Ramadhan

Kultum Ramadhan: Menahan Amarah, Jalan Menuju Akhlak Mulia

NU Online  ·  Sabtu, 7 Maret 2026 | 03:52 WIB

Kultum Ramadhan: Menahan Amarah, Jalan Menuju Akhlak Mulia

Kultum Ramadhan (Freepik)

Bulan suci Ramadhan merupakan waktu yang tepat meningkatkan akhlak mulia. Salah satu akhlak mulia yang diajarkan Rasulullah SAW adalah menahan amarah. Akhlak ini di samping tercatat sebagai akhlak mulia, juga menjadi kunci dari segala kebaikan, dan bahkan termasuk dari ciri khas dari orang-orang bertakwa. 


Allah SWT berfirman dalam Surat Ali 'Imran ayat 133—134:


وَسَارِعُوْٓا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمٰوٰتُ وَالْاَرْضُۙ  اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَۙ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّۤاءِ وَالضَّرَّۤاءِ وَالْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ


Artinya: "Bersegeralah menuju ampunan dari Tuhanmu dan surga (yang) luasnya (seperti) langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa. (Yaitu) orang-orang yang selalu berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang mengendalikan kemurkaannya, dan orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan." (QS. Ali 'Imran [3]: 133—134).


Ada uraian menarik dari Syekh Nawawi Banten saat menafsirkan dua ayat ini. Ia menjelaskan dua akhlak penting yang harus kita lakukan sebagai makhluk sosial, yakni (1) memberi manfaat kepada orang lain, dan (2) menolak mudarat. Mari simak redaksi berikut:


وَاعْلَمْ أَنَّ الْإِنْسَانَ إِلَى الْغَيْرِ إِمَّا أَنْ يَكُونَ بِإِيصَالِ النَّفْعِ إِلَيْهِ أَوْ بِدَفْعِ الضَّرَرِ عَنْهُ، أَمَّا إِيصَالُ النَّفْعِ إِلَيْهِ فَيَدْخُلُ فِيهِ إِنْفَاقُ الْعِلْمِ بِأَنْ يَشْتَغِلَ بِتَعْلِيمِ الْجَاهِلِينَ، وَهَدَايَةِ الضَّالِّينَ، وَيَدْخُلُ فِيهِ إِنْفَاقُ الْمَالِ فِي وُجُوهِ الْخَيْرَاتِ وَالْعِبَادَاتِ


وَأَمَّا دَفْعُ الضَّرَرِ عَنِ الْغَيْرِ فَهُوَ إِمَّا فِي الدُّنْيَا بِأَنْ لَا يَشْتَغِلَ بِمُقَابَلَةِ تِلْكَ الْإِسَاءَةِ بِإِسَاءَةٍ أُخْرَى، فَهَذَا دَاخِلٌ فِي كَظْمِ الْغَيْظ وَأَمَّا فِي الْآخِرَةِ بِأَنْ يُبْرِئَ ذِمَّةَ الْغَيْرِ عَنِ الْمُطَالَبَاتِ، فَهَذَا دَاخِلٌ فِي الْعَفْوِ عَنِ النَّاسِ، فَهَذِهِ الْآيَةُ دَالَّةٌ عَلَى جَمِيعِ جِهَاتِ الْإِحْسَانِ إِلَى الْغَيْرِ


Artinya: "Dan ketahuilah bahwa manusia terhadap orang lain ada dua macam: yaitu dengan memberikan manfaat kepadanya atau dengan menolak bahaya darinya. Adapun memberikan manfaat kepadanya, termasuk di dalamnya menafkahkan ilmu, dengan cara sibuk mengajarkan orang yang tidak tahu, dan memberi petunjuk kepada orang yang tersesat. Termasuk juga di dalamnya menafkahkan harta di jalan kebaikan dan ibadah.


Sementara itu, misal dari penolakan mudarat ada dua kategori, yakni (1) ada yang di dunia (bersifat duniawi), seperti tidak membalas keburukan orang lain dan hal ini masuk dalam orang-orang yang mengendalikan kemurkaan;

Dan (2) bersifat ukhrawi, seperti membebaskan tanggungan orang lain dari tanggung jawabnya, dan hal ini masuk dalam orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain. Ayat ini menunjukkan pada seluruh kebaikan kepada orang lain." (Syekh Nawawi Banten, Marahul Labid li Kasyfi Ma'nal Qur'anil Majid, [Beirut: Darul Kutub Ilmiyyah], jilid 1, hal. 154).


