Akademisi Perintis Studi Islam di Amerika Prof John L Esposito Meninggal Dunia
NU Online · Jumat, 17 Juli 2026 | 23:00 WIB
Muhammad Syakir NF
Penulis
Jakarta, NU Online
Prof John L Esposito, akademisi yang merintis studi Islam di Amerika, meninggal dunia dalam usia 86 tahun pada Rabu (15/7/2026). Hal ini sebagaimana dilansir Al Jazeera pada Kamis (16/7/2026).
Lahir di Brooklyn, New York pada tahun 1940, Esposito belajar di bawah bimbingan akademisi Palestina-Amerika Ismail Raji al-Faruqi saat studi di Temple University. Kajian Esposito disebut berupaya untuk mengoreksi miskonsepsi Barat terhadap Islam dan membangun dialog antara Muslim dan masyarakat sekitar.
Guru Besar di Universitas Georgetown Washington DC ini mendirikan Center for Muslim-Christian Understanding di kampusnya tersebut pada tahun 1993. Dalam perkembangannya, lembaga tersebut berubah nama menjadi Alwaleed bin Talal Center for Muslim-Christian Understanding.
Guru Besar Universitas Georgetown Jonathan AC Brown merasa berutang banyak terhadap sosok yang sudah dianggap sebagai mentor yang hebat baginya. Ia menyebut sebagai sosok Amerika terbaik.
"Komitmennya terhadap kebebasan beragama dan kebebasan berbicara adalah naluriah dan abadi," kata Brown melalui akun X pribadinya.
Esposito, lanjut Brown, merupakan sosok yang tidak pernah goyah dalam menganjurkan orang-orang dapat menjalani agama mereka dalam kehidupan publik. Kekokohannya juga ditunjukkan dengan menentang negara yang memaksakan diri pada kehidupan moral pribadi orang-orang.
"Kebencian dan ketidaktahuan terhadap yang lain adalah setan-setan yang dibencinya secara mendalam," kata penulis Hadith: Muhammad's Legacy in the Mediecal and Modern World itu.
Senada, Rektor American Ilamic College Timothy J Gianotti menyebut Eposito sebagai seorang rekan yang begitu dipercaya dan kawan setia bagi sivitas kampusnya.
"Dia adalah seorang teman dan pemandu yang dipercaya oleh begitu banyak dari kita, seorang teman yang setiap dari American Islamic College dan saya percaya dia adalah seorang teman sejati dari Tuhan," tulisnya di laman Facebook.
Nader Hashemi dalam artikelnya di Al Jazeera menyebut bahwa Esposito telah menerbitkan lebih dari 55 buku, mayoritas terbit di Oxford University Press. Buku-bukunya itu telah diterjemahkan ke puluhan bahasa.
Esposito, jelasnya, mengembangkan sebuah pemahaman baru terhadap agama dengan mengkritik teori-teori dominan dalam ilmu sosial mengenai perkembangan politik. Menurutnya, dia mampu memberikan gambaran dengan cerdas mengenai bias secular yang menginformasikan mengenai perdebatan telektual di Barat mengenai hubungan antara agama dan politik.
"Teori-teori modernisasi ini mengklaim berlaku secara universal demgan bertumpu pada asumsi bahwa agama merupakan peninggalan masa lalu yang tidak laig memainkan peran penting dalam dunia modern. Sesungguhnya, klaim-klaim ini bias secara ideologi, berdasarkan pada pengalaman-pengalaman spesifik dari Barat," katanya.
Sementara itu, Esposito secara kontras menginterpretasikan bahwa politik dunia Islam tidak berasal dari bingkai kerja normatif Barat, tetapi dari pengalaman dunia Muslim sendiri. Dalam kata lain, hal tersebut tidak berasal dari luar, melainkan dari dalam, tidak dari bawah ke atas, melainkan dari perspektif masyarakat luas yang banyak dari mereka tetap mempertahankan identitas agamanya.
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: Menjaga Hati dari Iri kepada Nikmat Orang Lain
2
Khutbah Jumat: Safar Bukan Bulan Sial
3
Khutbah Jumat: Tetap Mencari Rezeki Halal di Tengah Tantangan Ekonomi
4
Rabu-Kamis Matahari di Atas Ka'bah Tepat, Saatnya Pastikan Arah Kiblat secara Akurat
5
Khutbah Jumat: Belajar dari Kisah Nabi Ya’qub dalam Menjauhi Sifat Putus Asa
6
Khutbah Jumat: Di Era Viral, Jangan Kehilangan Rasa Malu kepada Allah
Terkini
Lihat Semua