Nasional

Badan Geologi Ingatkan 12 Provinsi Rawan Longsor, Ini Penjelasan Pakar UGM

NU Online  ·  Kamis, 1 Oktober 2026 | 19:00 WIB

Badan Geologi Ingatkan 12 Provinsi Rawan Longsor, Ini Penjelasan Pakar UGM

Ilustrasi bencana tanah longsor. (Foto: dok BNPB)

Jakarta, NU Online

Badan Geologi mengingatkan potensi gerakan tanah tinggi di 12 provinsi di Indonesia yang dapat memicu bencana tanah longsor. Wilayah tersebut meliputi Aceh, Bengkulu, Sumatera Utara, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Gorontalo, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara, Nusa Tenggara Timur, Papua Barat Daya, Papua Tengah, dan Papua Pegunungan.


Pakar Geologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof Wahyu Wilopo, menjelaskan bahwa suatu wilayah memiliki tingkat kerawanan tertentu sebelum sebuah pemicu menyebabkan material pada lereng bergerak.


Menurutnya, kondisi lereng dipengaruhi sejumlah faktor pengontrol yang menentukan tingkat kerawanan sebelum suatu pemicu terjadi.


“Kalau kita melihat ya, daerah yang rawan longsor itu khususnya Jawa. Jawa, kemudian Sumatera, daerah yang punya topografi sebagai daerah pegunungan,” ujarnya kepada NU Online, Kamis (1/10/2026).


Wahyu mengatakan faktor pengontrol tersebut meliputi kemiringan lereng, kondisi tanah dan batuan, struktur geologi, hidrologi lereng, serta tata guna lahan.


“Yang pertama itu adalah faktor pengontrol. Jadi kondisi alamnya seperti apa. Jadi kondisi alam ini yang mengontrol,” tuturnya.


Ia menjelaskan, kondisi topografi menjadi salah satu faktor yang membuat suatu wilayah lebih rentan terhadap longsor. Lereng yang semakin curam memiliki kestabilan lebih rendah sehingga lebih mudah mengalami pergerakan ketika mendapat pemicu.


Kerentanan tersebut juga dipengaruhi karakteristik tanah dan batuan penyusun lereng. Material yang telah lapuk dan memiliki lapisan tertentu, misalnya, cenderung lebih mudah bergerak dibandingkan batuan yang kompak dan keras.


Struktur geologi, seperti retakan atau bidang lemah pada batuan, juga dapat menjadi jalur yang mempermudah terjadinya runtuhan.


“Kondisi hidrologi turut berpengaruh, terutama ketika sistem drainase tidak mampu mengalirkan air dengan baik sehingga air lebih banyak meresap ke dalam lereng,” tuturnya.


Tiga Pemicu Longsor

Wahyu menyebut terdapat tiga pemicu utama tanah longsor, yakni curah hujan, getaran, dan aktivitas manusia.


“Pemicu di sini itu secara umum adalah ada tiga, yang pertama adalah curah hujan,” katanya.


Menurutnya, curah hujan menjadi salah satu pemicu yang paling sering berkaitan dengan kejadian longsor di Indonesia. Air hujan yang masuk ke dalam lereng dapat meningkatkan kandungan air pada material dan memengaruhi kestabilannya.


“Tidak mengherankan apabila marak kejadian longsor tercatat pada musim hujan,” katanya.


Pemicu kedua adalah gempa bumi. Wahyu menjelaskan, getaran akibat gempa dapat mengganggu material yang sebelumnya telah berada dalam kondisi rentan.


“Contohnya kejadian gempa di Yogyakarta yang pernah memicu longsor di sejumlah lokasi,” ujarnya.


Adapun pemicu ketiga adalah aktivitas manusia. Perubahan pada lereng yang tidak memperhitungkan kondisi kestabilannya dapat meningkatkan risiko pergerakan tanah.


“Pemotongan lereng untuk pembangunan jalan atau kebutuhan lain dapat mengubah kemiringan lereng dan membuat material lebih mudah bergerak,” ucap Wahyu.


Wahyu menegaskan, keberadaan hujan tidak selalu menjadi syarat terjadinya longsor. Selama lereng sudah berada dalam kondisi rentan, pergerakan dapat dipicu oleh guncangan maupun perubahan yang dilakukan manusia.


“Tidak harus ada hujan, tapi tadi ada pemicu tadi, guncangan gempa, kemudian hujan, kemudian akibat manusia yang memotong lereng,” katanya.


Ia juga menjelaskan bahwa pergerakan tanah dapat berlangsung perlahan melalui fenomena rayapan tanah. Fenomena tersebut dapat terjadi tanpa hujan dan dipengaruhi karakteristik lapisan tanah atau batuan tertentu.


“Pergerakan tersebut dapat menjadi lebih cepat ketika memasuki musim hujan dan melambat pada musim kemarau,” ujarnya.