Khutbah

Khutbah Jumat: Menjaga Hati dari Iri kepada Nikmat Orang Lain

NU Online  ·  Rabu, 15 Juli 2026 | 05:17 WIB

Khutbah Jumat: Menjaga Hati dari Iri kepada Nikmat Orang Lain

Khutbah Jumat (Magnific)

Salah satu penyakit hati yang jarang sekali disadari oleh manusia adalah iri kepada nikmat orang lain. Perasaan ini seringkali muncul tanpa disadari, kemudian menggerogoti ketenangan hati dan merusak hubungan antar sesama, bahkan mengurangi rasa syukur atas karunia yang telah Allah swt berikan kepada diri sendiri.


 

Naskah khutbah Jumat berikut ini dengan judul, “Khutbah Jumat: Menjaga Hati dari Iri kepada Nikmat Orang Lain”. Untuk mencetak naskah khutbah Jumat ini, silakan klik ikon print berwarna merah di atas atau bawah artikel ini (pada tampilan desktop). Semoga bermanfaat!


 

Khutbah I

 


اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي أَنْزَلَ عَلىَ عَبْدِهِ الْكِتَابَ تَبْصِرَةً لِأُوْلِي الْأَلْبَابِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ رَبُّ الْأَرْبَابِ، الَّذِي خَضَعَتْ لِعَظَمَتِهِ الرِّقَابُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمَبْعُوْثُ إِلىَ خَيْرِ أُمَّةٍ بِأَفْضَلِ كِتَابٍ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْأَنْجَابِ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الْأَحْبَابُ، إِنِّي أُوْصِيكُمْ بِتَقْوَى اللهِ الْوَهَّابِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ: وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَى مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَى

 

Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah


Marilah kita awali khutbah Jumat ini dengan memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah Swt. atas segala nikmat dan karunia-Nya. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad saw., beserta keluarga, sahabat, dan seluruh pengikutnya.

 

Selanjutnya, marilah kita tingkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah Swt. dengan menjaga hati dari iri, lisan dari perkataan yang menyakiti, serta perilaku dari segala hal yang merugikan orang lain, sehingga kita menjadi pribadi yang senantiasa membawa kebaikan dan manfaat bagi sesama.

 

Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah

 

Di antara penyakit hati yang paling sulit dikenali adalah iri terhadap nikmat yang Allah Swt. anugerahkan kepada orang lain. Penyakit ini tidak datang dengan suara keras. Ia menyelinap pelan ke dalam hati, lalu menggerogoti rasa syukur sedikit demi sedikit.


Sering kali, iri lahir dari pemandangan yang tampak biasa. Kita melihat tetangga membeli mobil baru. Saudara memperoleh promosi jabatan. Teman berhasil membangun rumah yang lebih megah. Semua itu sebenarnya hanyalah potongan-potongan kehidupan. Namun, ketika hati tidak dijaga, pemandangan yang biasa berubah menjadi sumber kegelisahan.


Tanpa disadari, kita mulai membandingkan diri dengan mereka. Hati menjadi sempit. Bahkan, pada tingkat yang paling berbahaya, muncul harapan agar nikmat yang mereka miliki segera lenyap. Di sinilah iri tidak lagi sekadar perasaan, tetapi telah berubah menjadi penyakit yang merusak kebersihan hati.


Lantas, bagaimana Al-Qur'an membimbing kita menghadapi keadaan seperti ini?


وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَى مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَى

 

Artinya, “Janganlah sekali-kali engkau tunjukan pandangan matamu pada kenikmatan yang telah Kami anugerahkan kepada beberapa golongan dari mereka (sebagai) bunga kehidupan dunia agar Kami uji mereka dengan (kesenangan) itu. Karunia Tuhanmu lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Thaha, [20]: 131).


Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah


Perlu kita ketahui bersama, bahwa larangan dalam frasa “wa lâ tamuddanna ‘ainaika"  (janganlah engkau tunjukan pandanganmu) bukan berarti kita tidak boleh sama sekali melihat nikmat orang lain, karena memandang sesuatu secara biasa adalah sesuatu yang tidak dilarang dalam Islam.


Tetapi yang dilarang dalam ayat di atas adalah memanjangkan pandangan pada nikmat yang dimiliki orang lain, disertai dengan keinginan hati yang kuat dan kecenderungan jiwa terhadap apa yang dimiliki mereka. Hal ini dilarang karena dapat menimbulkan rasa iri dan dengki pada karunia yang Allah berikan kepada mereka.

 

Dengan kata lain, melihat nikmat dan anugerah yang orang lain miliki boleh-boleh saja selama tidak diiringi dengan hasrat memiliki hingga rasa tidak rela, tetapi apabila pandangan itu justru membuat hati gelisah hingga, maka di situlah letak larangannya. 