Selain ayat dan penafsiran ini, Rasulullah SAW juga telah mengingat kepada kita untuk menahan diri saat sifat marah. Sebab, menahan amarah merupakan amal yang dapat menjauhkan diri dari kemurkaan Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda: 


وقال له رجل أي شيء أشد على الله قال غضب الله قال فما يبعدني عن غضب الله قال لَا تَغْضَبْ 


Artinya: “Seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW, ‘Dosa apa yang besar di sisi Allah?’ ‘Membuat murka Allah,’ jawab Nabi Muhammad saw. Ia bertanya lagi, ‘Apa yang dapat menjauhkanku dari murka-Nya?’ ‘Tahan marah,’ jawab Rasulullah SAW.” (HR Imam Ahmad).


Tidak hanya itu, menahan amarah merupakan bagian dari sifat kuat yang dimiliki seseorang, sebagaimana dijelaskan langsung oleh Rasulullah SAW. 

Sebagaimana hadits berikut: 


وقال ابن مسعود قال النبي صلى الله عليه و سلم مَا تَعُدُّوْنَ الصُّرْعَةَ فِيْكُمْ قلنا الذي لا تصرعه الرجال قال لَيْسَ ذَلِكَ وَلَكِنَّ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَه عِنْدَ الغَضَبِ


Artinya: “Ibnu Mas’ud ra berkata, Rasulullah SAW bertanya, ‘Apa yang kalian pikirkan tentang tarung?’ kami menjawab, ‘Orang yang tidak terkalahkan dikeroyok beberapa orang.’ ‘Bukan itu, tapi petarung sejati ialah orang yang mengendalikan dirinya ketika marah,’ jawab Rasulullah SAW.” (HR Imam Muslim).


Merujuk pada penjelasan Imam Ibnu Hajar al-Haitami saat menjelaskan hadits ini, bahwa suatu ketika Ibnu Mubarak pernah ditanya atau diminta satu kalimat tapi menghimpun semua akhlak baik. Seperti apa jawabannya? Ia menjawab, “meninggalkan kemurkaan”.


وَقِيلَ لِابْنِ الْمُبَارَكِ: اجْمَعْ لَنَا حُسْنَ الْخُلُقِ فِي كَلِمَةٍ، قَالَ: تَرْكُ الْغَضَبِ


Artinya: “Dikatakan kepada Ibnu Mubarak, ‘himpunlah bagi kita kebaikan akhlak dalam satu kalimat! Ia menjawab, 'Meninggalkan kemurkaan." (Imam Ibnu Hajar al-Haitami, Al-Fathul Mubin bi Syarhil Arbain, [Arab Saudi: Darul Minhaj, 2008], hal. 330).


Lebih jauh lagi, kata Imam Ibnu Hajar al-Haitami, hadits di muka merupakan kalimat yang singkat dan padat tapi mengandung segala bentuk kebaikan yang menolak segala macam keburukan. Ia menyimpulkan: 


فثبت أنه لا مشارك لنبينا صلى اللَّه عليه وسلم في هذه الكلمة المتضمنة لمجامع الخير، والمانعة عن قبائح الشر


Artinya: “Maka bisa ditetapkan bahwa tidak ada yang bisa menandingi kalimat (hadits di atas) yang memuat segala kebaikan dan menolak segala keburukan.” (Imam Ibnu Hajar al-Haitami/hal. 331).


Bagi yang bertanya, apa alasannya sehingga begitu istimewa menahan amarah? Jawabannya sederhana, karena akibat dari kemudaratan sifat marah, perlawanan sifat menahan amarah, sangat besar baik dari sisi duniawi atau ukhrawi, sebagaimana pemaparan Imam Ibnu Hajar al-Haitami. (hal. 331).


Walhasil, menahan amarah merupakan akhlak mulia yang menjadi kunci untuk membuka akhlak-akhlak mulia lainnya, serta bisa menjadi langkah preventif terjadinya keburukan yang diakibatkan kemarahan. 


Mari latih diri kita di bulan yang suci ini untuk menjadi manusia yang bisa menahan amarah. Dengan harapan, akhlak mulia ini menjadi karakter pada diri kita hingga akhirnya kita tercatat sebagai orang-orang yang disebut dalam Al-Qur'an sebagai orang yang bertakwa dan sekaligus berhak mendapatkan keistimewaan sebagaimana dijelaskan dalam sabda Rasulullah SAW. Wallahu a'lam!

------------

Syifaul Qulub Amin, Alumnus PP Nurul Cholil Bangkalan dan Pengajar di PP Putri Al-Masyhuriyah Kebonan Bangkalan.