Khutbah

Khutbah Jumat: Menata Niat dalam Bekerja agar Bernilai Ibadah di Sisi Allah

NU Online  ·  Rabu, 15 April 2026 | 15:23 WIB

Khutbah Jumat: Menata Niat dalam Bekerja agar Bernilai Ibadah di Sisi Allah

khutbah Jumat (Freepik)

Bekerja pada dasarnya adalah fitrah manusia. Setiap orang memiliki kebutuhan hidup yang harus dipenuhi, dan pekerjaan menjadi sarana utama untuk mencapainya. Namun dalam Islam, bekerja tidak hanya dilihat dari sisi duniawi semata.


Teks khutbah Jumat berikut ini berjudul: “Menata Niat dalam Bekerja Agar Bernilai Ibadah di Sisi Allah”. Untuk mencetak naskah khutbah Jumat ini, silakan klik ikon print berwarna merah di atas atau bawah artikel ini (pada tampilan desktop). Semoga bermanfaat!


Khutbah I


الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ لِكُلِّ أُمَّةٍ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا وَخَصَّ هَذِهِ الْأُمَّةَ بِأَوْضَحِهِمَا أَحْكَامًا وَحِجَاجًا ، وَهَدَاهُمْ إلَى مَا آثَرَهُمْ بِهِ عَلَى مَنْ سِوَاهُمْ مِنْ تَمْهِيدِ الْأُصُولِ وَالْفُرُوعِ وَتَحْرِيرِ الْمُتُونِ وَالشُّرُوحِ لِتُسْتَنْتَجَ مِنْهَا الْعَوِيصَاتُ اسْتِنْتَاجًا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الَّذِي مَيَّزَهُ اللَّهُ عَلَى خَوَاصِّ رُسُلِهِ مُعْجَزَةً وَخَصَائِصَ وَمِعْرَاجًا. صَلَّى اللَّهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِينَ فَطَمُوا أَعْدَاءَ الدِّينِ الْقَوِيمِ عَنْ أَنْ يُلْحِقُوا بِشَيْءٍ مِنْ مَقَاصِدِهِ أَوْ مُبَادِيهِ شُبْهَةً أَوْ اعْوِجَاجًا.صَلَاةً وَسَلَامًا دَائِمَيْنِ بِدَوَامِ جُودِهِ الَّذِي لَا يَزَالُ هَطَّالًا ثَجَّاجًا


أَمَّا بَعْدُ، فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَى. قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى: بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلَّا الَّذِيْنَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ. 


Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah

 

Dalam kesempatan yang penuh berkah ini, khatib berwasiat kepada hadirin sekalian terutama untuk diri khatib pribadi, untuk senantiasa menjaga dan meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala. Sebab, takwa adalah kunci kebaikan di dunia maupun di akhirat. 

 

Syekh Abi Bakr Syatta dalam kitab Kifayatul Atqiya halaman 21 mengatakan:

 

‎لَا يَنَالُ خَيْرًا عَاجِلًا وَلَا آجِلًا إِلَّا بِالتَّقْوَى وَلَا يُدْفَعُ شَرٌّ عَاجِلًا وَلَا آجِلًا ظَاهِرًا وَلَا بَاطِنًا إِلَّا بِالتَّقْوَى وَهِيَ وَصِيَّةُ اللَّهِ لِلأَوَّلِينَ وَالأَخِرِينَ 

 

Artinya: "Tidaklah seseorang memperoleh kebaikan yang segera maupun yang akan datang kecuali dengan takwa. Dan tidaklah seseorang dapat menolak kejahatan yang segera maupun yang akan datang, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, kecuali dengan takwa. Dan takwa adalah wasiat Allah bagi orang-orang terdahulu dan orang-orang yang akan datang."

 

Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah

 

Setiap pagi kita melangkah keluar rumah dengan tujuan yang sama yaitu bekerja. Ada yang mengejar gaji, ada yang mengejar laba, ada yang mengejar mimpi, ada pula yang sekadar menggugurkan kewajiban. Tapi pernahkah kita berhenti sejenak, lalu bertanya pada hati, untuk siapa sebenarnya lelah ini kutunaikan?

 

Sejak Nabi Adam turun ke bumi, wahyu pertamanya bukan hanya tentang ibadah, tapi juga tentang bercocok tanam dan mencari penghidupan. Para Nabi pun bekerja. Para sahabat berdagang. Bahkan semut dan lebah yang kecil pun tahu bahwa diam berarti mati.

 

Bekerja adalah fitrah. Kebutuhan bekerja tertanam dalam diri kita seperti rasa lapar dan haus. Saat kita malas tanpa alasan, hati jadi gelisah. Saat kita produktif, jiwa terasa lapang. Sebab tubuh dan akal kita memang dirancang untuk bergerak, berkarya, dan memberi manfaat.

 

Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah

 

Perintah untuk bekerja dan mencari rezeki juga termaktub dalam firman Allah SWT dalam QS. Al-‘Ankabut ayat 17. Allah SWT berfirman:


فَٱبْتَغُوا۟ عِندَ ٱللَّهِ ٱلرِّزْقَ وَٱعْبُدُوهُ وَٱشْكُرُوا۟ لَهُۥٓ ۖ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ  
 
 

Artinya:  Maka, mintalah rezeki dari sisi Allah, sembahlah Dia, dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nya kamu akan dikembalikan

 
Mengomentarai ayat ini, Imam Qusyairi, dalam kitab Tafsir Lathaif Al-Isyarat, jilid 3 halaman 92, menjelaskan bahwa dalam ayat tersebut perintah mencari rezeki didahulukan sebelum perintah beribadah. Hal ini bukan berarti rezeki lebih penting dari ibadah, tetapi menunjukkan bahwa kebutuhan dasar manusia perlu dipenuhi terlebih dahulu agar ibadah bisa dijalankan dengan baik.

