Kesehatan

Banyak Anak Muda Cuci Darah, Dokter Jelaskan Pemicu dan Cara Menjaga Kesehatan Ginjal

NU Online  ·  Kamis, 16 April 2026 | 17:30 WIB

Banyak Anak Muda Cuci Darah, Dokter Jelaskan Pemicu dan Cara Menjaga Kesehatan Ginjal

Ilustrasi ginjal. (Foto; freepik)

Jakarta, NU Online

Kasus gagal ginjal yang berujung pada tindakan cuci darah kini semakin meningkat, termasuk di kalangan usia muda. Fenomena ini menjadi perhatian serius karena sebelumnya penyakit ini lebih banyak dialami oleh kelompok usia lanjut.


"Saya sendiri makin sering ketemu pasien usia 34 tahunan. Bahkan lebih muda sudah masuk gagal ginjal," ujar dr Decsa Medika Hertanto, dokter spesialis penyakit dalam subspesialis ginjal dan hipertensi dari RSUD Dr Soetomo, Surabaya, Jawa Timur, dalam postingan Instagram yang dikutip NU Online pada Kamis (16/4/2026).


Ia menjelaskan, terdapat tiga penyebab utama gagal ginjal. Pertama, hipertensi atau tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol. Kedua, kadar gula darah yang tinggi pada penderita diabetes. Ketiga, gaya hidup tidak sehat, seperti konsumsi makanan tinggi garam dan gula, kurang aktivitas fisik, serta kurang tidur.


"Masalahnya di awal penyakit ginjal ini hampir tidak ada gejala. Paling cuma gampang capek, bengkak di kaki, kencing berbusa atau tekanan darah naik yang sering diabaikan," terangnya.


"Padahal kalau sudah terlambat pasien harus hemodialisis atau cuci darah 2-3 kali per minggu. Masing-masing sekitar 4-5 jam per sesi," tambahnya.


Tips menjaga kesehatan ginjal

Dokter alumni Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair) Surabaya ini membagikan sejumlah langkah sederhana untuk menjaga kesehatan ginjal. Upaya tersebut antara lain dengan mengontrol tekanan darah dan gula darah, mencukupi kebutuhan cairan, menjaga pola makan, serta melakukan skrining secara rutin.


"Sekarang (skrining) bahkan bisa lewat aplikasi Mobile JKN. Dan yang tersering jangan lupa olahraga rutin," jelasnya.


Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa biaya cuci darah tanpa jaminan kesehatan berkisar antara Rp800 ribu hingga Rp2 juta per sesi, bahkan bisa lebih. Menurutnya, biaya tersebut tetap terasa berat, bahkan bagi kalangan mampu.


"Dan yang paling mahal bukan cuma uang, tapi waktu bersama keluarga hilang. Jadi pastikan BPJS kamu aktif," ungkapnya.


"Tapi lebih penting lagi jaga ginjalmu mulai sekarang. Mencegah selalu lebih baik dari menyesal kemudian," lanjutnya.


Menurut dr Decsa, pada 2025 anggaran negara yang dikeluarkan oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) untuk pengobatan gagal ginjal mencapai Rp13,3 triliun.


"Dan yang bikin miris, pasiennya sekarang makin banyak yang usia muda," terangnya.