 

Penjelasan ini sebagaimana disampaikan oleh Syekh Syihabuddin Mahmud al-Alusi, dalam kitab Ruhul Ma’ani fi Tafsiril Qur’anil Azim was Sab’il Matsani, jilid XII, halaman 306:

 

وَلاَ تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ، أَيْ لَا تُطِلْ نَظْرَهُمَا بِطَرِيْقِ الرُّغْبَةِ وَالْمَيْلِ. إِلَى مَا مَتَّعْنَا بِهِ، مِنْ زَخَارِفِ الدُّنْيَا كَالْبَنِيْنَ وَالْأَمْوَالِ وَالْمَنَازِلِ وَالْمَلَابِسِ وَالْمَطَاعِمِ

 

Artinya, “Janganlah sekali-kali engkau tunjukan pandangan matamu, maksudnya janganlah engkau terlalu lama memandang dengan penuh keinginan dan ketertarikan, pada kenikmatan yang telah Kami anugerahkan, berupa berbagai perhiasan dunia, seperti anak-anak, harta, rumah, pakaian, dan aneka makanan.”


Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah

​​​​​​​

Jika demikian adanya, lalu bagaimana cara menjaga hati agar tidak mudah terjangkit iri ketika melihat berbagai kenikmatan yang Allah berikan kepada orang lain?


Lantas, bagaimana caranya agar kita bisa menjaga hati kita dari sifat iri disebabkan nikmat yang dimiliki orang lain? Jawabannya adalah dengan mengatur cara pandang kita. Rasulullah dalam salah satu riwayat mengajarkan kepada kita semua, bahwa dalam hal dunia, hendaklah kita melihat orang yang kondisinya di bawah kita. Karena dengannya, hati kita akan mudah bersyukur kepada Allah.


 

Dalam sebuah riwayat yang berasal dari sahabat Abu Hurairah, Rasulullah saw bersabda:

 


انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَإِنَّهُ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ

 

Artinya, “Pandanglah orang lebih rendah dari kalian, dan janganlah kalian memandang orang yang berada di atas kalian. Hal itu lebih pantas, agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah.” (HR. Ahmad).

 

Dalam riwayat yang lain, Rasulullah saw bersabda:

 


إِذَا نَظَرَ أَحَدُكُمْ إِلَى مَنْ فُضِّلَ عَلَيْهِ فِي الْمَالِ وَالْخَلْقِ فَلْيَنْظُرْ إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْهُ


 

Artinya, “Apabila salah seorang di antara kalian melihat seseorang yang dilebihkan darinya dalam hal harta dan penampilan, maka hendaklah ia melihat kepada orang yang lebih rendah darinya.” (HR. Bukhari & Muslim).

 


Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah

 

Hadis ini mengajarkan satu pelajaran yang sangat penting. Yang sering membuat hati kita gelisah bukan karena nikmat Allah sedikit, melainkan karena mata kita terlalu sibuk menghitung nikmat orang lain. Kita lebih mudah melihat apa yang belum kita miliki daripada mensyukuri karunia yang selama ini telah Allah titipkan kepada kita.

 

Padahal, syukur dan iri berawal dari tempat yang sama, yaitu cara kita memandang kehidupan. Orang yang setiap hari hanya melihat ke atas akan merasa dirinya selalu kurang. Berapa pun hartanya, ia tetap merasa miskin. Setinggi apa pun jabatannya, ia masih merasa tertinggal. Sebaliknya, orang yang sesekali melihat ke bawah akan menyadari betapa banyak nikmat Allah yang selama ini luput dari rasa syukurnya.

 


Karena itu, Rasulullah saw. tidak memerintahkan kita untuk berhenti berusaha menjadi lebih baik. Beliau hanya mengajarkan agar ukuran syukur jangan diambil dari orang yang lebih tinggi, tetapi dari mereka yang hidup dalam keterbatasan. Dengan cara itulah hati tetap tenang meskipun dunia terus berubah.

 

Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah


 

Nasihat Rasulullah saw. itu terasa semakin relevan pada zaman sekarang. Jika dahulu seseorang hanya melihat kemewahan ketika berkunjung ke rumah tetangga atau menghadiri sebuah acara, hari ini semuanya hadir di dalam genggaman tangan.

 

Cukup membuka media sosial, dalam hitungan menit kita dapat melihat rumah-rumah mewah, kendaraan mahal, liburan ke luar negeri, jabatan baru, hingga berbagai pencapaian yang tampak begitu sempurna.

 

Masalahnya, media sosial hanya memperlihatkan bagian terbaik dari kehidupan seseorang. Kita melihat senyumnya, tetapi tidak melihat air matanya. Kita melihat keberhasilannya, tetapi tidak mengetahui perjuangan dan ujian yang harus ia lalui. Namun, jika hati tidak dijaga, potongan-potongan kehidupan itu sudah cukup untuk menumbuhkan iri di dalam dada.

 

Bayangkan ketika kita melihat seorang teman mengunggah foto mobil barunya. Hati yang tidak dijaga akan segera berbisik, "Mengapa aku belum mampu seperti dia?" Dari satu bisikan itu lahirlah kegelisahan. Lalu muncul rasa tidak puas terhadap rezeki yang Allah berikan. Bahkan, tidak sedikit yang akhirnya memaksakan diri berutang hanya agar terlihat setara dengan orang lain.

