Aktivis Soroti Sampah sebagai Akar Krisis Ruang Terbuka Biru di Jakarta
NU Online · Senin, 16 Maret 2026 | 13:30 WIB
Ilustrasi: gunungan sampah di Bantargebang yang berasal dari daerah DKI Jakarta. (Foto: NU Online/Jannah)
Rikhul Jannah
Kontributor
Jakarta, NU Online
Jakarta menghadapi persoalan serius terkait keberlanjutan ruang terbuka biru, seperti sungai, danau, dan saluran air. Salah satu akar masalah yang paling nyata adalah sampah yang terus mencemari ekosistem air.
Aktivis Sobat Air Jakarta, Fathurachim Previanto, menegaskan bahwa persoalan sampah menjadi faktor utama yang merusak ruang terbuka biru di Jakarta.
“Permasalahan ruang terbuka biru yang ada di Jakarta adalah sampah. Dengan tidak membuang sampah sembarangan, mulai dari aksi kecil atau sederhana, kita sudah bisa menjaga air dari pencemaran,” ujarnya dalam webinar bertajuk Mencoba Bermesraan Kembali dengan Ruang Terbuka Biru, Ahad (15/3/2026).
Fathurachim juga menyoroti sistem pengelolaan sampah di Jakarta yang dinilai masih belum optimal. Sampah rumah tangga umumnya belum dipilah, sehingga seluruh jenis sampah bercampur dan akhirnya menumpuk di tempat pembuangan akhir.
Menurutnya, kondisi tersebut terlihat jelas di TPA Bantargebang, tempat pembuangan akhir yang menerima berbagai jenis sampah tanpa pemilahan sejak dari sumbernya.
“Di Jakarta sampah masih banyak yang digabung. Warga juga belum mendapat informasi yang cukup tentang mana sampah organik dan nonorganik. Akibatnya, sejak dari rumah sampah sudah bercampur dan akhirnya semuanya menumpuk di Bantargebang,” tuturnya.
Ia juga menyoroti masih adanya oknum yang membuang sampah sembarangan, meskipun tempat sampah tidak selalu tersedia di ruang publik.
“Kalau kita tidak menemukan tempat sampah, seharusnya sampah disimpan dulu. Hal sederhana seperti itu bisa membantu mengurangi pencemaran lingkungan,” lanjutnya.
Menurut Fathurachim, langkah paling mendasar yang dapat dilakukan masyarakat adalah memilah sampah sejak dari rumah. Upaya sederhana tersebut dapat menjadi fondasi bagi kebijakan pengelolaan sampah yang lebih luas.
“Minimal warga bisa mulai memilah sampah dari rumah. Dari langkah kecil di tingkat akar rumput itu bisa lahir kebijakan yang lebih besar,” katanya.
Selain mencemari ekosistem air, persoalan sampah juga berkaitan dengan masalah banjir serta krisis air tanah di Jakarta. Ia menegaskan bahwa eksploitasi air tanah yang berlebihan turut menyebabkan penurunan permukaan tanah.
“Di Jakarta penggunaan air tanah seharusnya sudah sangat dibatasi karena banyak yang tercemar. Sementara itu, banyak bangunan tinggi di pusat kota yang masih mengambil air tanah. Hal inilah yang menyebabkan penurunan permukaan tanah sehingga Jakarta semakin rentan tenggelam,” tegasnya.
Terpopuler
1
Kapan Lebaran 2026? Berikut Data Hilal 1 Syawal 1447 H oleh LF PBNU
2
Khutbah Idul Fitri 1447 H: Dari Ramadhan menuju Ketakwaan dan Kepedulian Sosial
3
Khutbah Jumat: Urgensi I’tikaf di Masjid 10 Malam Terakhir Ramadhan
4
Hilal Belum Penuhi Imkanur Rukyah, PBNU Harap Kemenag Konsisten pada Kriteria MABIMS
5
Aktivis KontraS Andrie Yunus Disiram Air Keras Usai Hadiri Siniar
6
Khutbah Jumat: Menggapai Lailatul Qadar di Sepuluh Malam Terakhir Ramadhan
Terkini
Lihat Semua