Nasional

KAI Sumut Sempat Hentikan Operasional Kereta akibat Gempa Magnitudo 6,4 Simalungun

NU Online  ·  Ahad, 16 Agustus 2026 | 09:00 WIB

KAI Sumut Sempat Hentikan Operasional Kereta akibat Gempa Magnitudo 6,4 Simalungun

Titik gempa bumi Simalungun, Sabtu (16/8/2026) (BMKG)

Jakarta, NU Online

Gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 6,4 mengguncang wilayah Simalungun, Sumatra Utara (Sumut), pada Sabtu (15/8/2026) sore. 

 

Merespons kejadian tersebut, KAI Divisi Regional I Sumatra Utara sempat memberlakukan Berhenti Luar Biasa (BLB) untuk seluruh perjalanan kereta api yang tengah beroperasi sebagai langkah keselamatan pascagempa.

 

"Berdasarkan informasi dari BMKG, gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,4 SR terjadi di 10 kilometer tenggara Simalungun pada Sabtu (15/8) pukul 17.54 WIB. Demi alasan keselamatan, KAI Divre I Sumatra Utara sempat memberlakukan Berhenti Luar Biasa (BLB) untuk seluruh perjalanan kereta api yang tengah beroperasi, di mana pun posisi kereta berada," demikian keterangan resmi KAI Divre I Sumatera Utara dikutip NU Online dari akun Instagram resmi @medankeretaapi, Ahad (16/8/2026).

 

Selama penerapan BLB, tim KAI Divre I Sumatra Utara berfokus melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap seluruh prasarana, mulai dari kondisi jalur rel hingga bangunan stasiun, guna memastikan seluruh sarana dan prasarana dalam kondisi aman sebelum jalur kembali dilalui kereta api.

 

Pada pukul 18.50 WIB, dilaporkan bahwa seluruh jalur dan prasarana dinyatakan resmi aman sehingga operasional kereta api dapat dijalankan kembali dengan kecepatan normal. 

 

KAI Divre I Sumatra Utara turut menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh pelanggan atas keterlambatan sejumlah perjalanan kereta api yang terjadi akibat dampak dari penerapan prosedur keselamatan tersebut.

 

"Karena keselamatan Anda adalah prioritas utama kami," demikian pernyataan penutup KAI Divre I Sumatra Utara.

 

Sementara itu gempa bumi memiliki kedalaman 168 kilometer.

 

"Hari Sabtu, 15 Agustus 2026, pukul 17.54.52 WIB, di wilayah Simalungun, Sumatra Utara diguncang gempa bumi tektonik. Hasil analisis BMKG menunjukkan gempa bumi ini memiliki parameter update dengan magnitudo M6,4 pada kedalaman 168 km," demikian keterangan resmi BMKG.

 

Episenter gempa terletak pada koordinat 2,91 derajat Lintang Utara dan 98,93 derajat Bujur Timur, atau tepatnya berlokasi di darat sekitar 11 kilometer arah tenggara Simalungun, Sumatra Utara. BMKG mengategorikan gempa tersebut sebagai gempa bumi menengah akibat aktivitas subduksi lempeng, dengan mekanisme sumber berupa sesar geser turun (oblique normal fault).

 

"Hasil pemodelan tsunami menunjukkan bahwa gempa bumi ini tidak berpotensi tsunami," demikian pernyataan BMKG.

 

Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, menjelaskan bahwa dampak guncangan dirasakan cukup luas di wilayah Sumatra bagian utara. Berdasarkan estimasi peta tingkat guncangan (shakemap), gempa diperkirakan berskala intensitas V MMI di sejumlah wilayah, yang berarti getaran dirasakan hampir semua penduduk dan membuat banyak orang yang sedang beristirahat terbangun.

 

"Dalam peta tingkat guncangan, gempa diestimasikan bersakala intensitas V MMI, yakni dirasakan hampir semua penduduk di Kota Tebingtinggi, Limapuluhkota, dan Kabanjahe," kata Wijayanto.

 

Selain di tiga kota tersebut, Wijayanto merinci intensitas IV MMI turut dirasakan di wilayah Raya, Panombeian Pane, dan Panei di Kabupaten Simalungun, serta Kota Pematangsiantar dan Kota Pangururan. Guncangan bahkan meluas hingga ke Sumatra Barat, khususnya Kota Limapuluh Kota, serta dilaporkan warga di sejumlah daerah yang cukup jauh dari titik episenter, termasuk Medan, Sibolga, dan sejumlah wilayah di Provinsi Aceh, seperti Banda Aceh.

 

Wijayanto memastikan hingga pukul 18.16 WIB, hasil pemantauan BMKG belum menunjukkan adanya aktivitas gempa susulan (aftershock) pascagempa utama tersebut.

 

Dalam konteks yang lebih luas, Badan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) dalam ringkasan tektonik di laman resminya menjelaskan bahwa wilayah Sumatra berada pada zona tumbukan aktif antara Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Sunda. Tumbukan kedua lempeng tersebut membentuk zona subduksi Palung Sunda (Sunda-Java Trench) yang menjadi sumber utama aktivitas gempa bumi dan vulkanisme di Pulau Sumatra, ditambah peran aktivitas Sesar Sumatera dalam membentuk pola kegempaan di kawasan tersebut.

 

USGS mencatat deformasi akibat subduksi di sepanjang zona Sumatra-Andaman telah menghasilkan sejumlah gempa besar dalam sejarah, di antaranya gempa megathrust Aceh pada 2004, gempa Nias pada 2005, rangkaian gempa Mentawai pada 2007, gempa Padang pada 2009, dan gempa Mentawai pada 2010. Catatan tersebut menunjukkan Sumatera merupakan salah satu wilayah dengan aktivitas seismik tertinggi di dunia akibat interaksi antarlempeng tektonik.

 

BMKG menegaskan bahwa informasi awal yang disampaikan mengutamakan kecepatan penyebaran, sehingga hasil pengolahan data masih berpotensi berubah seiring kelengkapan data yang diterima.

 

"Disclaimer: Informasi ini mengutamakan kecepatan, sehingga hasil pengolahan data belum stabil dan bisa berubah seiring kelengkapan data," demikian keterangan BMKG.

 

Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan resmi mengenai dampak kerusakan bangunan maupun korban jiwa akibat gempa tersebut. Namun, BMKG memastikan akan terus memantau aktivitas gempa susulan serta menyampaikan pemutakhiran informasi kepada para pemangku kepentingan dan masyarakat secara berkala.