Nasional

Cerita Dai 3T di Lubuk Linggau: Dua Bulan Tanpa Hujan, Sumur Mengering, Rp600 Ribu Sehari untuk Air

NU Online  ยท  Kamis, 24 September 2026 | 14:30 WIB

Cerita Dai 3T di Lubuk Linggau: Dua Bulan Tanpa Hujan, Sumur Mengering, Rp600 Ribu Sehari untuk Air

Pesantren Goa Batu, Lubuk Linggau, Sumatra Selatan membeli 8 ribu lieter air setiap hari akibat kemarau panjang (NU Online Institute)

Lubuk Linggau, NU Online

Perjalanan dakwah para Dai Penggerak 3T utusan NU Online Institute tidak selalu mudah. Jarak yang jauh dari Pulau Jawa menuju lokasi penempatan menjadi bagian dari perjalanan panjang yang harus mereka lalui.

 

Namun, tantangan dakwah tidak berhenti setelah perjalanan berakhir dan para dai tiba di tempat penugasan. Tantangan berikutnya justru hadir dari tempat mereka tinggal dan menjalankan pengabdian.

 

Hal itu dirasakan Muhammad Riski Assaifi ketika tiba di Pondok Pesantren Goa Batu, Lubuk Linggau, Sumatra Selatan.

 

Dari Pulau Jawa, Riski bersama para dai lainnya datang membawa amanah untuk menjalankan dakwah di wilayah penempatan. Di Pondok Pesantren Goa Batu, mereka mulai berkenalan dengan lingkungan pesantren dan orang-orang yang akan menjadi bagian dari perjalanan pengabdian mereka.

 

โ€œDi tengah kehangatan ukhuwah yang menyelimuti, kami mulai duduk melingkar, mencoba menyelami cerita dan mengenal satu sama lain lebih dalam,โ€ cerita Riski kepada NU Online, Rabuย (23/9/2026).

 

Bagi Riski, kedatangan di Pondok Pesantren Goa Batu bukan sekadar berpindah tempat. Di sana, ia mulai menemukan pengalaman baru sebagai seorang santri yang menjalankan tugas dakwah jauh dari Pulau Jawa.ย Salah satunya adalah persoalan air.

 

Awalย Septemberย saatย Riskiย tiba, sudah dua bulan hujan tidak turun di wilayah Pondok Pesantren Goa Batu dan masyarakat sekitar. Kemarau panjang membuat sumber air semakin terbatas. Sumur-sumur mulai tidak bisa diandalkan, rumput mengering, dan dedaunan tidak lagi terlihat segar.

 

Kondisi itu menjadi persoalan serius bagi Pondok Pesantren Goa Batu yang dihuni banyak santri. Sebab, air dibutuhkan untuk hampir seluruh aktivitas sehari-hari.ย Para santri harus mencuci pakaian, mencuci sepatu, mencuci tempat makan, dan memenuhi berbagai kebutuhan lainnya. Namun, semua aktivitas tersebut harus dilakukan dengan persediaan air yang sangat terbatas.

 

โ€œPara santri tidak hanya diuji dengan bentuk kemandirian, seperti nyuci baju sendiri, nyuci sepatu sendiri, nyuci tempat makan sendiri, dan banyak lagi kegiatan yang mengutamakan air dalam setiap pengerjaannya, namun di sini para santri juga diuji untuk bisa melakukan semuanya dengan jumlah air yang sangat minimum,โ€ ujar Riski.

 

Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, pengasuh Pondok Pesantren Goa Batu, Gus Ahmadi, harus mendatangkan air dari luar.ย Kebutuhan air mencapai sekitar 8.000 liter setiap hari. Untuk setiap 4.000 liter air, pesantren harus mengeluarkan biaya Rp300 ribu.ย Dengan kebutuhan 8.000 liter per hari, biaya yang harus dikeluarkan mencapai sekitar Rp600 ribu sehari hanya untuk memenuhi kebutuhan air para santri.

 

Riskiย menuturkan, kondisi tersebut menjadi pengalaman yang menyentuh. Sebagai orang yang datang dari Pulau Jawa, ia terbiasa dengan kondisi yang berbeda. Di tempat penugasan, kebutuhan air yang sebelumnya terasa sederhana justru menjadi sesuatu yang harus diperjuangkan.

 

โ€œUjian ini sangat menyentuh hati kami, sebagai pendatang yang baru, dengan membawa pengalaman yang serba kecukupan di Pulau Jawa sana. Keterbatasan di Pondok Goa Batu mengetuk pintu hati kami, dengan latar belakang yang sama-sama seorang santri,โ€ tuturnya.

 

Pengalaman itu membuat Riski melihat bahwa perjalanan dakwah tidak hanya berbicara tentang kegiatan menyampaikan ilmu kepada masyarakat. Tinggal dan berbaur di lokasi penugasan juga membuat para dai belajar dari kehidupan masyarakat dan para santri.

 

Kemarau di Pondok Pesantren Goa Batu menjadi salah satu pelajaran tersebut. โ€œMelalui ujian kemarau ini, kami tersadar bahwa ilmu yang sejati tak melulu didapat dari lembaran kitab kuning, tetapi juga dari ketabahan menghadapi kerasnya alam,โ€ kata Riski.

 

Bagi Riski, keterbatasan air yang dihadapi para santri menjadi bagian dari pengalaman dakwah yang tidak akan mudah dilupakan. Ia melihat bagaimana para santri tetap menjalankan aktivitas sehari-hari meski harus berhemat dengan air yang tersedia.

 

Ia berharap kondisi tersebut justru dapat memperkuat kebersamaan dan kemandirian para santri di Pondok Pesantren Goa Batu. โ€œHarapan terbesar kami, semoga keterbatasan yang ada saat ini justru memompa semangat kebersamaan dan kemandirian yang semakin kokoh untuk para santri di Goa Batu Lubuklinggau,โ€ pungkasnya.

 

Catatan Redaksi:ย Program Dai Penggerak 3T merupakan wujud nyata khidmat jamiyah Nahdlatul Ulama untuk menyebarkan ajaran Islam Ahlussunnah wal Jamaah ke pulau-pulau terluar Indonesia.

 

Program ini didukung oleh dana infak atau donasi yang dihimpun melalui NU Online Super App. Bagi masyarakat yang ingin berkontribusi, dapat mengakses filantropi.nu.or.id/galang-dana/mari-hadirkan-dai-penggerak-di-pelosok-nusantara.