Khutbah

Khutbah Jumat: Pentingnya Mendengarkan Pakar dan Bertanya kepada Ahli

NU Online  ·  Kamis, 1 Oktober 2026 | 04:21 WIB

Mendengarkan orang yang memiliki keahlian atau kepakaran dalam suatu bidang tertentu merupakan bagian penting dalam menjalani kehidupan. Terlebih ketika dihadapkan dengan persoalan yang tidak dipahami, mendengarkan penjelasan dari mereka dapat membantu memahami persoalan yang terjadi sehingga bisa mengambil sikap dan keputusan secara tepat.


Naskah khutbah Jumat berikut ini dengan judul, “Khutbah Jumat: Pentingnya Mendengarkan Pakar dan Bertanya kepada Ahli”. Untuk mencetak naskah khutbah Jumat ini, silakan klik ikon print berwarna merah di atas atau bawah artikel ini (pada tampilan desktop). Semoga bermanfaat!

 


Khutbah I

 

اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِي أَنْزَلَ الْأَحْكَامَ لِإِمْضَاءِ عِلْمِهِ الْقَدِيْمِ، وَأَجْزَلَ الْإِنْعَامَ لِشَاكِرِ فَضْلِهِ الْعَمِيْمِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ الْبَرُّ الرَّحِيْمُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمَبْعُوْثُ بِالدِّيْنِ الْقَوِيْمِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ أَفْضَلَ الصَّلاَةِ وَالتَّسْلِيْمِ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ الْكَرِيْمِ، إِنِّي أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ الْحَكِيْمِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ: وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ إِلَّا رِجَالًا نُوحِي إِلَيْهِمْ فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

 

Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah


 

Marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah swt yang senantiasa melimpahkan nikmat dan kasih sayang-Nya kepada kita semua. Hingga pada hari ini, kita masih diberi kesempatan dan kesehatan untuk memenuhi panggilan-Nya, dalam rangka melaksanakan ibadah shalat Jumat. 

 

Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Nabi Muhammad saw, beserta keluarga, para sahabat, dan seluruh umatnya yang istiqamah mengikuti ajarannya hingga hari kiamat.

 

Selanjutnya, mari kita bersama-sama tingkatkan ketakwaan kepada Allah swt dengan senantiasa menjalankan perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, serta menumbuhkan kesadaran bahwa setiap langkah dalam hidup kita berada dalam pengawasan-Nya. Ingatlah, takwa merupakan bekal terpenting bagi kita semua baik di dunia maupun di akhirat kelak.


Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah

 

Allah swt menciptakan manusia dengan kemampuan yang berbeda-beda. Ada yang diberi keluasan ilmu, pengalaman yang panjang, hingga keahlian dan kepakaran dalam bidang tertentu. Tidak mungkin setiap orang menguasai seluruh ilmu dan memahami persoalan yang ada. Masing-masing memiliki yang menjadi keahlian dan kepakarannya.

 

Karenanya, sikap penting bagi kita semua dalam menjalani hidup adalah kesediaan untuk mendengarkan orang yang memiliki kepakaran. Ketika tidak mengetahui suatu persoalan, kita tidak perlu memaksakan diri untuk memberikan jawaban, tetapi bertanya kepada orang yang pakar dalam persoalan tersebut.


Ketika menghadapi masalah kesehatan misalnya, kita perlu bertanya kepada dokter. Ketika menghadapi persoalan agama, kita bertanya kepada ulama. Ketika menghadapi persoalan hukum, kita bertanya kepada ahli hukum, dan begitu seterusnya. Hal ini sejalan dengan salah satu prinsip dalam Al-Qur’an, Allah swt berfirman:

 


فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

 

Artinya, “Maka, bertanyalah kepada orang-orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43).

 

Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah

 

Ayat yang baru saja kita dengar, pada mulanya diturunkan sebagai jawaban kepada orang-orang yang mempertanyakan mengapa para rasul yang Allah utus adalah manusia. Allah swt kemudian memerintahkan mereka untuk bertanya kepada ahludz-dzikri, yaitu orang-orang yang memiliki pengetahuan tentang kitab Taurat dan Injil sekaligus berita para nabi terdahulu.

 

Namun di dalamnya mengandung pelajaran penting bahwa ketika seseorang tidak mengetahui suatu persoalan, hendaknya bertanya dan mendengarkan orang yang memiliki keahlian dan kepakaran tentangnya. Hal ini sebagaimana disampaikan oleh Imam al-Qurthubi ketika menjelaskan ayat tersebut dalam Tafsir al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, jilid XI, halaman 272, yaitu:

 

مَنْ لَا عِلْمَ لَهُ وَلَا بَصَرَ بِمَعْنَى مَا يَدِيْنُ بِهِ لَا بُدَّ لَهُ مِنْ تَقْلِيْدِ عَالِمِهِ، وَكَذَلِكَ لَمْ يَخْتَلِفِ الْعُلَمَاءُ أَنَّ الْعَامَّةَ لَا يَجُوْزُ لَهَا الْفُتْيَا، لِجَهْلِهَا بِالْمَعَانِي الَّتِي مِنْهَا يَجُوْزُ التَّحْلِيْلُ وَالتَّحْرِيْمُ

 

Artinya, “Orang yang tidak memiliki pengetahuan dan tidak memahami makna dari apa yang menjadi keyakinan agamanya, harus mengikuti orang alim dalam bidang tersebut. Demikian pula, para ulama tidak berbeda pendapat bahwa orang awam tidak boleh berfatwa, karena ketidaktahuannya terhadap makna-makna yang menjadi dasar untuk menetapkan halal dan haram.”

