Kenapa Doa itu Sangat Penting?
Doa yang tidak langsung dikabulkan oleh Allah, terdapat banyak kemungkinan.
Kumpulan artikel kategori Keislaman
Doa yang tidak langsung dikabulkan oleh Allah, terdapat banyak kemungkinan.
“Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.”
Benih-benih kekufuran dan kemusyrikan sesekali menyembul tiba-tiba di benak orang yang beriman. Bisikan yang sekejap melintas dan terbersit begitu saja. Tiba-tiba saja terbayang dalam benak kita sesuatu yang tidak layak atau terlarang dalam akidah keimanan kita. Benih-benih pikiran yang terbersit di dalam hati ini muncul begitu saja di luar kuasa manusia
Jika Nabi melakukan Isra’ Mi’raj dengan ruh dan jasadnya sebagai mukjizat, sebuah keharusan bagi tiap Muslim menghadap (mi’raj) kepada Allah subhanahu wata’ala lima kali sehari dengan jiwa dan hati yang khusyu’.
Ghibah dan buruk sangka bisa diucapkan secara lisan, tetapi bisa juga disimpan di dalam hati. Kita bisa saja menggunjing orang lain di dalam hati. Kita bercakap-cakap dengan diri kita perihal kekurangan orang lain. Ghibah dan buruk sangka ini jelas dilarang seperti tertera dalam keterangan Imam An-Nawawi dalam Kitab Al-Adzkar.
Muallaf atau Muslim pemula sering diartikan orang yang baru memeluk agama Islam. Ia sebagaimana pemeluk teguh Islam lainnya perlu memohon bimbingan Allah selalu. Ia dapat mengamalkan doa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW untuk Muslim pemula di zamannya.
Sedekat apa pun seorang Muslim dengan tuhannya tidak semestinya ia lebih suka berasyik masyuk dalam sejumlah ritual ibadah lalu lupa berbaik-baik dengan masyarakat di sekitarnya. Kedekatannya dengan Allah semestinya juga menjadikannya dekat dan baik terhadap sesama makhluk-Nya.
Di antara masalah hukum yang sering menjadi polemik di masyarakat adalah hukum membaca Surat al-Fatihah dalam shalat. Ada dua pertanyaan yang sering muncul terkait hal itu: Pertama, bagaimanakah hukum membaca Surat al-Fatihah dalam shalat? Dan kedua, apakah makmum wajib membaca Surat al-Fatihah ataukah tidak wajib, karena bacaan makmum ditanggung oleh imamnya?
Di zaman ini, mungkinkah kita masih bisa berkomunikasi dengan Tuhan? Bukankah Nabi terakhir telah lama wafat, dan kitab suci terakhir telah diturunkan lima belas abad yang lampau serta Tuhan telah menyatakan sempurnanya agama kita. Masihkah terjadi dialog antara hamba dengan Tuhan?
Biasanya para orientalis dan para pembenci Islam mengedarkan berita tentang kebengisan dan kekejaman Rasulullah. Tujuannya satu: mereka hendak membantah bahwa Rasulullah itu welas asih dan rahmat bagi semesta alam. Sayangnya, di kalangan Muslim sendiri juga banyak yang senang dengan berbagai kisah “seram” dan “kejam” yang sebenarnya dapat mencederai keluhuran budi dan nama baik Rasulullah. Kita harus membaca kisah semacam itu dengan kritis.
Dalam beribadah Allah ternyata tidak selalu memberikan hukum yang berlaku permanen. Allah memberikan keringanan-keringanan kepada orang tertentu dalam kondisi tertentu. Hal ini mengingat keadaan yang dihadapi oleh seorang hamba tidak selalu berjalan mulus. Terkadang ada beberapa kesusahan yang menjadikan ia terhalang untuk melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu.
Prof Quraish Shihab dalam Tafsir al-Mishbah menafsirkan ayat ini dengan bahasa lain: Jangan kalian membuat kerusakan di muka bumi yang telah dibuat baik dengan menebar kemaksiatan, kezaliman dan permusuhan. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut akan siksa-Nya dan berharap pahala-Nya. Kasih sayang Allah sangat dekat kepada setiap orang yang berbuat baik, dan pasti terlaksana.