Khutbah

Khutbah Jumat: Mari Tingkatkan Kualitas dari Ibadah Personal Menuju Kepedulian Sosial

NU Online  ·  Jumat, 19 Juni 2026 | 06:30 WIB

Khutbah Jumat: Mari Tingkatkan Kualitas dari Ibadah Personal Menuju Kepedulian Sosial

Ilustrasi bersedekah. Sumber: Canva.

Sering kali kita merasa cukup dengan berbagai ibadah dan kebaikan yang telah kita lakukan. Kita merasa telah menjadi pribadi yang saleh secara personal. Namun, kesalehan personal belum tentu menjadikan seseorang saleh secara sosial. Padahal Islam menuntut adanya keseimbangan antara keduanya: kesalehan kepada Allah dan kesalehan kepada sesama manusia.


Teks khutbah Jumat berikut ini berjudul: “Mari Tingkatkan Kualitas dari Ibadah Personal Menuju Kepedulian Sosial”. Untuk mencetak naskah khutbah Jumat ini, silakan klik ikon print berwarna merah di bagian atas atau bawah artikel ini pada tampilan desktop. Semoga bermanfaat.


Khutbah I

الْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ، وَبِعَفْوِهِ تُغْفَرُ الذُّنُوْبُ وَالسَّيِّئَاتُ، وَبِفَضْلِهِ تُقْبَلُ الْعَطَايَا وَالْعِبَادَاتُ. الَّلهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَاتَمِ النَّبِيِّيْنَ، الْمَبْعُوْثِ رَحْمَةً لِّلْعَالَمِيْنَ، الْمُرْسَلِ إِلَى كَافَّةِ الْمَخْلُوْقِيْنَ، وَعَلَى آلِهِ وَذُرِّيَتِهِ الْأَطْهَارِ، وَصَحَابَتِهِ الْأَخْيَارِ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِالْاِبْتِعَادِ مِنَ الْأَشْرَارِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ اْلمُبِيْنُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَـمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صادِقُ الْوَعْدِ اْلأَمِيْنُ. أَمَّا بَعْدُ:

فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِي نَفْسِي وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ، فَمَنِ اتَّبَعَ الْهُدَى وَاتَّقَى فَقَدْ أَفْلَحَ وَفَازَ، إِنَّ اللهَ لَايُخْلِفُ الْمِيْعَادَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ
 


Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah.

Pertama-tama, marilah kita bersyukur kepada Allah atas anugerah iman, Islam, dan kesehatan yang diberikan kepada kita. Dengan nikmat itulah, pada siang hari ini kita dapat melaksanakan salah satu perintah-Nya, yaitu shalat Jumat. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga dan para sahabatnya, yang telah memperjuangkan agama ini hingga kita dapat merasakan cahaya Islam sampai hari ini.


Selain itu, khatib juga berwasiat kepada diri khatib pribadi dan kepada seluruh jamaah sekalian, marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Ta’ala. Takwa berarti menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya sesuai dengan kemampuan kita. Hal ini sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW:


مَا نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ فَاجْتَنِبُوْهُ وَمَا أَمَرْتُكُمْ بِهِ فَأْتُوْا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ


Artinya, “Apa saja yang aku larang kepada kalian, maka jauhilah. Dan apa saja yang aku perintahkan kepada kalian, maka kerjakanlah semampu kalian.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)


Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah.

Agama Islam tidak pernah hadir sebagai ruang spiritual yang terpisah dari realitas sosial. Islam membentuk kesadaran individu, sekaligus membangun kehidupan bersama. Karena itu, apabila agama dipahami hanya sebagai hubungan personal antara hamba dan Tuhan, maka akan lahir kesalehan yang tidak berdampak dan tidak mampu menjawab berbagai persoalan sosial di sekitarnya.


Pada titik inilah kita perlu melakukan refleksi ulang terhadap cara beragama yang terlalu individualistik. Kita perlu bergerak menuju bentuk kesalehan yang lebih luas, yaitu kesalehan sosial. Kesalehan individual tentu sangat penting. Shalat, puasa, dzikir, dan berbagai ibadah ritual lainnya merupakan fondasi utama dalam kehidupan seorang Muslim. Namun, Islam tidak berhenti hanya pada ibadah ritual.


