Khutbah

Khutbah Jumat: Bercanda dan Batasannya dalam Islam

NU Online  ·  Kamis, 1 Oktober 2026 | 20:00 WIB

Khutbah Jumat: Bercanda dan Batasannya dalam Islam

Ilustrasi dua sahabat tertawa. Sumber: Canva.

Bercanda merupakan bagian dari warna dalam pergaulan kehidupan manusia di dunia. Islam tidak melarang umatnya untuk tertawa dan bergembira. Namun, ada batas-batas yang harus dijaga agar candaan tidak memunculkan hal-hal negatif. Rasulullah juga telah memberikan teladan bagaimana bercanda dengan tetap disertai kejujuran, adab, dan tidak berlebihan.

 

Naskah khutbah Jumat berikut ini dengan judul, “Khutbah Jumat: Bercanda dan Batasannya dalam Islam”. Untuk mencetak naskah khutbah Jumat ini, silakan klik ikon print berwarna merah di atas atau bawah artikel ini (pada tampilan desktop). Semoga bermanfaat!

 

Khutbah I

اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِي أَنْزَلَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى لِلْمُتَّقِيْنَ، وَجَعَلَ فِيْهِ مَنَاهِجَ الْهِدَايَةِ لِلنَّاسِ أَجْمَعِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ الْمُبِيْنُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الصَّادِقُ الْأَمِيْنُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ فَيَا عِبَادَ الرَّحْمٰنِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ الْمَنَّانِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ: قُلْ بِفَضْلِ اللّٰهِ وَبِرَحْمَتِهٖ فَبِذٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوْا ۗ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُوْنَ ۝٥٨

Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Menjadi kewajiban bagi setiap khatib dalam khutbahnya untuk senantiasa berwasiat takwa. Oleh karena itu mari kita semua menguatkan takwa kita kepada Allah swt yang wujud nyatanya adalah dengan senantiasa menjalankan segala perintahNya dan menjauhi laranganNya.

 

Pada kesempatan kali ini, khatib akan mengangkat sebuah tema berkaitan dengan aktivitas yang sering kita lakukan dalam interaksi sehari-hari dengan orang lain. Jika kita bisa melakukannya dengan baik dan proporsional, maka kehidupan kita akan menjadi bahagia dan ceria. Namun jika kita melakukannya dengan tidak bijak, maka masalah bisa muncul dan menjadikan hubungan kita dengan orang lain akan bermasalah. Hal tersebut adalah tentang bercanda atau bergurau.

 

Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Dalam pergaulan kita sehari-hari, candaan sering menjadi cara untuk mencairkan suasana, menghilangkan ketegangan, mempererat persahabatan, dan membuat komunikasi terasa lebih akrab. Namun sebagai seorang Muslim, kita harus memahami bahwa tidak semua candaan dapat dibenarkan.

 

Ada batas-batas yang harus dijaga agar sesuatu yang awalnya dimaksudkan untuk menghibur tidak berubah menjadi dosa dan menyakiti orang lain. Islam sendiri tidak mengajarkan umatnya untuk selalu berada dalam suasana tegang, serius, dan sedih. Allah swt berfirman dalam Al-Qur’an:

 

قُلْ بِفَضْلِ اللّٰهِ وَبِرَحْمَتِهٖ فَبِذٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوْا ۗ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُوْنَ ۝٥٨

Artinya: “Katakanlah (Nabi Muhammad), “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya itu, hendaklah mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.” (QS Yunus: 58)

 

Rasulullah saw juga pernah bercanda dengan para sahabat dan orang-orang di sekitarnya. Akan tetapi, candaan Rasulullah selalu berada dalam koridor kebenaran dan akhlak mulia.

 

Salah satu contoh adalah sebuah riwayat ketika seorang seseorang meminta bantuan Rasulullah agar dinaikkan ke atas unta. Rasulullah kemudian berkata bahwa beliau akan menaikkannya ke atas “anak unta”. Orang tersebut khawatir anak unta tidak mampu membawanya. Namun Rasulullah kemudian menjelaskan bahwa setiap unta tentu merupakan anak dari seekor unta.

 

Candaan tersebut sederhana, tetapi di dalamnya tidak terdapat kebohongan. Rasulullah memberikan contoh bahwa bercanda boleh dilakukan, selama tetap menjaga kejujuran dan tidak merugikan orang lain. Rasulullah telah mengingatkan:

 

وَيْلٌ لِلَّذِي يُحَدِّثُ فَيَكْذِبُ لِيُضْحِكَ بِهِ الْقَوْمَ، وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ

 

Artinya: “Celaka bagi orang yang berbicara kemudian dia berbohong supaya bisa membuat tertawa masyarakat. Celaka baginya, celaka baginya” (HR Ahmad, Abu Dawud, at-Turmudzi, dan Hakim).

 

Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Saat kita ingin bercanda, kita juga harus mempertimbangkan jangan sampai candaan tersebut berubah menjadi penghinaan. Sering kali seseorang mengatakan, “Saya hanya bercanda,” setelah melontarkan perkataan yang menyakitkan. Padahal, ukuran baik dan buruknya sebuah candaan bukan hanya terletak pada niat orang yang mengucapkannya, tetapi juga harus mempertimbangkan isi perkataan dan dampaknya kepada orang lain.

