Nasional

Krisis Air Mengintai di Puncak Kemarau, Akademisi UGM Soroti Lemahnya Kesiapan Infrastruktur

NU Online  ·  Ahad, 19 Juli 2026 | 06:00 WIB

Krisis Air Mengintai di Puncak Kemarau, Akademisi UGM Soroti Lemahnya Kesiapan Infrastruktur

Tangkapan layar zoom Dosen Teknik Geologi UGM Dwikorita Karnawati dalam Webinar Kesiapsiagaan Dampak El Nino: Memperkuat Ketahanan Kesehatan, Pangan, dan Masyarakat Indonesia, Sabtu (18/7/2026). (

Jakarta, NU Online

Ancaman krisis air diperkirakan semakin meningkat seiring menguatnya fenomena El Nino yang bertepatan dengan puncak musim kemarau pada Juli hingga September. Dosen Teknik Geologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Dwikorita Karnawati menilai bahwa kondisi tersebut tidak hanya memicu kekeringan berkepanjangan, tetapi juga mengancam ketahanan pangan akibat meningkatnya risiko gagal panen.

 

Ia mengatakan walaupun pada Bulan Juli masih terdapat sejumlah wilayah yang diguyur hujan, kondisi tersebut harus dimanfaatkan sebagai kesempatan terakhir untuk memperkuat cadangan air sebelum musim kemarau mencapai puncaknya.


“Bulan Juli masih ada beberapa wilayah yang masih mengalami hujan, ini waktunya untuk mengupayakan pemanenan air hujan saat hujan masih turun,” ujarnya dalam Webinar Kesiapsiagaan Dampak El Nino: Memperkuat Ketahanan Kesehatan, Pangan, dan Masyarakat Indonesia, Sabtu (18/7/2026).

 

Dwikorita menilai, kesiapan infrastruktur air menjadi faktor penting dalam menghadapi ancaman kekeringan. Ia berharap embung-embung yang dibangun di berbagai daerah telah terisi saat musim hujan lalu. Selain itu, setiap rumah juga perlu memiliki tandon penampung air sebagai cadangan ketika pasokan mulai berkurang.


“Perlu dipersiapkan juga pompa-pompa air jangan sampai macet, kalau macet jadi kesulitan mendapatkan air, apalagi di musim kemarau ini. Ini mohon siap-siap mengajak pemeliharaan pompa-pompa,” katanya.

 

Ia juga menyoroti persoalan distribusi air yang masih kerap menjadi kendala di sejumlah wilayah. Menurutnya, tidak sedikit daerah pertanian mengalami kekeringan meski bendungan masih menyimpan cadangan air dalam jumlah besar.

 

“Kadang sistem irigasi tidak berjalan normal. Di bendung itu ada air, tapi beberapa kali terjadi kekeringan, karena air di bendungan tidak di keluarkan untuk pertanian, pahadal lahan pertanian sudah mengalami kekeringan,” ungkapnya.

 

Dwikorita menekankan bahwa ancaman krisis air tidak semata dipengaruhi oleh faktor cuaca, tetapi juga oleh lemahnya kesiapan infrastruktur, pemeliharaan sarana air, serta pengelolaan sistem irigasi.

 

Ia menambahkan, tanpa perbaikan infrastruktur, maka ketersediaan air yang sebenarnya masih ada tidak dapat dimanfaatkan secara optimal untuk memenuhi kebutuhan masyarakat maupun sektor pertanian.


Lebih lanjut, Dwikorita menekankan pentingnya keterlibatan perguruan tinggi dalam membangun ketahanan masyarakat menghadapi perubahan iklim. “Maka peran perguruan tinggi dan mahasiswanya adalah perlu melakukan upaya edukasi masyarakat di terasi demi meningkatkan kesadaran untuk menjaga lingkungan, pemanen air hujan bila hujan masih turun,” katanya.


Senada, Dosen Teknik Geodesi UGM Leni Sophia Heliani menegaskan bahwa mahasiswa perlu hadir di tengah masyarakat untuk memberikan edukasi mengenai dampak perubahan iklim yang semakin nyata.

 

“Peran mahasiswa dalam menjawab isu global ketika berada di lingkungan masyarakat adalah mengedukasi mengenai perubahan musim, kenaikan suhu, cuaca ekstrem, hingga pada kesehatan. Pendidikan iklim ini harus menghasilkan perubahan perilaku masyarakat untuk menghemat air, bersih lingkungan, siap bencana, dan menjaga ekosistem,” ujarnya.