Ada aspek sosial yang juga harus diperhatikan. Berbuat baik kepada orang lain, tidak mengganggu sesama, senang menolong, menjenguk tetangga atau saudara yang sakit, tidak membuat kerusakan dan keonaran, serta peduli terhadap orang-orang lemah adalah sebagian contoh nyata dari kesalehan sosial.


Hal ini dapat kita lihat ketika Al-Qur’an menegaskan bahwa iman tidak cukup hanya berada pada level spiritual, tetapi harus terwujud dalam kepedulian sosial. Allah Ta’ala berfirman dalam surah al-Ma’un:


أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ (1) فَذَلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ (2) وَلَا يَحُضُّ عَلَى طَعَامِ الْمِسْكِينِ (3)


Artinya, “Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak mendorong memberi makan orang miskin.” (QS. Al-Ma’un: 1–3)


Terkait ayat ini, Syekh al-Maraghi di dalam kitab tafsirnya juz 30 halaman 249 menjelaskan bahwa ciri-ciri orang beriman, yang membedakannya dari orang-orang yang mendustakan agama, adalah keadilan, kasih sayang, dan perbuatan baik kepada sesama manusia.


Sebaliknya, ciri-ciri orang yang mendustakan agama, lanjut Syekh al-Maraghi, yang membedakannya dari orang-orang mukmin sejati, adalah sikap meremehkan hak-hak orang lemah dan kurang peduli terhadap orang-orang yang tertimpa penderitaan karena kebutuhan hidup.


Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah.

Kita perlu bertanya secara jujur dan reflektif kepada diri kita masing-masing: apakah ibadah yang kita lakukan telah melahirkan empati? Apakah shalat yang kita tegakkan berdampak pada kejujuran dalam transaksi? Apakah puasa yang kita jalankan membentuk kepekaan terhadap kelaparan orang lain? Apakah dzikir yang kita ucapkan membuat hati kita lebih lembut kepada sesama?


Jika belum, berarti masih ada jarak antara ritual personal dan realitas sosial yang harus kita jembatani. Ibadah kita harus mampu membentuk pribadi yang lebih jujur, lebih peduli, lebih adil, dan lebih bermanfaat bagi orang lain.


Rasulullah SAW sendiri pernah menegaskan pentingnya dimensi sosial dalam iman. Beliau bersabda:


لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ


Artinya, “Tidak sempurna keimanan salah seorang di antara kalian sampai ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.” (HR. Bukhari)


Hadits ini menempatkan empati sebagai salah satu indikator keimanan seseorang. Iman tidak bersifat individual belaka, tetapi selalu terkait dengan orang lain. Standar kesalehan dalam Islam bukan hanya kesucian diri, melainkan juga kemampuan menghadirkan kebaikan bagi sesama.


Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah.

Dalam konteks kehidupan modern, kesalehan sosial menjadi semakin relevan. Ketimpangan ekonomi, melemahnya solidaritas, berkurangnya kepedulian sosial, serta meningkatnya sikap individualistik adalah gejala ketika agama berhenti di ruang personal semata.


Padahal Islam mengajarkan keseimbangan antara ibadah personal dan tanggung jawab sosial. Orang beriman bukan hanya orang yang rajin sujud dan kuat menahan lapar serta dahaga dalam puasa. Orang beriman juga adalah orang yang peduli terhadap keadilan, kemiskinan, pendidikan, dan kemanusiaan.


Karena itu, Ibn Khaldun dalam al-Muqaddimah juz 1 halaman 63 mengutip ungkapan yang menyatakan:


الْإِنْسَانُ مَدَنِيٌّ بِالطَّبْعِ


Artinya, “Manusia secara kodrat merupakan makhluk sosial.”


Ungkapan ini selaras dengan pernyataan yang sudah sangat populer bahwa manusia adalah makhluk sosial. Jika manusia adalah makhluk sosial, maka keberagamaan manusia juga harus berdimensi sosial. Agama yang tidak melahirkan tatanan sosial yang baik akan kehilangan makna transformasional dan misi utamanya, yaitu membentuk manusia yang beradab dan membangun kehidupan yang lebih baik.


