Nasional

Cerita Dai Daerah 3T: Getar Tenggorokan Sabib Menyemai Ayat di Ruang Kelas Berdebu Pulau Jemaja

NU Online  ·  Senin, 7 September 2026 | 06:00 WIB

Cerita Dai Daerah 3T: Getar Tenggorokan Sabib Menyemai Ayat di Ruang Kelas Berdebu Pulau Jemaja

DaI Penggerak 3T mengajar mengaji anak Desa Bukit Padi, , Kecamatan Jemaja Timur, akhir Agustus 2026 (NU Online Institute)

Setiap pukul tiga sore, ketika jalanan berdebu Desa Bukit Padi masih sepi dari langkah kaki anak-anak lain, seorang bocah kelas tiga sekolah dasar sudah duduk rapi menanti gurunya. Namanya Sabib. Allah memberinya ujian berupa tunarungu dan tunawicara—sebuah kondisi yang secara logika akan sangat menyulitkan siapa pun untuk melafalkan ayat suci yang bertumpu pada makhraj dan tajwid.

 

Sabib mengaji di Pesantren Assunniyyah 10, satu-satunya pesantren yang berdiri di Pulau Jemaja. Di sanalah Amirul Mahmud dan Muhammad Iqbal, dua dai yang ditugaskan NU Online Institute melalui program Dai Penggerak 3T, menjalani enam bulan pengabdian. Keduanya bertugas sejak akhir Agustus 2026.

 

Kepulauan Anambas adalah wilayah dengan kultur religius yang kental. Merujuk data Badan Pusat Statistik terbaru, 93,34 persen penduduknya memeluk agama Islam. Namun di Desa Bukit Padi, Kecamatan Jemaja Timur, kesalehan komunal itu ditopang fasilitas yang jauh dari memadai.

 

Gedung pesantren yang ada, jauh dari gambaran madrasah modern di perkotaan: hanya sepetak ruang berukuran sekitar 10x10 meter. Tembok yang terbuat dari batako dibiarkan telanjang dan abu-abu, belum tersentuh plesteran halus. Lantainya berupa adukan semen kasar yang retak di sana-sini, tanpa sekeping pun keramik.

 

Atapnya disusun dari asbes dan seng galvalum yang meresonansikan panas terik pada siang hari. Tidak ada karpet atau ambal empuk. Setiap kali angin laut menderu melintasi perbukitan, debu dan butiran pasir berterbangan bebas mengotori ruang kelas. Teras pesantren yang lebarnya hanya memakan bahu jalan sekitar satu meter disulap menjadi area shalat jamaah lima waktu. Lokasinya sengaja dibuat menyatu dengan pinggir jalan sebagai bentuk syiar dakwah yang lantang kepada masyarakat sekitar.

 

Di tengah-tengah himpitan infrastruktur ini, antusiasme belajar sekitar 50 anak Madrasah Diniyah Awaliyah justru menjadi pemandangan yang kontras. Jam belajar mereka dimulai pukul setengah empat sore hingga waktu ashar, lalu dilanjutkan sebentar setelahnya. Dengan sekitar 50 anak yang hanya ditangani lima ustadz, mereka harus rela mengantre bergiliran.

 

“Saking semangatnya, kalau tidak segera ditangani satu per satu, mereka ini bisa berebut mengaji sampai menangis karena merasa didahului temannya,” tutur Amirul Mahmud sambil tersenyum simpul.

 

Di antara puluhan wajah antusias itulah Sabib berada—dan tekadnya merobohkan kemustahilan. Ia selalu menjadi santri yang paling pertama datang.

 

Metode belajarnya membuat para dai terkesima. Karena ia tidak mampu mendengar dan kesulitan memproduksi artikulasi dengan sempurna, ustadz harus menggunakan teknik sensorik sentuhan.

 

“Kalau anak biasa cukup disimak suaranya. Tapi untuk Sabib, tangan mungilnya harus ditempelkan di tenggorokan saya. Jadi, ketika saya mengucapkan huruf ‘Ba’, ‘Ja’, atau ‘A’, Sabib akan merasakan gelombang getaran di leher saya. Dari getaran itulah ia mencoba meniru pelafalannya,” urai Amirul mengenang semangat pantang menyerah sang bocah.

 

Perjuangan di ruang berdebu ini tak hanya milik anak Madrasah Diniyah Awaliyah. Pesantren juga menampung tiga siswa tingkat SMP. Ketiga remaja ini menimba ilmu agama tanpa satu pun buku cetak, lembar kerja siswa, atau fasilitas pendukung lainnya. Mereka datang bermodal buku tulis dan sebatang pulpen.

 

“Para ustadz mengajarnya terpaksa menggunakan file PDF yang di-scroll dari layar handphone. Anak-anak duduk lesehan membungkuk karena tidak ada meja. Jujur, kami sangat mengharapkan adanya bantuan berupa buku-buku Yanbu’a, kitab dasar seperti Fasholatan atau Mabadi’ Fiqhiyah, proyektor, dan minimal meja agar postur anak-anak tidak rusak karena menunduk ke lantai semen terus-menerus,” harap Amirul.

 

Kisah ini semakin ironis ketika menyentuh urusan operasional keseharian pesantren. Sang pendiri menetapkan biaya sumbangan pembinaan pendidikan dan makan bagi santri mukim sebesar satu juta rupiah per bulan. Realitasnya, angka itu hanya tertera di atas kertas.

 

“Faktanya, mayoritas orang tua santri bekerja sebagai nelayan tradisional dengan penghasilan yang sangat fluktuatif. Banyak santri mukim yang tidak mampu membayar penuh. Ada yang cuma mampu kasih 200 ribu, ada yang 300 ribu, dan sisanya banyak sekali yang tidak ditarik bayaran sepeser pun alias gratis,” ungkap Amirul.

 

Kondisi keuangan yang berdarah-darah ini membuat para dai utusan NU Online Institute kerap merasa rikuh.

 

“Saking sungkannya, kami sering tidak enak hati kalau mau masuk dapur untuk makan. Padahal warga atau ustaz di sini sampai menarik-narik tangan kami memaksa makan. Kami tahu betul, beras dan lauk pauk yang dimasak itu sering kali dibeli dari uang pribadi Ustaz Andi, pimpinan pesantren yang menutupi kekurangan operasional menggunakan gaji bulanannya sebagai guru SD. Keikhlasan beliau luar biasa,” kenangnya lirih.

 

Di ruang sepuluh kali sepuluh meter itu, tanpa keramik, tanpa meja, dan tanpa buku cetak, pendidikan agama tetap berjalan setiap sore. Disangga keikhlasan, dan ditopang tangan-tangan yang sebenarnya juga sedang kekurangan.

 

Catatan Redaksi: Penugasan Dai NU Online Institute di Pulau Jemaja, Anambas, merupakan wujud nyata khidmat jamiyah Nahdlatul Ulama untuk menyebarkan ajaran Islam Ahlussunnah wal Jama’ah ke pulau-pulau terluar Indonesia.

 

Program ini didukung oleh dana infak atau donasi yang dihimpun melalui NU Online Super App. Bagi masyarakat yang ingin berkontribusi, silakan klik https://filantropi.nu.or.id/galang-dana/mari-hadirkan-dai-penggerak-di-pelosok-nusantara.