Dokter Ingatkan Risiko Dehidrasi dan Heatstroke Akibat Cuaca Panas Ekstrem
NU Online · Kamis, 25 Juni 2026 | 16:30 WIB
Ayu Lestari
Kontributor
Jakarta, NU Online
Cuaca ekstrem yang terjadi sepanjang Juni menyebabkan suhu udara cenderung lebih tinggi dengan durasi paparan sinar matahari yang lebih lama. Kondisi tersebut membuat tubuh mengeluarkan lebih banyak keringat untuk menjaga suhu tetap normal. Namun, apabila cairan yang hilang tidak segera digantikan melalui konsumsi air yang cukup, seseorang berisiko mengalami dehidrasi.
Pada kondisi panas yang ekstrem, mekanisme tubuh untuk mendinginkan diri juga dapat mengalami kegagalan. Akibatnya, suhu tubuh meningkat secara berlebihan dan memicu terjadinya heatstroke atau serangan panas.
Dokter Spesialis Penyakit Dalam (internis) RSUD Soetrasno Rembang, dr. Aldi Setyo Avianto, menjelaskan bahwa heatstroke merupakan kondisi kegawatdaruratan yang dapat mengancam nyawa.
"Heatstroke adalah kondisi kegawatdaruratan akibat panas, ketika suhu tubuh meningkat sangat tinggi, umumnya di atas 40 derajat Celsius, disertai gangguan fungsi otak seperti kebingungan, mengigau, kejang, atau penurunan kesadaran. Sementara dehidrasi adalah kondisi ketika tubuh kehilangan cairan, baik melalui keringat, urine, maupun feses, lebih banyak daripada yang masuk sehingga keseimbangan cairan tubuh terganggu," ungkap Aldi kepada NU Online, Kamis (25/6/2026).
Menurut Aldi, heatstroke bukan sekadar kepanasan biasa, melainkan kondisi serius yang harus segera ditangani. Suhu tubuh yang terlalu tinggi dapat merusak berbagai organ vital, seperti otak, jantung, ginjal, paru-paru, dan hati.
"Pada kasus yang berat, heatstroke dapat menyebabkan koma, gagal organ multipel, bahkan kematian. Oleh karena itu, semakin cepat penanganan diberikan, semakin besar peluang pasien untuk pulih tanpa komplikasi," tambahnya.
Ia menjelaskan, gejala awal dehidrasi yang perlu diwaspadai antara lain rasa haus berlebihan, mulut dan bibir kering, tubuh lemas, pusing atau sakit kepala, mudah mengantuk, produksi urine berkurang dan berwarna kuning pekat, serta menurunnya konsentrasi.
Menurutnya, gejala-gejala tersebut merupakan alarm alami dari tubuh yang sering kali dianggap sepele, padahal menjadi tanda awal kekurangan cairan.
Aldi juga menjelaskan perbedaan tingkat dehidrasi berdasarkan gejala yang muncul. Pada dehidrasi ringan, seseorang biasanya mengalami rasa haus, mulut kering, dan tubuh lemas, tetapi masih dapat beraktivitas normal. Sementara pada dehidrasi sedang, rasa haus menjadi lebih berat, disertai pusing saat berdiri, jantung berdebar lebih cepat, urine sangat sedikit dan pekat, serta tubuh terasa semakin lemah.
"Pada dehidrasi berat, pasien cenderung mengalami penurunan kesadaran, sulit berbicara atau bingung, tekanan darah menurun (hipotensi), denyut nadi sangat cepat, tidak buang air kecil dalam waktu lama, dan bisa mengalami syok," tegasnya.
Selain dehidrasi, masyarakat juga perlu mengenali tanda-tanda heatstroke. Gejalanya antara lain suhu tubuh sangat tinggi, kulit terasa sangat panas, pusing berat, sakit kepala hebat, mual dan muntah, jantung berdebar cepat, kebingungan atau bicara tidak jelas, kejang, hingga pingsan atau tidak sadar.