 

Allah SWT berfirman:

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰ أَن يَكُونُوا خَيْرًا مِّنْهُمْ

 

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, boleh jadi mereka yang diperolok-olokkan lebih baik dari mereka.” (QS. Al-Hujurat: 11).

 

Hal lain yang perlu kita perhatikan adalah tidak berlebih-lebihan dalam bercanda. Rasulullah telah mengingatkan:

 

وَلَا تُكْثِرِ الضَّحِكَ، فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ الْقَلْبَ

 

Artinya: “Janganlah kamu memperbanyak tertawa, karena sesungguhnya banyak tertawa dapat mematikan hati.” (HR. At-Tirmidzi).

 

Oleh karena itu, Maasyiral Muslimin hafidzakumullah,

Sebagai seorang Muslim, kita perlu mengetahui kapan bercanda dan kapan harus serius. Tidak semua keadaan cocok untuk dijadikan bahan candaan. Bahan candaan untuk seseorang tidak mesti cocok untuk orang lain. Oleh karena itu kita harus benar-benar mempertimbangkan apa, dimana, kapan, dan kepada siapa kita melontar candaan-candaan kita.

 

Ada saatnya kita tertawa bersama keluarga dan sahabat, tetapi ada pula saatnya kita harus menunjukkan empati ketika seseorang sedang berduka, menghormati orang yang sedang berbicara, atau bersikap serius ketika berhadapan dengan persoalan penting.

 

Candaan juga tidak boleh menjadikan fisik, kekurangan, keluarga, pekerjaan, status sosial, atau aib seseorang sebagai bahan tertawaan. Apa yang menurut kita lucu belum tentu menyenangkan bagi orang lain. Bisa jadi orang lain tertawa di hadapan kita, tetapi sebenarnya menyimpan luka di dalam hatinya.

 

Di sinilah pentingnya adab dalam bercanda. Kita bukan hanya menanyakan pada diri sendiri sebelum bercanda, “Apakah orang lain tertawa?” tetapi juga bertanya, “Apakah candaan saya membuat orang lain bahagia atau justru terluka?”

 

Maasyiral Muslimin hafidzakumullah,

Apalagi di era media sosial saat ini di mana orang sering bercanda dalam wujud tulisan. Candaan melalui media tulisan sangat mungkin bisa menimbulkan kesalahpahaman. Selain itu, sebuah candaan yang disampaikan secara langsung mungkin hanya didengar beberapa orang. Tetapi candaan yang diunggah ke media sosial dapat dilihat, disimpan, dan disebarkan oleh banyak orang. Karena itu, kehati-hatian dalam bercanda di ruang digital menjadi semakin penting.

 

Bercanda juga jangan sampai menjadi kebiasaan yang membuat kita kehilangan wibawa. Orang yang selalu menjadikan segala sesuatu sebagai bahan lelucon terkadang akan kesulitan ketika harus berbicara serius. Padahal kehidupan membutuhkan keseimbangan. Ada waktunya tersenyum, ada waktunya tertawa, ada waktunya berbicara ringan, tetapi ada pula waktunya diam, berpikir, belajar, bekerja, beribadah, dan bermuhasabah.

 

Pada akhirnya, Islam bukan agama yang melarang kebahagiaan. Islam justru mengajarkan bagaimana kebahagiaan itu dinikmati dengan cara yang benar. Senyum adalah kebaikan, bercanda dapat menjadi sarana mendekatkan hati, dan humor dapat menjadi jalan untuk menghilangkan ketegangan. Tetapi semuanya harus ada batasnya dan dibingkai dengan akhlak yang baik seperti senantiasa menjaga perasaan orang lain.

 

Semoga Allah senantiasa memberikan kehidupan yang bahagia dan damai sehingga kita bisa menjalankan ibadah dengan nikmat dalam hidup ini. Amin.

 

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ، وَنَفَعَنِيْ وَاِيَاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ جَمِيْعَ أَعْمَالِنَا إِنَّهُ هُوَ الْحَكِيْمُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَااِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، اِلَهٌ لَمْ يَزَلْ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيْلًا. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَحَبِيْبُهُ وَخَلِيْلُهُ، أَكْرَمُ الْأَوَّلِيْنَ وَالْأَخِرِيْنَ، اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ كَانَ لَهُمْ مِنَ التَّابِعِيْنَ، صَلَاةً دَائِمَةً بِدَوَامِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِيْنَ

أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَذَرُوْا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. وَحَافِظُوْا عَلَى الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ وَالصَّوْمِ وَجَمِيْعِ الْمَأْمُوْرَاتِ وَالْوَاجِبَاتِ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ بِنَفْسِهِ. وَثَنَّى بِمَلَائِكَةِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. إِنَّ اللهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِيْ العَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وِالْأَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَةً، اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

عِبَادَ اللهِ، اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِيْ الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرُكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

H Muhammad Faizin, Ketua PCNU Pringsewu, Lampung.