Karena itu, sudah saatnya kita memperluas orientasi keberagamaan. Kesalehan tidak boleh berhenti pada simbol-simbol individual belaka. Kesalehan harus hadir dalam bentuk kepedulian terhadap tetangga, kejujuran dalam ekonomi, keadilan dalam mengambil keputusan, serta solidaritas terhadap kelompok lemah. Inilah wujud nyata dari iman yang hidup dan ibadah yang membumi.


Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah.

Kesadaran semacam ini menjadi sangat penting, sebab tidak sedikit orang yang merasa cukup dengan ibadah personal, tetapi mengabaikan tanggung jawab sosial. Padahal Allah menilai manusia bukan hanya dari banyaknya ibadah ritual yang dilakukan secara pribadi, tetapi juga dari sejauh mana ibadah itu melahirkan manfaat bagi orang lain.


Dalam pandangan Islam, kebaikan yang berdampak sosial memiliki nilai yang sangat tinggi. Karena itu, ada kaidah yang berbunyi:


الْمُتَعَدِّي أَفْضَلُ مِنَ الْقَاصِرِ


Artinya, “Amal yang manfaatnya meluas lebih utama daripada amal yang manfaatnya terbatas pada diri sendiri.”


Maka, perubahan paradigma dari kesalehan individual menuju kesalehan sosial bukan sekadar wacana, melainkan kebutuhan moral dan spiritual. Hal ini menjadi salah satu indikator kedewasaan kita dalam beragama. Kita sebagai umat Islam semestinya mampu menghubungkan antara langit dan bumi, antara ibadah dan kemanusiaan, antara ritual personal dan realitas sosial.


Semoga ibadah yang kita lakukan tidak hanya menjadikan kita dekat kepada Allah, tetapi juga menjadikan kita lebih bermanfaat bagi sesama manusia.


بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمِ.


Khutbah II

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا اَمَرَ، اَشْهَدُ اَنْ لَا اِلَهَ اِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ اِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَبِهِ وَ كَفَرَ، وَ اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْخَلَاِئِقَ وَالْبَشَرِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى اَلِهِ وَ اَصْحَابِهِ وَسَلَّمُ تَسْلِيْمًا كَثِيْراً۰ اَمَّابَعْدُ


فَيَاعِبَادَ ﷲ... اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. وَاتَّقُوْا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرٍ.


إِنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، فَقَالَ قَوْلًا كَرِيْمًا: ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠّٰﻪَ ﻭَﻣَﻼَﺋِﻜَﺘَﻪُ ﻳُﺼَﻠُّﻮْﻥَ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲِّ، ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬﺎَ ﺍﻟَّﺬِﻳْﻦَ ﺀَﺍﻣَﻨُﻮْﺍ ﺻَﻠُّﻮْﺍ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠِّﻤُﻮْﺍ ﺗَﺴْﻠِﻴْﻤًﺎ ...ﺍَﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺻَﻞِّ وَسَلِّمْ ﻋَﻠَﻰسَيِّدِنَا ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺁلهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْن


اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْياءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. اللَّهُمَّ أَصْلِحْنَا وَأَصْلِحْ أَحْوَالَنَا، وَأَصْلِحْ مَنْ فِي صَلَاحِهِمْ صَلَاحُنَا وَصَلَاحُ الْمُسْلِمِيْنَ، وَأْهْلِكْ مَنْ فِي هَلَاكِهِمْ صَلاحُنَا وَصَلَاحُ الْمُسْلِمِيْنَ، اللهُمَّ وَحِّدْ صُفُوْفَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَارْزُقْنَا وَإِيَّاهُمْ زِيَادَةَ التَّقْوَى وَالْإِيْمَانِ، اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتَنِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عامَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ اللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ

عبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتاءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشاءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ


Ustadz M. Syarofuddin Firdaus, Dosen Pesantren Luhur Ilmu Hadis Darus-Sunnah Ciputat.