Nasional

Kekayaan Bukan Alasan untuk Jumawa dan Melupakan Tuhan

NU Online  ·  Jumat, 6 Maret 2026 | 20:00 WIB

Kekayaan Bukan Alasan untuk Jumawa dan Melupakan Tuhan

Ketua PBNU KH Ulil Abshar Abdalla (Gus Ulil) saat mengaji kitab Ihya Ulum al-Din. (Foto: tangkapan layar kanal Youtube Ghazalia College)

Jakarta, NU Online

 

Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ulil Abshar Abdalla (Gus Ulil) mengingatkan bahwa bahayanya istighna atau merasa serba cukup akan kekayaan bukan menjadi alasan untuk menjadi jumawa atau sombong dan merasa tidak lagi membutuhkan Tuhan.

 

Menurutnya, harta memiliki kecenderungan alami untuk menarik pemiliknya pada rasa kuasa yang semu. Hal tersebut ia sampaikan dalam pengajian Ramadhan Kitab IhyaUlum al-Din karya Imam Al-Ghazali yang ditayangkan melalui kanal Youtube Ghazalia College pada Kamis (5/3/2026).

 

“Problem besar dari kekayaan itu adalah munculnya rasa istighna. Saat seseorang merasa punya uang, punya koneksi, dan punya kuasa, ia perlahan-lahan mulai merasa tidak butuh lagi mengetuk pintu langit. Inilah awal dari kesombongan yang menghancurkan spiritualitas,” ucapnya.

 

Gus Ulil menyampaikan bahwa kekayaan sering kali menjadi tirai atau hijab tebal antara manusia dan Tuhan. Berbeda dengan kefakiran yang memposisikan manusia dalam kondisi lemah dan bersandar, kekayaan menuntut kewaspadaan agar tidak terjerumus dalam lubang kesombongan.

 

Ia juga menyampaikan bahwa hisab atau pertanggungjawaban orang kaya di akhirat akan jauh lebih lama dan detail dibandingkan mereka yang hidup dalam kesahajaan. “Harta yang diperoleh akan ditanya dari mana asalnya dan untuk apa dibelanjakan,” tuturnya.

 

Gus Ulil mengatakan bahwa beban yang lebih berat adalah ketika harta tersebut mengubah karakter seseorang menjadi angkuh di hadapan sesama manusia.

 

“Jangan sampai harta yang kita miliki justru membuat kita memandang rendah orang lain. Kemuliaan itu bukan terletak pada apa yang kita genggam, tapi pada apa yang ada di dalam hati. Jika harta memenuhi hati, maka tidak ada lagi ruang untuk kerendahan hati dan ketundukan kepada Allah swt,” ucapnya.

 

Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa Islam tidak melarang penganutnya untuk menjadi kaya. Namun, Gus Ulil menegaskan pada etika kepemilikan harta seharusnya hanya berhenti di tangan sebagai alat ibadah dan sarana sosial, bukan masuk merasuk ke dalam hati hingga menjadi berhala baru.

 

“Silakan menjadi kaya, silakan menguasai ekonomi, tetapi pastikan hati tetap fakir di hadapan Allah swt. Orang yang paling selamat adalah mereka yang meskipun bergelimang fasilitas dunia, batinnya tetap merasa sangat butuh kepada rahmat Tuhan di setiap tarikan napasnya. Jangan sampai dunia yang sebentar ini membuat kita kehilangan orientasi abadi di akhirat,” pungkas Gus Ulil.