 

Seseorang tidak akan bisa beribadah dengan tenang jika kebutuhan hidupnya belum tercukupi. Karena itu, dengan adanya rezeki, seseorang memperoleh kekuatan untuk menjalankan ibadah. Dengan kata lain, rezeki menjadi penopang agar tubuh dan pikiran siap dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah.

 

Simak penjelasan lengkapnya;

 

وَفِي الْآيَةِ تَقْدِيمٌ لِابْتِغَاءِ الرِّزْقِ عَلَى الْأَمْرِ بِالْعِبَادَةِ لِأَنَّهُ لَا يُمْكِنُهُ الْقِيَامُ بِالْعِبَادَةِ إِلَّا بَعْدَ كِفَايَةِ الْأَمْرِ فَبِالْقُوَّةِ يُمْكِنُهُ أَدَاءُ الْعِبَادَةِ، وَبِالرِّزْقِ يَجِدُ الْقُوَّةَ.

 

Artinya: “Dan dalam ayat tersebut didahulukan perintah mencari rezeki atas perintah beribadah, karena seseorang tidak mungkin dapat melaksanakan ibadah kecuali setelah kebutuhannya tercukupi. Maka dengan kekuatan ia mampu menunaikan ibadah, dan dengan rezeki ia mendapatkan kekuatan.”

 

Maka tidak mengherankan jika Rasulullah  menegaskan pentingnya mencari rezeki yang halal dalam kehidupan seorang muslim. Nabi Muhammad bersabda:
 

طَلَبُ الْحَلَالِ فَرِيضَةٌ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ

 

Artinya: “Mencari rezeki yang halal adalah kewajiban setelah kewajiban.” (HR. At-Thabarani)

 

Hadis ini menunjukkan bahwa bekerja dan mencari nafkah yang halal bukan sekadar urusan dunia, tetapi juga memiliki nilai ibadah. Setelah kewajiban utama seperti shalat dan ibadah lainnya, seorang muslim tetap dituntut untuk berusaha mencari rezeki dengan cara yang baik dan halal.


Dalam hadits lain, Rasulullah SAW bersabda: 

 

‎مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ وَإِنَّ نَبِيَّ اللَّهِ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَام كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ

 

Artinya, “Tidaklah seorang (hamba) memakan makanan yang lebih baik dari hasil usaha tangannya (sendiri), dan sungguh Nabi Dawud As makan dari hasil usaha tangannya (sendiri)” (H.R. Bukhari). 

 

Melihat beberapa dalil tersebut, dapat kita simpulkan bahwa bekerja memiliki kedudukan istimewa dalam Islam yang tidak bertentangan sama sekali dengan nilai-nilai keislaman. Justru mencari rezeki halal adalah jalan kita agar tubuh menjadi kuat, sehingga ibadah dapat dilaksanakan dengan baik dan khusyuk.

 

Hadirin jamaah jumat rahimakumullah

 

Untuk itu, seyogianya dipahami bahwa bekerja seharusnya dipahami sebagai ibadah jika diniatkan karena Allah. Ia juga merupakan amanah, karena kehidupan ini adalah titipan yang harus dijaga dengan usaha yang sungguh-sungguh.

 

Selain itu, bekerja menjaga kehormatan diri, agar kita bisa hidup dari hasil usaha sendiri, bukan dari bergantung pada orang lain. Dan yang terpenting, bekerja adalah bentuk syukur atas nikmat Allah berupa tubuh, akal, dan kesempatan untuk berusaha.

 


Mari kita jadikan setiap langkah dalam bekerja sebagai ibadah dengan meluruskan niat karena Allah. Niat untuk menjalankan perintah Allah, meneladani para Rasul, serta mensyukuri segala karunia Allah Ta’ala. Dengan niat yang benar, setiap usaha yang kita lakukan akan bernilai ibadah di sisi-Nya.

 


أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

Khutbah II

 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِي إِلَى رِضْوَانِهِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ اِتَّقُوا اللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوا عَمَّا نَهَى.

ثُمَّ اعْلَمُوْا أَنَّ اللّٰهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ، فَقَالَ تَعَالَى: إِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِي، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اَللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اَللّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيْنَ، وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَللّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلَازِلَ وَالْمِحَنَ وَسُوْءَ الْفِتْنَةِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُونِيْسِيَّا خَاصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ


اَللّهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا الْإِيْمَانَ وَزَيِّنْهُ فِي قُلُوْبِنَا، وَكَرِّهْ إِلَيْنَا الْكُفْرَ وَالْفُسُوْقَ وَالْعِصْيَانَ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الرَّاشِدِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ


-------------
Abdul Karim Malik, alumni Al-Falah Ploso Kediri, pengurus LBM PCNU Kabupaten Bekasi, dan pengajar di Pondok Pesantren YAPINK Tambun-Bekasi.