Aldi menegaskan, apabila seseorang yang berada di lingkungan panas mengalami gangguan kesadaran, maka heatstroke harus segera dicurigai.
Ia mengingatkan masyarakat untuk segera mencari pertolongan medis apabila mengalami kondisi seperti tidak mampu minum atau muntah terus-menerus, sangat lemas hingga sulit berdiri, tidak buang air kecil selama berjam-jam, mengalami kebingungan atau mengantuk berlebihan, pingsan, kejang, suhu tubuh sangat tinggi, sesak napas, atau nyeri dada.
"Untuk heatstroke, prinsipnya adalah jangan menunggu karena setiap menit sangat berharga untuk mencegah kerusakan organ," jelas Aldi.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa dehidrasi berat dapat menyebabkan aliran darah ke berbagai organ tubuh berkurang. Akibatnya, dapat terjadi gangguan fungsi ginjal hingga gagal ginjal akut, gangguan keseimbangan elektrolit, penurunan tekanan darah, gangguan irama jantung, penurunan kesadaran, syok, hingga kematian pada kasus yang sangat berat.
Kelompok yang paling rentan mengalami dehidrasi dan heatstroke meliputi lansia, bayi, anak-anak, ibu hamil, serta pekerja yang banyak beraktivitas di luar ruangan.
Menurut Aldi, kesadaran masyarakat terkait pentingnya menjaga kecukupan cairan tubuh sebenarnya mulai meningkat. Namun demikian, edukasi masih perlu terus diperkuat.
"Banyak orang baru minum ketika sudah merasa sangat haus, padahal rasa haus sebenarnya merupakan tanda bahwa tubuh sudah mulai kekurangan cairan," ujarnya.
Ia menambahkan, sebagian masyarakat masih menganggap pusing, lemas, atau hampir pingsan saat cuaca panas sebagai hal yang biasa. Padahal, kondisi tersebut dapat menjadi tanda awal dehidrasi atau gangguan akibat panas yang memerlukan perhatian serius.
Karena itu, edukasi mengenai pentingnya hidrasi dan bahaya heatstroke perlu terus dilakukan, terutama selama musim kemarau.
Aldi mengimbau masyarakat untuk lebih memperhatikan kebutuhan cairan tubuh dan menghindari paparan panas berlebihan. Beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan antara lain minum air putih secara teratur tanpa menunggu haus, membawa botol minum saat beraktivitas, mengurangi aktivitas berat di luar ruangan pada pukul 10.00-15.00 WIB, menggunakan topi, payung, atau pakaian yang nyaman dan menyerap keringat, serta beristirahat di tempat teduh apabila mulai merasa pusing atau lemas.
Selain itu, perhatian khusus juga perlu diberikan kepada bayi, anak-anak, lansia, dan pekerja lapangan yang lebih rentan terdampak cuaca panas.
"Pesan utama saya adalah jangan anggap remeh cuaca panas. Dehidrasi dan heatstroke dapat dicegah dengan langkah sederhana, tetapi jika terlambat ditangani dapat berakibat sangat serius bahkan mengancam nyawa," tutupnya.
Terpopuler
1
Muktamar ke-35 NU Digelar 1-5 Agustus 2026, Penentuan Tuan Rumah Gunakan Empat Kriteria
2
KH Nurul Huda Djazuli: Saya Cinta NU, Saya Tak Ingin Melihat Pengurus Bertengkar, NU dan Pesantren Harus Menguatkan
3
Ketum PBNU: Barokah Kiai Sepuh, Munas dan Konbes NU di Ploso Berjalan Sukses
4
Presiden Prabowo dan 1.500 Undangan Hadiri Penutupan Munas-Konbes NU 2026 di Bangkalan
5
Rais Aam PBNU Apresiasi Hasil Pembahasan Munas-Konbes NU 2026
6
Berikut 5 Rekomendasi Munas-Konbes NU 2026 Terkait Pendidikan
Terkini
Lihat Semua