 

Padahal, Rasulullah saw. mengajarkan arah pandangan yang berbeda. Ketika melihat orang yang lebih berada, ingatlah saudara-saudara kita yang setiap hari masih berangkat bekerja dengan sepeda tua, menunggu angkutan umum, atau bahkan berjalan kaki demi menghidupi keluarganya. Saat itulah hati akan berkata, "Ya Allah, ternyata nikmat-Mu kepadaku begitu banyak."


Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah


 

Begitu pula ketika melihat teman memperoleh jabatan yang lebih tinggi. Jangan biarkan hati dipenuhi iri. Ingatlah masih banyak saudara kita yang hingga hari ini terus berjuang mencari pekerjaan. Ada yang mengirim puluhan lamaran, tetapi belum juga mendapat panggilan. 

 

Ada yang bekerja serabutan demi memenuhi kebutuhan keluarganya. Kesadaran seperti ini bukan untuk merendahkan penderitaan orang lain, melainkan untuk membangunkan rasa syukur yang sering tertidur dalam diri kita.

 

Demikian pula ketika melihat seseorang dianugerahi wajah yang rupawan, tubuh yang sehat, dan kehidupan yang tampak sempurna. Jangan terburu-buru membandingkan diri. Ingatlah, di luar sana ada saudara-saudara kita yang setiap hari berjuang melawan penyakit, hidup dengan keterbatasan fisik, bahkan menghabiskan hari-harinya di atas tempat tidur. Bukankah kesehatan yang kita rasakan hari ini adalah nikmat yang tidak dapat dibeli dengan harta sebanyak apa pun?


Sesungguhnya, iri tidak pernah membuat seseorang bertambah kaya. Dengki juga tidak akan mengurangi nikmat yang Allah berikan kepada orang lain. Yang terjadi justru sebaliknya. Orang yang iri kehilangan ketenangan, sedangkan orang yang didengki tetap menikmati rezeki yang telah Allah tetapkan untuknya. Karena itu, iri adalah penyakit yang pertama kali menyakiti pemiliknya sendiri sebelum menyakiti orang lain.


Maka, jika suatu hari kita melihat orang lain memperoleh kenikmatan yang belum Allah berikan kepada kita, jangan buru-buru mengeluh. Bisa jadi Allah sedang mengajari kita untuk bersabar. Bisa jadi Allah sedang menyiapkan rezeki yang lebih baik pada waktu yang tepat. Sebab, Allah tidak pernah keliru dalam membagi karunia-Nya. Yang berbeda hanyalah waktu, bentuk, dan kadar nikmat yang diberikan kepada setiap hamba.

 

Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah

 

Islam tidak pernah melarang kita memiliki cita-cita yang tinggi. Islam juga tidak melarang kita bekerja keras untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik. Akan tetapi, jangan sampai keberhasilan orang lain membuat kita kehilangan ketenangan hati. Jangan sampai nikmat yang Allah berikan kepada saudara kita justru menjadi sebab hilangnya rasa syukur dalam diri kita.


Karena itu, marilah kita menjaga pandangan sebelum iri masuk ke dalam hati. Jagalah hati sebelum ia dipenuhi rasa tidak rela terhadap ketentuan Allah. Dan perbanyaklah bersyukur, sebab hati yang dipenuhi syukur akan selalu merasa cukup, sedangkan hati yang dikuasai iri tidak akan pernah merasa puas, meskipun seluruh dunia berada dalam genggamannya.

 

Semoga Allah Swt. membersihkan hati kita dari penyakit iri dan dengki, melapangkan dada kita dengan rasa syukur, serta menjadikan kita hamba-hamba yang ridha atas setiap ketentuan-Nya. Amin ya Rabbal 'alamin.

 

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ، وَنَفَعَنِيْ وَاِيَاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ جَمِيْعَ أَعْمَالِنَا إِنَّهُ هُوَ الْحَكِيْمُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

Khutbah II

 

اَلْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَااِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، اِلَهٌ لَمْ يَزَلْ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيْلًا. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَحَبِيْبُهُ وَخَلِيْلُهُ، أَكْرَمُ الْأَوَّلِيْنَ وَالْأَخِرِيْنَ، اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ كَانَ لَهُمْ مِنَ التَّابِعِيْنَ، صَلَاةً دَائِمَةً بِدَوَامِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِيْنَ


أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَذَرُوْا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. وَحَافِظُوْا عَلَى الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ وَالصَّوْمِ وَجَمِيْعِ الْمَأْمُوْرَاتِ وَالْوَاجِبَاتِ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ بِنَفْسِهِ. وَثَنَّى بِمَلَائِكَةِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. إِنَّ اللهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً


اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِيْ العَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وِالْأَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَةً، اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

 


عِبَادَ اللهِ، اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِيْ الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرُكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

 

---------
Sunnatullah, pengajar di Pondok Pesantren Al-Hikmah Darussalam, Kokop Bangkalan Jawa Timur.