 

Hal ini menunjukkan pentingnya bertanya dan mendengarkan penjelasan dari orang-orang yang memang ahli dan pakar dalam bidang tersebut. Karena itu, harus kita tumbuhkan kesadaran bahwa tidak selamnya kita harus selalu berbicara, tetapi ada waktu untuk bertanya, mendengarkan, dan menerima penjelasan orang lain yang lebih memahami.


Kemudian, pentingnya bertanya dan mendengarkan orang yang pakar juga dapat kita lihat dari sabda Nabi Muhammad saw. Dalam salah satu riwayat dikisahkan, ada seorang sahabat mengalami luka parah di tubuhnya kemudian junub dalam kondisi tersebut. Lalu ia bertanya kepada orang di sekitarnya tentang apakah ia boleh mendapatkan keringanan untuk tayamum. Namun mereka memberikan jawaban keliru dan menyuruhnya mandi.

 

Akibatnya, orang tersebut meninggal dunia. Ketika berita tersebut sampai kepada Rasulullah, beliau bersabda:

 

قَتَلُوهُ قَتَلَهُمُ اللهُ أَلاَّ سَأَلُوا إِذْ لَمْ يَعْلَمُوا؟ فَإِنَّمَا شِفَاءُ الْعِىِّ السُّؤَالُ، إِنَّمَا كَانَ يَكْفِيهِ أَنْ يَتَيَمَّمَ

 

Artinya, “Mereka telah membunuhnya, semoga Allah membalas mereka. Mengapa mereka tidak bertanya ketika tidak Mengetahui? Sesungguhnya obat ketidaktahuan adalah bertanya. Sebenarnya cukuplah baginya bertayamum.” (HR. Abu Daud).

 

Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah

​​​​​​​


Pentingnya mendengarkan pakar sejatinya tidak hanya berlaku dalam persoalan agama, tetapi juga dalam berbagai urusan. Misal ketika sakit, kita membutuhkan dokter. Ketika hendak membangun rumah, kita membutuhkan arsitek yang paham tentang konstruksi.

 

Ketika menghadapi persoalan hukum, kita membutuhkan pakar hukum. Setiap bidang memiliki pakarnya, dan menyerahkan suatu persoalan kepada pakarnya merupakan bentuk kehati-hatian.

 

Tidak hanya itu, seorang guru juga perlu mendengarkan ahli pendidikan agar cara mengajarnya sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Orang tua perlu mendengarkan orang yang memahami perkembangan dan pendidikan anak. Begitu juga dengan pemerintah, kebijakan yang menyangkut kehidupan masyarakat membutuhkan pertimbangan dari orang-orang yang pakar dalam bidang tersebut.

 

Dalam kehidupan bermasyarakat pun kita perlu membiasakan diri untuk tidak terburu-buru dalam mengambil suatu kesimpulan. Ketika informasi belum jelas, bertanyalah kepada orang yang mengetahui dan benar-benar pakar tentangnya. Sebab kesalahan dalam memahami suatu persoalan dapat melahirkan kesalahan yang lebih besar ketika mengambil keputusan.

 

Demikian adanya khutbah Jumat tentang pentingnya mendengarkan para pakar dalam berbagai persoalan. Semoga menjadi khutbah yang membawa berkah dan manfaat bagi kita semua. Amin ya rabbal alamin.


بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ، وَنَفَعَنِيْ وَاِيَاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ جَمِيْعَ أَعْمَالِنَا إِنَّهُ هُوَ الْحَكِيْمُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

Khutbah II

 


اَلْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَااِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، اِلَهٌ لَمْ يَزَلْ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيْلًا. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَحَبِيْبُهُ وَخَلِيْلُهُ، أَكْرَمُ الْأَوَّلِيْنَ وَالْأَخِرِيْنَ، اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ كَانَ لَهُمْ مِنَ التَّابِعِيْنَ، صَلَاةً دَائِمَةً بِدَوَامِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِيْنَ


أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَذَرُوْا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. وَحَافِظُوْا عَلَى الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ وَالصَّوْمِ وَجَمِيْعِ الْمَأْمُوْرَاتِ وَالْوَاجِبَاتِ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ بِنَفْسِهِ. وَثَنَّى بِمَلَائِكَةِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. إِنَّ اللهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً


اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِيْ العَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وِالْأَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَةً، اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

 

عِبَادَ اللهِ، اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِيْ الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرُكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

 

--------
Sunnatullah, pengajar di Pondok Pesantren Al-Hikmah Darussalam, Kokop Bangkalan Jawa Timur.