jika kalian menggembalakan kambing di tanah yang subur, itu pun dengan takdir Allah? Dan jika kalian memilih jalur yang sangat tandus, itu pun juga dengan takdir Allah?

Kisah ini menunjukkan perihal bagaimana Khalifah Umar memahami hakikat takdir dengan pemahaman yang sangat proporsional. Ia tidak menafsirkan takdir secara sempit sebagai sesuatu yang meniadakan usaha, tetapi justru sebagai ikhtiar manusia untuk menggunakan akal, menimbang sebab, dan memilih jalan terbaik di antara sekian kemungkinan yang juga berada dalam lingkup kehendak Allah.

Dengan demikian, maka kisah di atas menegaskan bahwa meskipun manusia tidak dapat menghindar dari takdir, namun Allah sendiri memerintahkan hamba-Nya untuk mengambil langkah preventif dari segala hal yang membahayakan dan mengerahkan segenap kemampuan untuk menghindari segala hal yang bisa menjadi penyebab kebinasaan. Penjelasan ini sebagaimana disampaikan oleh Imam Abu Hafs ad-Dimasyqi (wafat 880 H), dalam kitabnya mengatakan:

وَالمَعْنَى: لَا مَحِيصَ لِلْإِنسَانِ عَمَّا قَدَّرَهُ اللهُ عَلَيْهِ، لَكِنْ أَمَرَنَا اللهُ بِالتَّحَرُّزِ مِنَ المَخَاوِفِ وَالمُهْلِكَاتِ، وَبِاسْتِفْرَاغِ الوُسْعِ فِي التَّوَقِّي مِنَ المَكْرُوهَاتِ

Artinya, “Makna (ucapan Umar di atas) adalah tidak ada jalan bagi manusia untuk lari dari apa yang telah Allah tetapkan atas dirinya. Namun, Allah memerintahkan kita untuk berhati-hati terhadap hal-hal yang menakutkan dan membinasakan, serta mengerahkan segenap kemampuan dalam menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.” (al-Lubab fi Ulumil Kitab, [Beirut: Darul Kutub Ilmiah, 1998 M], jilid IV, halaman 252).

Penjelasan ini dengan tegas membedakan antara sikap pasrah yang keliru dengan tawakal yang benar. Sikap pasrah buta yang menafikan ikhtiar justru bertentangan dengan perintah Allah untuk mengerahkan segenap kemampuan.

Sementara tawakal yang sesungguhnya muncul setelah ikhtiar dilakukan secara maksimal, sebagaimana tercermin dalam keputusan Umar yang tidak hanya berdasar pada keyakinan, tetapi juga pertimbangan rasional untuk keselamatan jiwa.

Dari sini kita memahami bahwa beriman kepada takdir tidak berarti berlepas tangan dari tanggung jawab. Justru sebaliknya, keyakinan yang benar terhadap takdir akan mendorong seseorang untuk lebih optimis dan proaktif dalam menghadapi kehidupan. Dengan demikian, setiap usaha yang kita lakukan, setiap pilihan yang kita ambil, dan setiap langkah preventif yang kita tempuh, semua itu adalah bagian dari takdir yang sedang kita jalani. Wallahu a’lam bisshawab.

Ustadz Sunnatullah, Pengajar di Pondok Pesantren Al-Hikmah Darussalam Durjan Kokop Bangkalan Jawa Timur.

Kolomnis: Sunnatullah
Tags:Takdir

Artikel Terkait

Umar bin Khattab: Lari dari Takdir Menuju Takdir yang Lebih Baik | NU Online